
...~Happy Reading~...
"Clau mau denger kakak panggil begitu lagi, boleh?" tanya Claudia begitu lirih sambil menatap sayu pada suami nya, membuat hati Kiano selalu teriris setiap kali menatap wajah tersebut.
"Tentu, aku akan memanggil kamu seperti itu terus, Sayang.. Akan selalu, jadi plis, kamu harus bertahan dan sembuh." Kiano semakin terisak sambil menggenggam erat tangan Claudia.
"Kakak sudah mencintai Claudi?" tanya nya lagi masih dengan senyuman manis menghiasi wajah nya.
"Sudah, bahkan sangat menyayangi Claudi dan sangat mencintai Claudi. Jadi tolong bertahanlah ya?" ucap Kiano sambil menganggukkan kepala nya di sertai deraian air mata yang terus mengalir deras membasahi wajah nya
Jemari putih lentik yang terlihat begitu lemah, dengan perlahan tergerak untuk menyentuh wajah suami nya. Ia memejamkan matanya sekilas, sambil tangan nya kembali mengusap wajah itu, hingga saat ia merasakan derasnya air mata Kiano yang semakin membasahi wajah nya, membuat wanita itu kembali membuka mata.
"Kakak..."
"Iya Sayang?"
"Claudi bahagia," gumam wanita itu menyunggingkan senyuman manis nya.
"Tentu, Claudi harus bahagia. Jadi tolong bertahanlah oke. Claudi harus kuat dan bisa bertahan, aku mohon!" pinta Kiano yang semakin merasakan sesak di dada nya.
Kini, pada akhirnya ia tahu bagaimana perasaan para keluarga pasien nya yang selama ini ia tangani.
Terlebih saat ia habis melakukan operasi dan ternyata nyawa pasien tidak dapat tertolong. Kiano masih ingat dengan jelas bagaimana tangisan dan amukan keluarga pasien itu yang tidak bisa menerima kenyataan.
Dan kini, dirinya lah yang berada di posisi itu. Ia takut dan sangat takut akan kesehatan istrinya
"Kakak tahu, anak kita laki laki. Dia akan tampan seperti kakak, kan?" tanya Claudia sambil mengusap wajah suami nya.
"Claudi juga mau, dia bisa hebat seperti kakak. Meskipun, dia hadir karena sebuah kesalahan, tapi Claudi berharap, dia bisa menjadi anak yang baik, pintar, hebat dan sangat berguna bagi semuanya."
"Dia harus jadi laki laki yang kuat dan hebat seperti kakak, gak boleh cengeng dan lemah seperti Claudi, sshh!" gumam Claudia lirih dan terbata sambil menggigit bibir bawah nya agar jrasa sakit nya sedikit berkurang.
"Kamu wanita hebat, kamu kuat dan tidak lemah. Dan anak kita akan seperti kamu," balas Kiano semakin erat menggenggam tangan Claudia.
Senyuman kembali merekah di wajah Claudia, walaupun dengan di sertai oleh pejaman mata kuat dan tarikan napas yang cukup panjang.
"Kakak, apapun yang terjadi, Claudi mohon. Berjanjilah bahwa kakak akan menjaga dan melindungi anak kita, kakak akan mempertahankan nya apapun yang terjadi nanti," pinta Claudia dengan napas yang mulai memburu kembali.
"Sayang, jangan bicara seperti itu hiks hiks hiks."
"Claudi mohon kak, bantu Claudi. Kakak seorang dokter, bukan? Kakak tau jelas bagaimana keadaan Claudi, jadi Claudi tidak mau—"
"Gak! Aku tidak tahu, dan aku tidak mau tau!" kata Kiano dengan cepat memotong pembicaraan Claudi, "Yang aku tahu, kamu wanita kuat, sehat dan pintar. Kamu akan bertahan dan selalu bertahan dalam kondisi apapun."
"Kamu wanita kuat, kamu tidak akan pernah menyerah, dan kamu akan bertahan sampai akhir. Kamu— hiks hiks hiks."
Tubuh Kiano langsung luruh ke lantai. Ia duduk berlutut si sebelah brankar Claudia sambil menggenggam jemari tangan itu dengan begitu lembut.
"Pertahankan anak kita... " gumam Claudia pelan dan hampir tak terdengar, hingga pada akhirnya ia kembali memejamkan matanya.
"Clau! Claudi! Claudi bangun! Sayang, bangun Sayang banguuun!" Kiano kembali bangkit dan langsung berteriak membangunkan istrinya.
Merasa tidak mendapatkan respon dari Claudia, saat itu juga Kiano segera berlari keluar ruangan dengan sedikit kasar.
"Kakak yakin sudah menemukan pendonor?" tanya Kiano menatap kakak ipar nya dengan napas yang memburu hebat.
"Ada apa No? Apa terjadi—"
"Kita langsung operasi saat ini juga. Harus!" ucap Kiano dengan begitu tegas namun wajah nya sudah memerah dengan di sertai air mata yang sudah membanjiri pipi nya.
...~To be continue... ...