Bad Pregnancy

Bad Pregnancy
Drama Claudia



...~Happy Reading~...


Entah apa dan bagaimana cara Kiano untuk mengekspresikan wajah nya saat ini. Terkejut, kesal dan ingin marah, namun tidak bisa. Ia pikir, saat Claudia mengatakan sudah membeli makanan di luar, ia mengira bahwa Claudia membeli makanan di restauran.


Akan tetapi dirinya salah, sangat salah. Entah makanan apa yang di beli oleh istrinya, yang kini sudah berjejer rapi memenuhi meja makan nya.


“Clau ... “


“Bukan Clau yang pengen, tapi anak kakak!” jawab Claudia dengan cepat, ia langsung mendudukkan dirinya di kursi, bersikap seolah cuek dan masih marah kepada Kiano, padahal sebenarnya dalam hati sangat deg deg an dan gugup.


“Kamu beli ini dimana? Kenapa harus sebanyak ini Clau? Astaga!” gumam Kiano yang langsung memijit pelipis nya.


Kepala nya mendadak menjadi sangat pusing serta mual saat melihat begitu banyak makanan aneh di atas meja makan nya.


Ya, aneh, karena Kiano baru melihat bentuk makanan seperti itu. Dengan berbagai macam bentuk dan wujud, akan tetapi sepertinya rasanya hampir sama karena ada beberapa makanan yang berwarna merah, bahkan sangat merah.


“Clau, ingat kamu gak bisa makan pedes!” kata Kiano menegaskan.


“Tapi ini gak pedes, nih!” Claudia langsung mengambil sendok dan memakan sesuap makanan berwarna merah terang tersebut, “Kok aneh ya rasanya?’ imbuh nya sambil terus mengunyah walau penuh keraguan.


“Bagaimana bisa warna semerah itu tapi gak pedes, itu bahaya Clau. Pasti itu dari pewarna yang gak sehat! Enggak, kamu gak boleh makan ini, aku gak mau!” Kiano segera menggeser semua piring makanan itu dari hadapan Claudia, merebut sendok yang di pegang oleh wanita itu hingga membuat nya langsung mendengus dan memanyunkan bibir nya kesal.


“Kakakkk!” rengek nya sambil mendongakkan kepala menatap Kiano.


“Clau, ini gak sehat! Astaga, kamu dapat darimana sih makanan kaya gini!” keluh Kiano begitu frustasi, “Kalau kamu sakit perut gimana? Kalau ada apa apa sama kandungan kamu gimana? Kalau—“ imbuh Kiano namun terhenti saat tiba tiba di potong oleh Claudia.


“Kakak kan dokter, jadi kalau ada apa apa sama Claudi gak usah khawatir. Suaminya Clau itu seorang dokter hebat, jadi—“


“Nikennn!” panggil Kiano setengah berteriak, membuat seorang wanita yang sedang asik melakukan Video Call itu segera mematikan sambungan telfon dan berlari menuju sumber suara.


“Buang semua makanan ini,” ucap Kiano memberikan perintah saat sudah melihat Niken mendekati meja makan.


“Jangannn!” pekik Caudia tidak rela, “Yang beli itu Clau, pake uang Clau sendiri. Kakak jangan sembarangan asal suruh orang buat buang gitu aja. Hargai dong yang jualan, mereka juga pakai modal dan usaha untuk berjualan, kenapa harus membuang makanan sih. Kakak kan tau kalau di luar sana masih banyak yang—“


“Cukup!” Kiano langsung membungkam mulut istrinya dengan tangan agar berhenti mengomel panjang lebar.


"Jadi, ini makanan nya jadi di buang atau tidak?" tanya Niken sedikit ngeri ngeri sedap saat melihat raut wajah Kiano.


“Emmmttt—“ Claudia berusaha melepaskan tangan Kiano dari mulut nya, namun lelaki itu begitu kuat hingga membuat Claudia kalah telak.


‘Sial, beneran gagal kan. Apa gue nangis aja? Oke mari kita coba, Bismilah!’ gumam Claudia dalam hati, lalu sedetik kemudian ia mulai terisak dan menangis dengan mulut tertutup tangan Kiano.


Tentu saja, Kiano dan Niken yang melihat Claudia menangis sampai sesenggukan langsung panik dan dengan cepat laki laki itu segera melepaskan tangan nya di mulut Claudia lalu berjongkok untuk berusaha menenangkan istri nya.


“Hiks hiks, oke kalau emang Claudia gak boleh makan. Tapi makanan itu gak boleh di buang hiks hiks,” ucap Claudia di sela isak tangis nya yang membuat Kiano seketika langsung menelan saliva nya dengan kasar.


Deg!


Entah mengapa, kini perasaan nya langsung berubah tidak enak saat mendengar kalimat terakhir dari istri nya.


Dirinya memang lega karena pada akhirnya Claudia mau mendengarkan ucapan nya yang melarang agar tidak memakan jajanan tersebut, akan tetapi dirinya merasa seperti ada yang tidak beres ketika Claudia mengatakan bahwa makanan itu tidak boleh di buang.


...~To be continue .......