
...~Happy Reading~...
Suara mesin EKG yang biasanya selalu menemani hari hari nya, entah mengapa kini terasa begitu menyeramkan di pendengaran Kiano.
Apalagi saat ia melihat beberapa alat medis yang terpasang di tubuh istri nya, membuat hatinya terasa begitu sesak dan penuh ketakutan.
Menarik napas panjang, Kiano mengulurkan tangan nya untuk menyentuh kepala istrinya, mengusap nya dengan sangat lembut lalu mencium kening nya, hingga tanpa sadar membuat air matanya kembali menetes dan membasahi dahi Claudia.
‘Bertahanlah, kamu ibu yang sangat kuat. Aku yakin, kamu pasti bisa melewati semua ini, aku mohon bertahanlah, gadis nakal ku,” bisik Kiano dengan sedikit terbata karena menahan isak tangis.
Tak ingin berlama lama dan mengulur waktu, akhirnya Kiano segera beranjak keluar saat melihat beberapa dokter sudah mulai masuk ke ruangan operasi.
Dan, ketika dirinya sudah sampai di depan pintu, ia bertemu dengan Farah, membuat nya langsung mencekal tangan gadis tersebut.
“Tolong!” ucap Kiano tak bersuara, namun Farah bisa membaca lewat gerak bibir laki laki tersebut.
Dokter Farah yang sudah paham, arti tatapan mata Kiano, langsung menganggukkan kepala nya, “Tolong juga untuk membantu lewat doa,” balas dokter Farah yang langsung di balas anggukan kepala oleh Kiano.
...🍁🍁🍁🍁...
“Kiano, apa tidak sebaiknya kamu makan dulu?” tanya Mama Kiara saat melihat anak nya terus berdiri sambil menatap ke dalam ruangan operasi.
Entah apa yang di lihat oleh Kiano, sudah hampir tiga jam lamanya, laki laki itu terus menatap ke arah dalam ruangan.
Padahal, ia hanya melihat ruangan kosong yang berisi meja dan kursi serta sebuah pintu di dalam sana. Namun, Kiano begitu betah tidak beranjak dari tempat nya sejak tadi.
“Enggak Ma, Kiano belum lapar,” jawab Kiano sedikit serak dan tanpa menoleh ke arah Bunda nya sama sekali.
“Kiano, Bunda yakin bahwa Claudia akan baik baik saja. Dokter Bastian juga sudah memastikan bahwa Claudia sudah berada di tangan dokter yang tepat, percayakan saja No. Cukup bantu doakan, agar operasi ini berjalan dengan lancar. Bunda mohon, jangan seperti ini, kamu bisa sakit,” ucap Bunda Ella panjang lebar lalu menghela napas nya dengan berat.
“Apa yang di katakan oleh Bunda kamu itu benar, No. Kamu harus makan, agar kamu tidak sakit. Bagaimana nanti kalau Claudia sudah sembuh tapi kamu gantian yang sakit, kan gak lucu No.” Imbuh mama Kiara ikut menghela napas berat.
“Enggak Ma, Kiano belum lapar. Nanti, kalau operasi Claudi sudah selesai, dan memastikan keadaan dia stabil, Kiano janji akan makan,” jawab Kiano yang masih tetap untuk bertahan di tempat nya.
Tak hanya bunda Ella dan mama Kiara yang ikut sedih dengan keadaan Kiano. Pasal nya, sejak dua hari Claudia masuk rumah sakit, hingga kini Kiano belum makan sama sekali.
Hanya memakan buah beberapa potong saja, bahkan untuk minum pun ,dalam dua hari paling hanya satu gelas bila di kumpulkan.
Maka dari itu, tubuh Kiano sangat lemah dan wajah nya juga pucat, karena selain kurang nutrisi juga kekurangan cairan.
Tak jarang juga, om Bastian menyarankan agar Kiano di infus untuk beberapa saat, agar laki laki itu tidak lemas. Namun ia menolak dan tetap kekeuh untuk menjaga dan menunggu Claudia.
‘Dia benar benar menepati janji nya, bahwa dia akan mencintai Claudi,” gumam Clayton setengah berbisik tepat di samping ayah nya sambil terus menatap ke arah adik ipar nya.
“Haruslah! Claudi jadi seperti ini juga karena dia,” saut ayah Stive dengan ekspresi wajah datar nya sambil melipat tangan di dada, membuat Clayton yang mendengar hal itu hanya bisa menghela napas nya dengan berat.
...~To be continue .......