
...~Happy Reading~...
Cklek!
Mendengar suara pintu yang terbuka, seketika membuat langkah kaki Kiano sedikit mundur, sedangkan yang lain uga ikut langsung mendekat.
“Bagaimana keadaan istri saya?” tanya Kiano dengan begitu cepat.
“Dokter Kiano—“
Seketika itu jga air mata Kiano langsung semakin mengucur deras, tidak perlu menunggu kata kata selanutnya dari dokter yang menangani Claudia, karena hanya melihat raut wajahnya yang seperti itu, ia sudah sangat hafal.
“Gak! Istriku baik baik saja, iya. Dia pasti baik baik saja, iya kan? Jawab!" bentak Kiano, walau sudah tahu dengan hasil nya, namun ingin mendengar dengan lebih jelaslagi, atau ini hanyalah sebatas prank saja.
“Kiano, sabar dulu. Dokter nya belum selesai bicara, tenang Nak,” ujar mama Kiara langsung memeluk anak nya.
“Kami benar benar minta maaf.” Ucapdokter itu terus menundukkan kepala nya karena tidak tega dan merasa bersalah, “Tapi anak kalian sudah lahir dan selamat, berjenis kelamin laki laki dan—“
“Saya tidak butuh bayi itu!” ucap seseorang dari belakang dengan suara yang sudah sangat serak sambil mengepalkan tangan nya kuat.
Tidak mau menunggu lama lagi, laki laki itulangsung menerbos masuk dan mendorong Kiano juga dokter itu dengan cukup kasar.
Sementara itu, Kiano yang mendengar suara ayah mertuanya berkata seperti itu hanya bisa terdiam. Wajah nya nampak datar, namun di dalam pikiran nya begitu banyak yang di pikirkan.
“Kamu sabar No, harus bisa kuat. Ikhlaskan Claudi utnuk pergi, dia—“
“Bagaimana bisa Ma, Pa? Bagaimana bisa Kiano harus sabar dan ikhlas?” tanya Kiano dengan cepat memotong pembicaraan mama nya, tatapan matanya begitu sayu dengan wajah yang sangat pucat.
“Aaaarrrkkkhhhh!”
Bug!
Kiano langsung meninju dinding dengan sekuat tenaga hingga membuat tangan nya terluka cukup parah, akan tetapi ia tidak memperdulikan nya. Ia hanya ingin menuntaskan amarah dan rasa bersalah nya.
Mengapa takdir begitu jahat padanya. Mengapa ia di pertemukan dengan Claudia bila pada akhirnya ia di pisahkan lagi. Mengapa pertemuan mereka sangat begitu singkat.
Seharusnya, waktunya bersama Claudi lebih banyak lagi, lebih lama lagi agar dia bisa membahagiakan istrinya. Agar ia bisa menebus semua kesalahan nya, dan agar ia bisa membalas cinta dari istri nya.
“Anak kalian sudah di pindahkan di incubator. Memang benar, dia sangat kecil, jadi tidak bisa berlama lama di luar. Apa kamu tidak mau melihat nya?” tanya om Bastian ang baru saja menemui dokter lain.
“Ayah mertua mu masih di dalam, biarkan saja dulu. Lebih baik kamu lihat anak kamu dulu,” imbuh om Bastian yang langsung di balas anggukkan kepala oleh Kiano.
Bukan Kiano tidak ingin menemui istrinya lebih dulu. Akan tetapi, ayah Stive melarang nya dengan keras, bahwa penyebab kematian putrinya adalah Kiano, maka dari itu, ia tidak di perbolehkan untuk masuk.
Kiano sendiri juga menyadari akan kesalahan nya. Memang benar apa yang di katakan oleh ayah Stive, akan tetapi, hatinya juga sakit dan ia juga merasa sangat kehilangan saat mendengar kabar itu.
...‘Apapun yang terjadi, pertahankan anak kita. Claudi mohon, bantu Claudi!’...
Kata demi kata yang di ucapkan oleh Claudia, masih terasa begitu terngiang di benak nya. Rasa sesak yang teramat sangat, ia rasakan dengan deraian air mata yang mengiringi nya.
Andai dirinya bisa memutar kembali waktu, atau ia bisa memindahkan penyakit itu ke tubuh nya. Mungkin sudah ia lakukan, sungguh ia tidak menginginkan semua ini terjadi.
...~To be continue... ...