
...~Happy Reading~...
“Hemm, No bolehkah aku menumpang ke toilet sebentar?” tanya Fayya kembali memecah keheningan.
“Hah,” Kiano langsung menatap bingung pada Fayya, namun hanya sedetik kemudian ia tersadar, “Ah iya silahkan. A—da di sana, kamu sudah tahu kan.” Imbuh nya dengan canggung.
Fayya tersenyum, membuat Kiano semakin merasa bingung dan bimbang, “Terimakasih,” ucap gadis itu lalu segera bangkit dan menuju kamar mandi.
Seperginya Fayya, Kiano langsung menghela napas sambil mengusap wajah nya dengan kasar. Ia sudah mencoba untuk menahan diri, untuk tetap fokus kepada istrinya, ia ingin membuka lembaran baru dengan Claudia, namun mengapa saat dirinya ingin memulai ia kembali di hadapkan oleh cobaan seperti ini? Batin Kiano begitu frustasi.
Brakkk!
“Auuuwhhhh!” pekik Fayya dari dalam toilet hingga membuat lamunan Kiano langsung tersadar.
“Fay, kamu kenapa?’ tanya Kiano langsung beranjak dari tempat duduk dan menghampiri Fayya di toilet.
Tok .. Tok ... Tok ..
“Fay, Fayya. Are you oke?” tanya Kiano lagi seraya mengetuk pintu nya.
“Oke! A—aku gapapa No, auuwhh shhh!” jawab Fayya dari dalam dengan di sertai sebuah rintihan pelan.
“Kenapa?” tanya Kiano karena merasa kurang yakin.
“Kaki ku kesleo, hak sepatu nya lepas!” jawab Fayya membuat Kiano langsung menghela napas nya dengan berat.
“Buka pintu nya Fay.”
“Sebentar, tunggu sebentar No. Aku belum bisa bangun, masih sakit banget, shhht!”
Hening, untuk beberapa saat keduanya terdiam, hingga setelah beberapa saat, Kiano mulai mendengar suara isak tangis dari dalam toilet nya.
“S—sebentar No, sebentar aja hiks hiks hiks. Biar aku tenang sebentar dulu, plis hiks hiks. Ini sakit!” gumam Fayya semain terisak di dalam sana.
Karena merasa khawatir, mengira bahwa luka yang di alami Fayya cukup parah, akhirnya Kiano memutuskan untuk mendobrak pintu tersebut. Ia sudah cukup lama mengenal Fayya, dan gadis itu sangat jarang menangis, kecuali memang benar benar merasa sangat sakit.
Namun, saat Fayya kecelakaan motor dengan nya kala itu, ia juga tidak pernah melihat gadis itu menangis, padahal saat itu kaki nya juga kesleo dan memar, bahkan tangan nya cidera, ia tidak pernah menangis.
Mengapa kini yang hanya kesleo di kamar mandi, membuat nya langsung menangis terisak seperti itu? Batin Kiano.
“Fay, aku dobrak ya pintu nya. Kamu dimana? Bisa agak jauhan dari pintu?” tanya Kiano lagi dari balik pintu.
“Aku gak di dekat pintu No, dobrak aja hiks hiks.” Jawab Fayya sedikit berteriak dengan suara serak karena menangis.
Brakkk!
Hanya dengan satu kali dobrakan saja, pintu itu sudah terbuka. Kiano bisa melihat seorang gadis yang tengah terduduk di lantai dekat closed dengan berderai air mata. Namun saat melihat keberadaannya, Fayya langsung mengusap air mata nya.
“Aku bantu?” tawar Kiano namun justru membuat tangisan Fayya semakin terdengar pilu.
Fayya menggigit bibir bawah nya, matanya masih menatap Kiano dengan begitu intens, dadanya kian terasa sangat sesak setiap kali ia menatap wajah Kiano. Bayangan demi bayangan masa lalu yang ia lalui, serta ucapan terakhir yang ia dengar saat pertemuan mereka di bali seolah selalu terngiang di kepala Fayya.
“Sakit No, hiks hiks. Sakit sekali,” gumam Fayya menundukkan kepala nya dan semakin terisak.
“Aku bantu ke ruangan dokter Hans!” ucap Kiano dan hendak mengangkat tubuh Fayya.
Fayya mendongakkan kepala nya, saat dengan perlahan Kiano mulai menghampiri nya dan duduk tepat di depan nya, bersiap hendak membantu nya atau bahkan menggendong nya pergi ke dokter Hans yang tak lain adalah spesialis ortopedi.
“Aku kangen sama kamu, No,’ gumam Fayya begitu lirih namun mash mampu di dengar oleh Kiano, lantaran jarak mereka yang sangat dekat.
...~To be continue .......