Bad Pregnancy

Bad Pregnancy
Extra part 5



...~Happy Reading~...


"Mau makan siang dimana?" tanya dokter Farah saat bertemu dengan Kiano.


"Kantin!" jawab Kiano seperti biasa, to the point, sangat singkat, jelas dan padat.


Farah pun menganggukkan kepala nya dan mulai berjalan di sebelah Kiano, "Oh ya, bagaimana kabar mereka?" tanya Farah mulai membuka pembicaraan saat berada di lift.


"Alhamdulillah, baik dan sehat!" jawab Kiano, "Bagaimana persiapan nya?" imbuh Kiano memberikan pertanyaan balik kepada Farah.


"Alhamdulillah juga, lancar!" jawab Farah tersenyum malu, "Makasih ya, ini semua berkat kamu."


"Syukurlah, aku turut bahagia mendengar nya," jawab Kiano dengan tersenyum lega, "Rencana mau buat acaranya dimana? Jakarta kan?"


Seketika itu juga, Farah langsung menggelengkan kepala nya, "Aku mau di kampung ku saja. Sejak dulu, impian ku ingin menikah di kota kelahiran ku. Maka dari itu, aku nanti mau ambil cuti lumayan lama."


"Oh begitu, ya tidak masalah. Asal dia setuju dan pernikahan kalian lancar," kata Kiano menganggukkan kepala nya.


"Kalian pasti datang kan? Taka juga sudah cukup besar untuk di ajak ke luar kota," ucap Farah menatap Kiano dengan penuh harap, "No, kamu ngenalin kami loh, secara gak langsung kamu itu udah jadi makcomblang kami. Ya kali kamu gak datang," imbuh Farah langsung menghela napas nya berat.


"Akan aku usahakan, nanti aku tanyakan sama Claudi dulu," jawab Kiano setidaknya mau berusaha.


Memang benar, Kiano yang memperkenalkan Farah dengan sahabat nya. Awal nya, Kiano hanya iseng memberikan nomor Farah kepada teman laki laki nya.


Tanpa ia duga dan sangka, dua bulan setelah pemberian nomor itu, ternyata Kiano sudah mendapatkan kabar bahagia tentang rencana pernikahan mereka.


Dan saat keduanya tengah berbincang serius tentang pernikahan Farah, saat itu juga pintu lift terbuka.


Namun, ketika kedua nya hendak keluar dari lift tiba tiba langkah kaki Kiano terhenti saat ia melihat seseorang yang berdiri tepat di depan pintu lift.


Deg!


"No!" panggil nya.


"Halo Fay, kapan datang?" tanya Farah langsung keluar dan berusaha mencairkan suasana yang sedang tegang.


"Baru saja," jawab gadis itu yang ternyata adalah Fayya, "K—kalian mau kemana?" imbuh nya masih merasa canggung.


"Makan, kantin!" jawab Kiano dan Farah bersamaan namun beda kata.


Fayya merasa semakin canggung dan bingung saat mendapatkan tatapan dari seseorang yang pernah mengisi hatinya. Ia mendadak menjadi salah tingkah dan menatap ke sembarang arah, hingga tanpa sengaja matanya menangkap sesuatu di bagian tubuh Kiano.


Iya, benar! Sebuah tanda merah keunguan yang terpampang nyata di leher jenjang Kiano. Dimana laki laki itu sudah tidak mengenakan jas putih nya.


Yang kini hanya tertutup kerah kemeja, namun tidak menutup sepenuhnya. Karena tanda itu berada di atas kerah, tepatnya bagian bawah telinga.


"Fay, are you oke?" tanya Farah mengerutkan dahi nya saat dengan tiba tiba ia melihat Fayya meneteskan air mata.


Fayya yang tersadar, langsung mengusap air mata nya dan kembali memasang senyuman, "Gak kok. Silahkan, a—aku mau ke atas dulu. Ada urusan sama profesor Yordan," imbuh Fayya sedikit gugup.


"Kamu serius? Gak mau gabung, makan siang sama kita aja?" tanya Farah meyakinkan, dan langsung di balas anggukan kepala oleh Fayya.


"A—aku duluan!" ucap Fayya lalu ia segera pergi memasuki lift dengan hati yang terasa begitu sesak.


Bohong bila Fayya sudah melupakan Kiano, begitupun dengan sebaliknya. Namun, Kiano sudah berjanji, bahwa ia akan menjaga hatinya hanya untuk Claudia.


Walau sebenarnya, perasaan nya kepada Fayya masih ada. Namun, ia sudah berusaha sekuat mungkin untuk memendam nya dan menggantikan dengan nama Claudia.


Meskipun belum sepenuhnya terganti, namun Kiano yakin, jika dirinya selalu berusaha makan kelak pasti bisa.


Lagipula, kini hidupnya sudah sempurna dengan adanya Claudia dan Taka. Jadi setiap kali dirinya berada di posisi seperti tadi, dirinya akan selalu mengingat kelucuan dan kegemasan anak dan istrinya, hingga membuat Kiano begitu mudah melupakan Fayya.