
...~Happy Reading~...
“Clau, kamu mau kemana?” tanya seorang laki laki paruh baya yang mengenakan pakaian dokter, menghentikan langkah Claudia saat hendak keluar dari rumah sakit.
“Om Abas,” sapa Claudia tersenyum dan menghampiri om dari suaminya tersebut.
“Katanya mau ketemu Kiano? Orang nya ada di dalem kan? Kok cepet banget keluar nya?” tanya om Bastian mengernyitkan dahi nya dengan bingung.
Belum lama Bastian bertemu dengan Claudia saat hendak memasuki lift. Bahkan, Bastian sendiri yang mengantarkan Claudia untuk masuk ke dalam ruangan Kiano baru ia tinggal pergi.
Bastian harus menemui orang tua pasien nya, akan tetapi baru sekitar lima belas menit dia mengantarkan Claudia, kini wanita itu sudah hendak pergi meninggalkan rumah sakit.
“Ada kok. Kakak ada di ruangan nya, tapi lagi ada tamu. Jadi, Clau gak mau ganggu, mau pulang aja,” kata Claudia sedikit memanyunkan bibir nya.
“Tamu?” beo om Bastian nampak berfikir, “Siapa? Dia baru saja selesai operasi, gak mungkin ada tamu lagi. Harusnya sih dia istirahat.”
“Oh mungkin si Vito atau Victor, kenapa gak—“
“Tamu nya perempuan Om, bukan kak Vito apalagi kak Victor,” jawab Claudia dengan cepat.
Raut wajah nya langsung berubah, dari yang ceria kini menjadi sedikit murung dan di tekuk. Vito atau Victor, meskipun Claudia tidak mengenal mereka, namun ia sudah melihat foto mereka ada di album foto yang ada di perpustakaan pribadi milik Kiano. Jadilah Claudia tahu wajah mereka, sedangkan tamu yang saat ini sedang bersama suaminya bukanlah mereka, dan sudah pasti tidak mungkin mereka.
Claudia tahu itu siapa, akan tetapi ia menolak untuk tahu. Ia lebih memilih diam dan langsung pergi karena tidak ingin mengganggu.
“Ah mungkin itu –“ om Kiano terus berusaha untuk menenangkan Claudia, meskipun sendirinya juga bingung siapa tamu perempuan yang sedang di ruangan Kiano.
“Sudahlah Om, Claudi gak mau bahas. Apakah om Abas udah makan siang? Mau makan sama Claudi gak?” tanya Claudia langsung mengalihkan pembicaraan.
Karena tidak tega melihat istri dari keponakan nya, akhirnya Bastian menganggukkan kepala dan mengajak Claudia untuk ke kantin. Kedua anak Bastian perempuan, dan melihat Claudia, ia merasa seperti melihat kedua putri nya, Faiz dan Erish. Maka dari itu Bastian merasa kasihan dan tidak tega setiap kali melihat Claudia memasang wajah sedihnya, ia pasti akan teringat dengan sosok kedua putri nya.
Sementara itu, di tempat yang berbeda namun masih di gedung yang sama. Kiano melepaskan pelukan nya dari Fayya. Ia segera mengangkat tubuh itu dan membawa nya keluar ruangan menuju ruangan lain.
“No, aku mau pulang aja!” kata Fayya seraya menghapus air matanya.
“Kita ke dokter Hans dulu. Kaki kamu harus di obati, baru setelah itu aku akan mengantarkan kamu pulang!” kata Kiano dengan tegas dan pandangan nya terus menatap lurus ke depan, sedangkan Fayya, gadis itu terus menatap wajah Kiano dar bawah.
“Tapi—“
“Diamlah Fay, jangan terus membuat ku khawatir. Tolong, menurut lah sekali ini saja!” ucap Kiano tanpa menatap wajah Fayya yang ada di gendongan nya.
Air matanya semakin luruh membasahi wajah nya setiap kali mengingat perkataan demi perkataan yang di ucapkan oleh Kiano. Rasanya begitu sakit, dan sangat menyesakkan.
Suatu penyesalan yang mungkin akan ia sesali seumur hidup. Dirinya di berikan kesempatan begitu lama, namun selalu menyia nyiakan. Dan kini,saat dirinya sudah yakin dan bersiap untuk melangkah, Tuhan berkehendak lain.
...~To be continue......