
...~Happy Reading~...
“Kakak gak kerja lagi?” tanya Claudia saat pagi harinya masih melihat Kiano yang berada di atas tempat tidur, “Masa bolos mulu, kalau gitu Clau juga bolos sekolah ya?” imbuh nya dengan penuh semangat.
Namun berbeda dengan Kiano yang justru langsung menatap istrinya dengan begitu tajam. Bagaimana bisa, wanita itu dengan mudah nya mengatakan ingin ikut bolos, sedangkan dia sedang sangat baik baik saja.
Sedangkan dirinya? Akibat ulah Claudia, Kiano kembali merasakan diare, dan kali ini bukan hanya sekedar mules seperti biasanya. Ia benar benar mengalami diare, lantaran makanan pinggir jalan yang di bawa oleh Claudia.
Meskipun ia sudah meminum obat pereda diare, namun tetap saja obat itu seolah tidak ada efek nya sama sekali. Terhitung sejak semalam hingga kini sudah jam tujuh pagi, dirinya sudah bolak balik hampir dua puluh kali ke kamar mandi.
Bahkan, dirinya belum tidur sama sekali sejak semalam. Maka dari itu dirinya memutuskan untuk kembali bolos bekerja.
“Jangan macem macem Clau! Sekolah yang bener. Masa sekolah kamu hanya tinggal beberapa bulan lagi,” ujar Kiano lalu menghela napas nya dengan berat.
Ya, memang benar jika masa sekolah Claudia hanya tinggal beberapa bulan lagi. Mungkin sekitar dua bulanan. Bukan karena dirinya sudah lulus, bukan.
Itu semua karena sekarang usia kandungan Claudia sudah menginjak tiga bulan lebih hampir empat bulan. Dua bulanan lagi, perut nya akan terlihat semakin besar dan akan sulit untuk di tutupi.
Itulah sebab nya, Claudia terpaksa mau menuruti kemauan suami juga keluarga nya. Dan setelah nanti dirinya melahirkan, ia akan kembali bersekolah hingga lulus.
“Ckckck, habisnya kakak kan gak kerja, jadi biar adil Clau juga gak usah sekolah!” gumam nya pelan sambil berdecak.
“Aku gak kerja karena siapa?” tanya Kiano kini menatap istrinya dengan intens.
“Nih ya Kak, kemarin Clau ingin makan itu, tapi kakak gak ngizinin. Dan kakak bilang rela makan demi anak kakak, ya udah kalau kaya gitu kakak salahin aja anak kakak, nih!” imbuh Claudia seraya mengusap perut nya tepat di depan wajah Kiano.
Kini posisi nya Kiano masih duduk bersandar di tempat tidur, sedangkan Claudia berdiri dengan seragam sekolah yang sudah rapi.
“Gak ada yang mau nyalahin!” kata Kiano menarik napas nya dengan cukup panjang.
“Tadi pakai nanya siapa yang udah buat kakak gak kerja, kenapa sekarang kaya gitu, ckckck.” Claudia menggelengkan kepala nya, tak habis pikir dengan bagaimana pemikiran Kiano.
“Sudahlah, sana berangkat ke sekolah. Hari ini kamu akan di anter supir,nanti langsung pulang jangan mampir!” ucap Kiano pelan karena menahan rasa mulas di perut nya.
“Emang Clau gak boleh ya bawa mobil sendiri?” tanya Claudia tiba tiba membuat mata Kiano kembali membola, dan menatap nya dengan tajam, “Enggak, Cuma bercanda elah. Ya udah Clau berangkat dulu,” imbuh nya menyengir kuda.
“Papip cepet sembuh, biar nanti mamim pulang sekolah bisa main sama Papip, bubay,” bisik Claudia di telinga Kiano lalu mengecup bibir nya sekilas hingga membuat tubuh Kiano kembali mematung.
Berulang kali Kiano mengerjapkan mata nya, kembali mencerna ucapan yang di katakan oleh Claudia beberapa detik yang lalu.
Papip? Mamim? Bahasa apa itu? Dan juga, apa kata dia tadi? Pulang sekolah mau main? Maina apa? Gumam Kiano dalam hati nya berusaha keras untuk menerima dan mencerna kata demi kata yang di ucapkan oleh Claudia.
Efek dari diare nya sangat luar biasa, hingga membuat nya menjadi bodoh tiba tiba. Sampai dirinya tidak bisa mencerna dengan baik perkataan dari istri kecil nya.
...~To be continue ......