Bad Pregnancy

Bad Pregnancy
Bantuan



...~Happy Reading~...


“Aku harus kemana?” gumam seorang wanita hamil, yang tak lain dan tak bukan adalah Claudia.


Sejak tadi, ia hanya berputar di sekitaran rumah sakit saja. Dirinya ingin pergi, namun ia masih bingung akan kemana. Ia harus bisa mencari celah agar bisa keluar dari rumah sakit tanpa tertangkap oleh cctv.


“Sshhh,” Claudia menggigit bibir bawah nya untuk menahan rasa sakit yang kini kembali ia rasakan.


Ingin menangis, namun ia berusaha untuk tetap kuat dan bertahan. Benar apa yang di katakan oleh Kiano, ia adaah wanita hebat dan kuat, jadi dirinya tidak boleh menyerah, apalagi ini demi anak nya.


‘Aku sudah bertahan sejauh ini, dan aku tidak akan menyerah begitu saja, auwhhh!” Ia kembali meringis sambil bersandar pada sebuah dinding yang berada di dekat toilet.


“Tapi ini sangat sakit,” imbuh nya seraya menarik napas cukup panjang.


Belum hilang rasa sakit yang ada di perut nya, Claudia kembali merasakan bahwa hidung nya kembali mimisan dengan si sertai rasa pusing yang begitu hebat di kepala nya.


Apa yang harus ia lakukan? Claudia tidak mau kembali, ia tidak mau jika ayah nya akan memaksa nya untuk operasi saat ini. Claudia tidak mau mengobarkan anak nya, karena ia sudah berjuang selama ini.


“Claudi!” Wanita itu langsung mendongak dan menatap seseorang yang sudah memanggil nama nya.


“T—tolong ....” gumam Claudia pelan dan hampir tidak terdengar.


“K—kamu hamil?” Alih alih mendengarkan permintaan tolong Claudia, justru orang itu malah gagal fokus saat melihat perut Claudia sudah membuncit.


“Tadi aku bertemu ayah kamu, dan—“


“Jangan!” Claudia langsung menggelengkan kepala nya, “Jangan katakan pada ayah ku, tolong. T—tolong bawa aku pergi tanpa terlihat ayah ku dan orang nya,” imbuh Claudia dengan sekuat tenaga nya.


“Tapi Clau, kamu kayaknya lagi sakit. Aku anter kamu untuk ketemu dokter saja, ayo!” Ajak nya, namun dengan cepat Claudia menggelengkan kepala nya.


“Tolong bawa aku pergi hiks hiks, aku mohon!”


Melihat Claudia yang hampir menangis sambil memohon seperti itu, akhirnya ia menganggukkan kepala nya, “Kamu tunggu disini sebentar!”


Claudia menganggukkan kepala nya, ia kembali bersandar pada dinding karena kepala nya kini sudah terasa sangat sakit. Ke dokter? Rasanya sudah sangat percuma, selama ini dirinya juga tidak pernah meminum obat obatan nya, dan setiap kali penyakit nya kambuh, ia hanya bisa menahan diri mencoba bertahan sampai rasa sakit itu hilang.


Sejak dokter mengatakan bahwa obat obatan kemo yang ia konsumsi selama ini bisa berbahaya untuk janin nya, maka ia berusaha untuk menghentikan nya. Claudia hanya meminum vitamin untuk bayi nya saja, sedangkan obat obatan nya selalu ia buang di pinggir jalan saat pulang dari rumah sakit, agar Kiano juga tidak bisa melihat nya.


Tidak berapa lama Claudia menunggu, kini akhirnya bala bantuan sudah tiba. Ia langsung bernafas lega karena akhirnya ia bisa bertemu seseorang yang bisa membantu nya. Walaupun sebenarnya, ia masih sedikit risih dan tidak enak hati, namun apa boleh buat, dirinya sangat membutuhkan bantuan itu dan ia berusaha untuk menekan ego nya sendiri demi anak nya.


Claudia di bawa dengan sebuah brankar rumah sakit yang di tutupi oleh sebuah kain putih agar terlihat seperti jenazah yang akan di bawa pulang. Agar membuat orang orang ayah Stive tidak ada yang mengenali nya. Dan rupanya itu berhasil, membawa Claudia sampai di ambulance dan pergi keluar dari rumah sakit.


...~To be continue ......