Bad Pregnancy

Bad Pregnancy
Debat



...~Happy Reading~...


"Yah, berarti kakak gak jadi kerja dong? Clau gak jadi ke rumah Ayah!" Claudia memanyunkan bibir lalu menghela napas nya dengan sedikit berat.


Padahal, ia sudah membuat janji dengan sang bunda bahwa ia akan segera ke sana. Namun, apa boleh buat jika Kiano sendiri tidak jadi bekerja. Otomatis, Claudia juga tidak mungkin akan meninggalkan Kiano sendirian di rumah.


"Kalau kamu mau pergi, gapapa pergi saja!" ucap Kiano dengan mata terpejam di atas tempat tidur.


"Gak ah, kakak aja lagi teler begini, ya kali Clau tinggal. Nanti Clau jadi istri durhaka, nanti kakak kutuk Clau jadi pohon pisang, kan bahaya!" balas wanita itu mendengus.


"Kakak.. " panggil Claudia langsung mengerutkan dahi nya.


"Hemmm.. " jawab Kiano lemas.


"Perasaan Clau gak enak, kenapa ya? Kaya ada sesuatu yang mengganjal," gumam wanita itu pelan seraya berfikir keras.


Ya, wanita itu merasa seperti melupakan sesuatu. Entah apa yang ia lupakan, namun rasanya sungguh mengganjal, membuat hati nya terasa berbeda dari biasanya.


Kiano pun langsung membuka mata nya, ia mulai mencium aroma yang juga tidak beres, hingga tiba tiba—


"Astaga kompor!" pekik Claudia. Ia segera bangkit dan berlari keluar kamar, menuruni tangga dengan cepat dan kembali ke dapur.


Dan benar saja, saat ia kembali ia sudah menemukan dapur nya berkepulan asap.


"Kakakkk kebakaran! kebakaran!" teriak Claudia begitu heboh, ia berusaha menyiram kompor itu dengan air, namun bukan mati justru api itu semakin besar hingga membuat nya semakin ketakutan.


Tak berapa lama, Kiano datang dan menyusul Claudia. Ia segera memadamkan api dengan alat pemadam, tak lupa ia juga mematikan kompor nya.


Tentu saja, mendengar pertanyaan konyol dari istrinya membuat Kiano langsung menatap datar pada sosok Claudia yang tengah berdiri bersandar pada meja dapur.


"Kamu masak apa?" tanya Kiano dengan suara berat.


"Kakak gak buatin Clau sarapan. Bibi kan juga hari ini libur, makanya Clau mau buat roti bakar pakai telur ceplok. Lah kok malah api nya kebablasan gitu," ungkap Claudia berusaha menjelaskan.


"Bukan apinya yang ke bablasan. tapi kamu yang kelewatan, kamu ceroboh, teledor. Kenapa ninggalin kompor yang masih nyala!" omel Kiano di sertai helaan napas kasar.


"Ya lagian kakak tadi banting barang di atas. Clau kira kan suara setan, makanya Clau mau mastiin itu beneran setan atau bukan!" balas Claudia masih tidak mau mengakui kesalahan nya.


"Mana ada setan sih Clau!" ucap Kiano sedikit menggeram menahan kesal.


"Kalau gak ada setan, Clau gak mungkin hamil saat ini!" jawab Claudia lagi namun kini dengan wajah datar nya.


Kiano terdiam. Ia tidak akan bisa menang saat berdebat dengan Claudia. Karena wanitanya itu akan selalu memiliki jawaban yang akan membuat nya kehabisan kata kata.


"Lagian kakak tadi ngapain sih pakai banting banting barang! Mana gak ada bilang juga kalau libur kerja, kan jadi bikin orang overthinking!" cetus Claudia memberengut dan kini justru malah menyalahkan Kiano.


Padahal, sudah sangat jelas bahwa kesalahan ada pada wanita itu yang meninggalkan kompor menyala terlalu lama.


"Barang nya jatuh, bukan di banting?" ralat Kiano memejamkan mata nya. Tangan nya terulur untuk memijit pelipis nya.


"Ya sama aja, intinya barang itu rusak karena kebentur benda keras! Pokoknya kakak yang salah! Besok besok, kalau sakit atau gak kerja, kasih kabar ke istri jangan ke cewek lain! Biar istri gak ngira lagi di kerjai sama jin iprit!" ucap Claudia dengan tiba tiba lalu ia pergi meninggalkan Kiano begitu saja di dapur dengan wajah terkejut bingung.


...~To be continue......