Bad Pregnancy

Bad Pregnancy
Terimakasih



...~Happy Reading~...


“Kiano, wajah kamu kena—“


“Gapapa Ma, Kiano mau berdua sama Claudi dulu, boleh?” tanya Kiano tanya menatap ke arah lawan bicara nya, karena kini tatapan wajah nya begitu lekat menatap seorang wanita yang sudah terpejam di atas brankar.


Menganggukkan pasrah, akhirnya mama Kiara dan papa Kaisar memilih untuk keluar dari ruangan itu. Mereka tahu bahwa ini akan terasa sangat berat untuk Kiano, akan tetapi bagaimana lagi? Tidak ada yang bisa di lakukan kecuali adanya keajaiban dari Tuhan.


“Clau, apa kamu tidak mau bangun hem? Apa kamu sudah yakin mau meninggalkan aku dan bayi kita?” tanya Kiano dengan sekuat tenaga menahan agar air matanya tidak semakin luruh.


“Aku mohon, urungkan niat untuk pergi meninggalkan kami. Kamu tidak sendiri, Sayang. Sekarang sudah ada aku dan anak kita, aku mohon bangun lah. Kita mulai lagi semuanya, aku mohon hiks hiks hiks.”


Tubuh Kiano kini benar benar sudah luruh ke lantai. Dengan tangan yang masih menggenggam erat jemari tangan Claudia, laki laki itu terus menangis dan meraung, memohon kepada Tuhan agar mengembalikan istrinya lagi.


Sungguh, Kiano tidak akan bisa membayangkan, bagaimana kehidupannya nanti ke depan, saat sudah tidak ada Claudia.


Ia sudah terbiasa selama beberapa bulan ini, dengan semua tingkah manja dan cerewet ala Claudia. Dan kini, ia tidak akan bisa mendengar apalagi melihat wanita nya lagi, apakah ia bisa?


Uhuukkk


Seketika itu juga tangisan Kiano langsung terhenti. Ia mendongakkan kepala nya dan matanya sukses membulat dengan sempurna kala melihat ternyata mata Claudia sudah terbuka.


“S—Sayang!” pekik Kiano terkejut dan segera bangkit dan berdiri, “K—kamu ... “


Sungguh, Kiano sampai beberapa kali mengucek matanya dan menatap istrinya dengan tatapan tak percaya. Benarkah Claudia bangun lagi? Batin nya.


“K—kakak ... “ gumam wanita itu begitu lirih hampir tak terdengar, hingga akhirnya ia kembali memejamkan mata nya.


‘Alhamdulilah!” gumam nya pelan dengan air mata yang penuh haru, saat setelah berhasil mendapatkan detak jantung dan denyut nadi Claudia lagi.


Kiano pun akhirnya segera memasang semua alat medis yang sebelumnya sudah di lepas oleh dokter. Dengan perasaan bahagia, namun juga dengan air mata yang terus mengucur deras, Kiano tak henti henti untuk terus bersyukur.


“Kiano!” panggil dokter Bastian yang mendengar teriakan dari Kiano segera masuk ke dalam ruangan di ikuti oleh papa Kaisar dan mama Naura.


Ketiganya melihat bagaimana cara Kiano hendak kembali memasangkan infus di tangan Claudia, dengan cepat om Bastian mendekat dan melarang Kiano.


“Sayang, ikhlaskan Claudi pergi. Biarkan dia tenang ya,” ujar mama Kiara tidak tega melihat anak nya yang belum bisa melepaskan kepergian istrinya.


“Ma, Pa, Om. Tadi Claudi bangun, dia panggil nama Kiano, om bantuin Claudi!” ucap Kiano kembali menangis dan kembali hendak memasangkan infusan.


“No, sadar! Claudi sudah gak ada! Buka mata kamu No. Kalau kamu terus kaya gini, kasian Caudi!” seru Om Bastian berusaha menyadarkan keponakan nya.


“Enggak om!” Kiano langsung menepis tangan Bastian yang berada di bahu nya, “Claudi masih hidup! Dia kembali untuk Kiano dan anak kami. Dia kembali Om!” balas Kiano masih terus kekeuh, namun lagi lagi semua keluarga nya tidak ada yang mempercayai nya, hingga membuat Kiano merasa begitu frustasi.


“Kalau Om gak mau bantu Kiano, pergilah. Kiano bisa mengurus istri Kiano sendiri!” ucap Kiano dengan begitu dingin dan tegas, lalu ia dengan begitu cekatan memasang beberapa alat di tubuh istrinya, termasuk infus dan oksigen.


“Hah! B—bagaimana bisa?” gumam ketiganya terkejut saat melihat semua alat itu kembali berfungsi, padahal tadi mesin Ekg itu sudah menunjukkan bahwa jantung Claudia sudah tidak bekerja. Akan tetapi sekarang semua sudah berubah, bahkan keadaan Claudia bisa di katakan sudah sangat stabil.


Sementara itu, Kiano yang baru saja selesai memasang semua alat di tubuh istrinya, langsung melebarkan senyuman lega nya, “Terimakasih Tuhan, terimakasih,’ gumam Kiano dalam hati dan kembali menangis sambil menatap tubuh istrinya.


...~To b continue .......