
...~Happy Reading~...
Euughhh
Seorang wanita yang sudah tertidur begitu lelap beberapa hari belakangan ini, kini akhirnya sudah mulai membuka matanya. Sebuah senyuman tipis langsung terbit di bibir manis nya, saat melihat pemandangan yang sangat membuat nya nyaman dan bahagia.
“A—Ayah .. “ gumam nya begitu lirih, “K—kakak ... “ imbuh nya semakin melebarkan senyuman nya saat melihat dua laki laki hebat yang kini berada di samping kanan dan kiri nya.
“Sayang, kamu sudah sadar!” tanya keduanya bersamaan dan kompak.
Deg!
Seketika itu juga Claudia langsung terdiam. Senyuman nya menghilang saat mendapatkan pertanyaan seperti itu. Tidak ada yang aneh memang jika ayah nya yang bertanya. Hanya saja, suami nya? Kiano memanggil nya Sayang? Benar kah? Sejak kapan? Batin Claudia bingung.
Cklek!
Saat Claudia masih di landa kebingungan, kini tiba tiba matanya teralihkan ke arah pintu yang terbuka, yang mana menampilkan seorang wanita paruh baya yang langsung berjalan cepat ke arah nya.
“Sayang, syukurlah kamu sudah bangun, hiks hiks Bunda khawatir. Kenapa kamu harus menyembunyikan semua ini sendirian, kamu gak anggep Benda kamu ada hem hiks hiks hiks.” Tangis bunda Ella yang langsung memeluk putri nya dengan begitu erat.
“B—Bunda ... S—sakit ... “ rintih Claudia seketika membuat bunda Ella langsung melepaskan pelukan nya.
“Maaf Sayang,” ujar bunda Ella menghapus air matanya.
“Claudi seneng, karena semuanya berkumpul disini,” gumam Claudia tersenyum sambil tangan nya menggenggam tangan suami nya, “Terimakasih karena kakak sudah mau menemani Claudi.”
“Kamu mau minum? Atau mau makan? Atau—“
Untuk sesaat, laki laki itu terdiam. Ia melirik ke arah ayah mertua nya yang sejak tadi sudah menatap nya dengan begitu dingin.
Ya, jangan pikir ayah Stive merelakan begitu saja ketika mendengar kabar menyeramkan dari anak menantu nya. Ayah Stive marah besar dan langsung menyalahkan Kiano atas apa yang menimpa putri nya.
Namun beruntung, karena dokter Farah mau membantu menjelaskan bahwa memang penyakit yang di alami Claudia sudah cukup lama. Claudia memang sengaja menyembunyikan semuanya karena mengira bisa menangani semua nya sendiri.
Selama Claudia masih menjalani kemo dan meminum obat obatan, maka semua akan baik. Hanya saja, ketika Claudia di nyatakan hamil, gadis itu menghentikan semua pengobatan hingga membuat kanker itu semakin ganas dan akhirnya menyebar luas.
Dan setelah mendengar penjelasan dari dokter Farah, ayah Stive pun semakin murka dan menyalahkan Kiano. Karena yang membuat putri nya hamil adalah Kiano, secara tidak langsung Kiano lah yang menghambat pengobatan putri nya.
“Aku disini, dan akan selalu disini menemani kamu, cup,” balas Kiano mengecup tangan Claudia tanpa memperdulikan tatapan tajam dari ayah mertua nya lagi.
“Ayah, Bunda ...Claudi mau bicara sama kakak,” gumam Claudia pelan sambil menatap kedua orang tua nya seolah memberikan kode untuk menyuruh mereka keluar dari ruangan itu.
“Tapi Clau—“
“Bunda dan Ayah akan keluar,” saut bunda Ella dengan cepat menggandeng tangan suami nya, “Kiano, Bunda titip Claudi, kalau ada apa apa, panggil Bunda di luar!” imbuh bunda Ella yang langsung di balas anggukan kepala oleh Kiano.
Bunda Ella segera merangkul lengan suami nya dan mengajak nya keluar ruangan. Meskipun terus menggerutu dan tidak terima, akhirnya Stive pun pasrah dan ikut keluar.
“Aku ayah nya, kenapa dia bisa mengusir ku demi laki laki itu!” gumam ayah Stive mendengus kesal saat sudah berada di luar ruangan.
“Dia suami nya Mas, bisakah tidak usah cemburu? Jika aku yang berada di posisi Claudi dan kamu Kiano, sudah pasti aku juga akan seperti itu. Dan juga, Kiano hanya diam saja, coba jika itu kamu, sudah pasti kamu yang akan langsung mengusir semua orang tanpa perduli orang itu siapa, jadi tolong mengertilah kemauan anak kamu!” omel bunda Ella panjang lebar membuat ayah Stive langsung diam dan memilih untuk duduk membiarkan istrinya terus mengomel di depan pintu.
...~To be continue .......