
...~Happy Reading~...
“No, mending kamu gak usah masuk,” ujar om Bastian melarang Kiano untuk memasuki ruang operasi.
“Tapi Om, Kiano mau—“
“Enggak! Biar Claudi di urus oleh dokter lain saja,” ucap om Bastian berusaha mengajak Kiano agar keluar, akan tetapi laki laki itu menolak dan tetap ingin meng-operasi istrinya sendiri.
“Ga Om, Kiano akan mengobati istri Kian sendiri. Tolong Om, izinkan Kiano untuk menyembuhkan Claudi. Dia yang bilang, aku—aku laki laki hebat. Iya kan Om, aku seorang dokter hebat, aku sudah menyembuhkan belasan atau mungkin puluhan pasien disini. Jadi tolong Om, izinkan Kiano hiks hiks hiks.” Pinta nya dengan sangat memohon sambil terisak.
“Kiano, percaya sama Om. Claudi sudah di tangani oleh dokter terbaik, cukup bantu dao saja, semoga istri dan anak kamu baik baik saja,” kata om Bastian masih mencoba untuk menguatkan serta meyakinkan keponakan nya.
Sejujurnya, Bastian tidak tega melihat keponakan nya yang terlihat sangat hancur seperti itu. Bastian percaya, bahwa Kiano adalah dokter yang hebat, akan tetapi untuk mengoperasi istrinya sendiri, Bastian tidak yakin, bahwa Kiano bisa melakukan nya.
Lihat saja sekarang, Kiano sudah berderai air mata. Wajah nya begitu pucat karena kurang tidur dan entah sejak kapan terakhir kali Kiano makan. Selain itu, ini adalah Claudi, istrinya sendiri. Kiano harus mempertaruhkan nyawa nya untuk keselamatan anak dan istri nya.
Kemungkinan tertolong semua itu hanya sepuluh persen. Kemungkinan untuk gagal begitu besar. Bastian tidak bisa membayangkan jika sampai Kiano gagal dalam pekerjaan nya.
Bukan hanya dia yang hancur karena sebuah penyesalan, bisa jadi nanti Kiano akan mengalami trauma besar dan tidak akan mau untuk menjadi dokter lagi. Selain itu, keluarga dari pihak Claudia tentu bisa saja tidak terima jika melihat kegagalan Kiano dalam menangani Claudia. Maka dari itu, Bastian melarang Kiano untuk turun tangan.
“Di dalam juga sudah ada Farah. Kamu percaya kan sama dia, kita berdoa semoga mereka selamat dan operasi berjalan lancar, ayo keluar!” om Bastian segera menarik tangan Kiano untuk keluar dari ruang operasi.
Kiano,keponakan nya yang paling kuat, paling dingin dan irit bicara, jika di bandingkan dengan Kenzo dan Kaila. Dan kini, ia melihat tatapan mata nya yang begitu kosong dan penuh permohonan.
Bastian teringat, bagaimana dulu saat masa kecil Kiano dan Kaila juga Fayya. Laki laki itu begitu dewasa dan menjadi pelindung bagi kedua saudara nya. Dan kini, Bastian merasa ikut sesak dan hancur ketika melihat keterpurukan Kiano saat ini.
“Baiklah, hanya sebentar ya No,” ucap om Bastian menganggukkan kepala nya sambil mengusap bahu Kiano.
Mendapat persetujuan, membuat Kiano langsung beranjak dari lantai dan segera bergegas untuk membuka pintu ruangan tersebut.
Cklek!
Namun, rasa semangat nya, seketika langsung luntur saat ia melihat tubuh istrinya sudah terbaring lemah dan tak berdaya di atas brankar ruang operasi. Membuat dada Kiano semakin bergejolak dan tidka tega.
Sedangkan itu, semua petugas yang berada di ruangan itu langsung terkejut dan menghentikan kegiatan mereka untuk menyiapkan operasi Claudia. Semuanya menatap ke arah dokter Kiano yang terlihat begitu perlahan mendekati arah brankar dengan air mata yang begitu deras dan tangan yang terkepal kuat.
“Dok, anda—“
“Lanjutkan tugas kalian. Saya hanya ingin menemui istri saya sebentar,” jawab Kiano dengan suara serak sambil terus berjalan mendekati istrinya.
...~To be continue ......