Bad Pregnancy

Bad Pregnancy
Kenapa?



...~To be continue.... ...


Cklek!


Saat pintu ruangan terbuka, Kiano segera membalik badan nya dan tak sabar ingin bertanya kepada dokter.


Akan tetapi, hal yang membuat Kiano tercengang, bukan dokter yang keluar dari ruangan tersebut, melainkan istrinya yang sudah keluar dengan wajah berseri seolah tidak terjadi apapun.


"Ciee tegang banget," ucap Claudia dengan senyuman menggoda kepada Kiano.


"Kenapa?" tanya Kiano dengan napas yang masih memburu karena khawatir.


"Apanya kenapa?" tanya Claudia berpura pura.


"Clau!" seru Kiano dengan nada tak suka, namun justru malah membuat Claudia terkekeh.


"Clau seneng deh, kalau kakak tegang gini hihihi, artinya kakak khawatir sama Clau kan?" katanya dengan perasaan bahagia.


Merasa tidak akan ada guna nya, ia bertanya kepada Claudia. Kiano pun segera masuk kembali ke dalam ruangan itu untuk bertanya kepada dokter.


"Kenapa dengan istri ku?" tanya Kiano to the point kepada dokter Farah.


"K—kenapa maksud k—kamu apa?" kata dokter Farah balik bertanya, namun dengan ekspresi wajah yang begitu gugup.


"Apa yang kalian sembunyikan, jawab!!" bentak Kiano seketika membuat semua orang yang berada di dalam ruangan itu terkejut.


Bukan dokter Farah dan beberapa perawat saja yang terkejut, melainkan Claudia yang masih berdiri di luar pun ikut terkejut mendengar suara teriakan amarah dari Kiano.


Dengan cepat, Claudia bergegas masuk ke dalam ruangan dan mendekati Kiano.


"Kakak kenapa harus marah marah sih? Gak kasihan sama dokter Farah hem?" tanya Claudia berdecak.


"Diem Clau! Kalau kamu gak mau jujur sama aku, seharusnya—"


"Jujur soal apa sih Kak? Claudi gapapa, tadi itu pingsan karena kepentok pintu doang elah. Ini buktinya langsung gapapa, dede bayinya juga gapapa kok, iya kan Dok?" tanya Claudia dengan cepat memotong pembicaraan Kiano sambil melirik ke arah dokter Farah.


"Far, semoga benar jika istriku tidak kenapa kenapa. Tapi, jika benar dia terluka dan kalian sengaja menyembunyikan nya, jangan salahkan aku jika bisa berbuat lebih pada mu, nanti!" ancam Kiano dengan serius membuat dokter Farah langsung menelan saliva nya dengan begitu sulit.


Sementara itu, Claudia hanya mengucapkan kata maaf kepada dokter Farah lewat sorot mata. Lalu bergegas semakin menarik lengan Kiano dan membawa nya keluar.


Sepanjang perjalanan, Kiano hanya diam. Ia masih marah dan kecewa kepada Claudia yang tidak mau jujur padanya.


Sangat jelas, jika wanita itu menyembunyikan sesuatu darinya. Akan tetapi apa, mengapa Claudi harus menyembunyikan nya, apakah wanita itu masih belum percaya padanya?


Deg!


Seketika itu juga Kiano langsung terdiam. Ia merutuki dirinya sendiri saat berfikiran bahwa Claudia belum mempercayai nya.


Bagaimana bisa Claudia mempercayai nya, jika dirinya sendiri saja juga belum bisa mempercayai Claudia.


Bukan hanya itu, bagaimana bisa Claudia akan percaya dengan dirinya. Sedangkan selama ini, dirinya belum bisa terbuka dan mencintai wanita itu.


Ya, Kiano berfikir mungkin karena itu Claudia tidak kau jujur padanya. Karena di antara mereka berdua ter khususnya Kiano belum pernah mengutarakan perasaan, atau mungkin belum bisa membuat wanita itu nyaman.


"Kakak jangan diem aja dong, Claudi gak bisa kalau jadi bisu kaya gini!" keluh Claudia yang langsung menyandarkan kepala nya di lengan sang suami.


Kiano menarik napas nya dengan cukup panjang, "Maaf," ucapannya, sambil mengusap kepala istrinya.


"Kakak... " panggil Claudia dengan pelan.


"Ada apa?" tanya Kiano lagi dengan suara yang begitu lembut.


"Sarange," gumam Claudia seraya membentuk simbol dari dua jari nya.


Kiano pun langsung tersenyum, selalu saja istrinya itu bisa mencairkan suasana. Di saat dalam keadaan apapun, Claudia selalu memiliki cara untuk membuat nya tersenyum.


"Clau, Don't change, and keep your cheerfulness," balas Kiano lalu ia memberikan kecupan singkat di kening Claudia, hingga membuat wanita itu semakin tersenyum lebar dan mengeratkan pelukan nya dengan begitu erat.


...~To be continue.... ...