
...~Happy Reading~...
‘Jika kita lahir kan bayi itu sekarang, maka kemungkinan dia bertahan lama akan sangat tipis. Bayi itu sangat kecil akibat penyakit yang di derita oleh ibunya, membuat pertumbuhan nya di dalam perut terhambat. Tapi jika tidak segera di lahir kan, maka kesehatan Claudia akan semakin memburuk."
Claudia langsung memeluk perut nya yang tidak begitu besar. Memang benar, kehamilan Claudia sudah memasuki usia delapan bulan, akan tetapi berat badan janin nya hanya berkisar seribu lima ratus gram saja. Sangat jauh dari berat badan janin rata rata yang seharusnya sudah berada atas dua ribu empat ratus gram, berat normal.
“Enggak! Mereka gak boleh nyakitin kamu sayang, Mamim gak akan biarin mereka memaksa kamu untuk lahir sekarang, Mamim akan melindungi kamu, hiks hiks. Gak mau, gak boleh!’ gumam nya terus meracau sambil terisak.
Ya, benar bahwa tadi Claudia menguping pembicaraan dokter dan ayah serta suami nya. Tadi dirinya sedang tidur, dan saat terbangun ia sudah tidak menemukan siapapun. Seperti biasa, Claudia yang memang bukan tipe wanita yang lemah suka menurut, akhirnya ia memilih untuk bangkit dari brankar nya dan berjalan jalan, walau sebenarnya kondisi nya masih sangat lemah.
Namun itulah Claudia, yang sangat sulit untuk di atur atau di suruh menurut. Wanita itu memilih untuk pergi ke ruang dokter, awalnya karena berniat menego dengan dokter pribadi nya. Ia ingin meminta bantuan.
Akan tetapi, sat wanita itu hendak mengetuk pintu ia justru malah mendengar perdebatan antara ayah dan suami nya. Rasanya begitu sesak, saat mendengar ayah nya membentak suami nya dan mengatakan bahwa bayi nya tidak begitu penting dan tidak akan kenapa jika tidak bisa bertahan lama.
Claudia yang sudah merasa berjuang sejak awal, tentu saja dia tidak akan membiarkan orang tuanya melakukan hal itu kepadanya. Claudia masih akan tetap mempertahankan bayi nya, apapun yang terjadi. Dirinya rela mati demi sang buah hati, dan ia tidak akan mau jika karena keegoisan ayah nya, bayi nya yang akan jadi korban.
...🍁🍁🍁...
Brakkk!
Mendengar suara dorongan pintu yang begitu kuat, membuat ketiga laki laki di ruangan itu langsung terkejut dan menoleh ke arah pintu. Terlihat seorang wanita paruh baya yang tengah berdiri di ambang pintu dengan napas yang memburu hebat.
“C—Claudi, hiks hiks dia gak ada,” jawab bunda Ella kembali menangis.
“G—gak ada, maksud Bunda?” tanya Kiano ikut bangkit dan menghampiri ibu mertua nya.
“Tadi Bunda tinggal ke toilet sebentar, tapi saat bunda kembali, ruangan itu kosong. Bunda sudah mencari dimana mana, bahkan sampai sekuriti tidak ada yang tahu dimana keberadaan dia hiks hiks. Mas, lakukan sesuatu, dimana Claudi hiks hiks,” jelas bunda Ella semakin terisak.
“Tenang dulu, Claudia pasti tidak akan kemana mana, dia masih sakit, dia gak mungkin pergi. Mungkin saja dia hanya berjalan jalan, tenang dulu,” ujar ayah Stive berusaha menenangkan istri nya.
Dan tanpa berlama lama, Kiano segera pergi berlari untuk mencari keberadaan istri nya. Tak lupa, ia juga mencoba menghubungi dokter Farah, berharap bahwa Claudia sedang bersama nya.
“Shitt!” umpat Kiano langsung mengusap wajah nya dengan kasar, saat setelah menghubungi dokter Farah dan tidak mendapatkan jawaban.
Kiano mencoba untuk bertanya kepada beberapa staf di rumah sakit itu, bertanya untuk keberadaan Farah maupun Claudia, yang ternyata Dokter Farah tengah menangani pasien melahirkan. Sedangkan Claudia ia masih belum mendapatkan kabar lagi.
“Kamu dimana Clau?” gumam Kiano dengan raut wajah yang sangat panik dan khawatir.
...~To be continue ... ...