
...~Happy Reading~...
..."Kadang manusia harus sampai kepada titik kehilangan untuk mengerti arti sebuah kehadiran, kasih sayang, dan kesetiaan. Haruskah Claudi pergi dulu, biar kakak bisa menyadari arti kehadiran Claudi?”...
Kiano langsung mengepalkan tangan nya, saat kembali mengingat kata kata yang pernah di ucapkan oleh Claudia dulu.
Dada nya kian terasa begitu sesak. Rasa penyesalan dalam lubuk hatinya semakin dalam dan mencuat, membuat nya merasa sangat lemah dan hampir terjatuh.
Seorang bayi laki laki yang tengah tertidur di dalam incubator dengan begitu nyenyak. Wajah nya sangat merah, meskipun berat nya kurang dari dua ribu gram, namun bayi itu terlihat begitu tampan dan menggemaskan.
‘Kamu berhasil Sayang, kamu berhasil mengantarkan anak kita, ke dunia ini,’ gumam Kiano begitu lirih dan terisak sambil menyentuh kaca incubator tempat anak nya terlelap.
Setelah meng-adzani anak nya, Kiano pun memutuskan untuk keluar dan kembali ke ruangan Claudia. Ia berfikir bahwa ayah mertuanya mungkin sudah selesai dan dirinya bisa segera menemui istrinya sebentar sebelum akhirnya ia di makamkan nanti.
Cklek!
Bug!
Brukk!
Baru saja, ia membuka pintu, tiba tiba ia sudah mendapatkan sebuah bogeman mentah dari seseorang hingga membuat tubuh nya langsung tersungkur ke lantai.
“Kenapa?’ tanya orang itu yang tak lain dan tak bukan adalah ayah mertua nya sendiri, ya dia adalah ayah Stive.
“Kenapa bukan kamu saja yang mati hah! Kenapa harus putri ku? Kenapa harus dia!” bentak ayah Stive begitu marah dengan mata yang sudah sangat memerah menahan tangisan nya.
“Seharusnya dia tidak bertemu sama kamu, seharusnya kamu tidak perlu hadir di hidup dia. Dan seharusnya—“ Laki laki tua itu sudah tidak sanggup meneruskan kata kata nya, karena merasakan sesak luar biasa di dada nya.
“Suster! Sus! Tolong ayah saya!” teriak Kiano dengan sisa tenaga nya, ia meminta tolong kepada beberapa petugas yang lewat agar bisa di bawa ke ruang penanganan dan di tangani oleh dokter.
“Ayah, maafin Kiano. Maafkan Kiano,” gumam nya pelan sambil terus membantu untuk mendorong brankar ayah mertua nya ke ruang UGD.
Setelah memastikan ayah mertua nya masuk ruang UGD. Kiano kembali pergi dengan langkah tertatih menuju ruangan Claudia, yang dimana ternyata sudah begitu banyak orang, termasuk orang tuanya sendiri.
“Bunda .. Ayah pingsan dan—“
“Kenapa?” tanya Clayton yang langsung menatap adik ipar nya.
“Biarkan saja!” jawab bunda Ella yang masih begitu sibuk menangisi putri nya.
Ia sudah begitu muak dengan tingkah suami nya yang tidak pernah bisa belajar dari kesalahan. Ia sudah lelah, menghadapi sifat suaminya yang selalu menyalahkan orang lain tanpa mau introspeksi diri sendiri.
“Bunda, kita lihat ayah. Beri waktu untuk Kiano dan Claudi,” ujar Clayton mencoba membujuk ibu nya, walau sebenarnya, ia juga sangat berat melepas kepergian adik nya.
Adik kesayangan nya, adik kecil nya yang selalu meminta nya permen setiap kali dirinya pulang dari luar.
Adik nya yang sangat cerewet, manja dan penuh dengan keceriaan. Kini sudah terbujur kaku di atas ranjang rumah sakit.
Sedih, sakit, hancur. Itu sudah pasti, tapi dia juga sadar, bahwa menangis tidak akan menyelesaikan masalah. Ikhlas adalah solusi terbaik. Clayton juga yakin, bahwa Claudia akan nyaman dan tenang di sana.
...~To be continue ......