
...~Happy Reading~...
Hingga sore hari, Kiano masih berada di atas tempat tidur nya. Laki laki itu benar benar tubuh nya sangat lemas tak bertenaga. Bahkan untuk ke toilet pun ia harus mengumpulkan tenaga ekstra, atau kadang di bantu oleh Claudia.
“Kakak itu kenapa sih sebenernya? Kakak gak ada yang di sembunyiin dari Clau kan?” tanya wanita hamil itu langsung mengerutkan dahi nya menatap Kiano yang sudah sangat lemas dan pucat.
“Apa sih? Gak ada apa apa, menurut kamu, aku tahu kenapa bisa begini?” jawab Kiano sedikit kesal, sambil memijit pelipis nya yang kian terasa pusing.
“Clau anter ke rumah sakit aja gimana? Clau itu khawatir, jangan jangan kakak ada penyakit aneh atau tau tau nanti penyakit kakak parah. Oh nooo!” pekik nya langsung menutup mulut nya, “Clau gak mau jadi jandaaa!”
“Astaga Claudiiii!” Kiano menggeram seraya mengepalkan tangan nya erat, berusaha agar dirinya tidak emosi atau sampai membentak istri nya.
Seandainya, yang bicara begitu adalah adik nya sendiri, Kaila. Mungkin ia akan langsung menyumpal mulut itu dengan bantal atau bahkan melempar wanita itu dari atas balkon. Bisa bisa nya, menyumpahi dirinya berpenyakitan dan seolah akan segera mati.
“Aku sehat! Kamu gak akan jadi janda, tenang aja!” imbuh Kiano langsung menghela napasnya.
“Tapi wajah kakak pucet banget loh. Beneran Clau takut, ayo ke rumah sakit,” tutur wanita itu mendekat ke arah sang suami, dan kini ia duduk tepat di depan Kiano yang sedang menyandarkan badan di head board tempat tidur.
Kiano menarik napasnya dengan begitu dalam, ia menghirup aroma parfum yang di kenakan oleh Claudia, dan entah mengapa tiba tiba rasa pusing dan mules nya sedikit berkurang.
Untuk sesaat, Kiano terdiam. Ia kembali menatap istrinya dengan tatapan yang sulit di artikan, hingga membuat Claudia sendiri ikut bingung dan langsung mengerutkan dahi nya,
Gugup, itulah yang ia rasakan saat mendapatkan tatapan seperti itu dari Kiano. Jantung nya berpacu dengan begitu cepat, bahkan rasanya ia merasa sangat sulit hanya untuk menelan saliva.
“Kemarilah,” ujar Kiano lembut, ia menarik Claudia ke dalam pelukan nya, namun beberapa detik kemudian ia langsung mengerutkan dahi saat merasakan detak jantung istrinya yang begitu cepat.
Dada keduanya saling bersentuhan, sehingga Kiano bisa ikut merasakan debaran jantung yang di rasakan oleh Claudia. Tentu saja, hal itu membuat jantung nya ikut berdetak cepat seolah getaran jantung Claudia menular kepadanya.
“Kakak juga deg degan?” tanya Claudia dengan polos, wanita itu langsung melepaskan diri dari pelukan Kiano.
Matanya kembali menatap suaminya dengan begitu intens, “Kakak merasakan apa yang Clau rasakan?” tanya nya lagi, namun kini Kiano masih juga terdiam.
Ia ingin mengatakan iya, atau sekedar menganggukkan kepala saja. Namun, rasanya sangat sulit, ia seolah enggan mengakui bahwa ia juga merasakan apa yang di rasakan oleh istri nya.
Ya, Kiano sedang berperang melawan batin nya. Ia menolak untuk mengaku perasaan nya, bahwa ia sudah merasa nyaman dan mungkin menyayangi Claudia. Hati jauh di dalam lubuk hatinya, ia masih berharap pada Fayya.
Salah? Egois? Ia tahu bahwa perasaan nya salah dan ia sangat egois. Namun, bagaimana jika itulah yang ia rasakan dan pikirkan. Ia memang tidak bisa memberikan tubuh nya untuk Fayya. Namun, ia ingin membuktikan bahwa hatinya memang untuk gadis itu, walaupun dirinya sudah terikat pernikahan seumur hidup dengan Claudia.
...~To be continue ......