Bad Pregnancy

Bad Pregnancy
Extra part 10



...~Happy Reading~...


Usai makan malam, seperti biasa, Claudia dan Kiano serta Taka memilih untuk berkumpul di ruang keluarga sebelum pergi ke kamar. Sejak tadi, Claudia terus memeluk suaminya dari samping sambil terus memainkan dagu sang suami yang baginya sangat menggemaskan.


Risi, sebenarnya iya. Namun, Kiano hanya bisa pasrah dan tidak bisa menolak, karena bisa terjadi perang dunia ke sebelas jika Kiano sampai menolak kemauan Claudia.


Taka, anak itu sejak tadi hanya bisa diam, mendengus dan sesekali melirik orang tuanya dengan kesal. Ia sudah mulai bosan dengan gadget nya, namun mami nya tidak mau mengalah untuk nya bisa bermain dengan sang ayah.


“Mamim udah dong, jangan deket deket Papip terus ih, Taka kesel tau gak!” Seketika itu juga, Claudia dan Kiano langsung menatap pada anak nya yang kini tengah duduk bersila di atas karpet bulu halus nan lembut dengan wajah cemberut kesal.


“Dih, kesel kenapa? Kamu mau main sama Mamim? Gak bosen emang? Pagi, siang sampai sore sama Mamim terus, Taka kamu gak bisa banget sih lihat Mamim kamu seneng sebentar aja. Besok itu Papip kamu pergi, Mamim mau nyetok kangen dulu,”


“Clau!” Kiano langsung menegur istrinya, karena masih saja sudah menggoda anak laki laki nya.


“Papip mau kemana?” tanya Taka langsung penasaran.


“Holiday!” jawab Claudia kembali berbohong, hingga membuat Kiano benar benar merasa sangat di uji batas kesabaran nya.


“Sini Sayang,” ucap Kiano melambaikan tangan nya ke arah Taka.


“Aku disini, Sayang,” jawab Claudia sambil menahan tawa nya saat melihat wajah Taka yang semakin menatap nya marah.


Brukk!


“Takaaaa!” pekik Claudia terkejut saat dengan tiba tiba Taka justru langsung lompat dan menyempil di tengah tengah orang tuanya.


“Papip mau kemana?” tanya Taka yang mengabaikan pekikan sang ibu.


Menghela napas nya dengan berat, Kiano langsung mengangkat tubuh Taka dan memindahkan nya ke samping, tentu saja hal itu membuat protes. Bukan Taka yang protes, melainkan istrinya karena kini Kiano membelakangi Claudia.


“Kakakkk!” rengek Claudia mendengus dengan kesal.


“Besok, Papi ada tugas ke luar kota. Taka di rumah sama Mami, jangan nakal dan jangan bertengkar terus sama Mami, ya?” ucap Kiano dengan begitu lembut kepada anak nya.


Taka hanya diam, ia kembali melirik wajah ibunya yang berada di belakang sang ayah, lalu kembali menatap ayah nya lagi, dan ia lakukan itu sampai beberapa kali, hingga pada akhirnya ia hanya bisa menghela napas nya berat.


“Papip lama di luar kota nya?” tanya Taka dengan eskpresi wajah yang sulit di artikan.


“Mungkin satu minggu,” jawab Kiano sambil mengusap wajah Taka.


“Kalau begitu, Taka di rumah Oma saja, bagaimana?” tawar Taka sedikit melirik ke arah ibu nya, yang kini terlihat langsung membulatkan mata nya dengan sempurna.


Bukan tanpa alasan Taka meminta izin seperti itu. Ia tahu, jika ia satu minggu di rumah bersama ibu nya seorang diri, tanpa ayah nya. Sudah pasti, hidup nya akan berantakan. Dan Taka tidak mau itu terjadi.


Ia masih ingat dengan jelas, saat biasanya sang ayah pergi ke luar kota. Ia selalu menjadi eksperimen ibu nya yang sangat tidak jelas, dan tentu saja mengganggu nya.


Andai Oma Ella dan Opa Stive ada di Indonesia, tentu saja Taka tidak akan khawatir, karena sudah pasti oma Ella akan datang ke rumah nya. Namun, kini mereka sedang tidak ada, dan harapan Taka saat ini hanya oma Kiara dan opa Kaisar.


‘Hanya sisa mereka penyelamat ku,’ gumam Taka dalam hati.