
...~Happy Reading~...
“Aku sudah membuat klarifikasi, bahwa itu hanya kesalahpahaman saja, lagipula masalah itu juga sudah lama selesai!” balas laki laki itu yang tak lain memanglah Andrew, mantan kekasih Claudia.
“Apa menurut mu dengan membuat klarifikasi dan meminta maaf di sosial media, masalah hilang begitu saja? Bagaimana dengan luka yang di buat ibu mu?” sindir Kiano dengan menahan amarah nya.
“Apa kau tidak lihat, ibu ku sudah tidak ada. Aku harus segera pergi, kenapa kau justru malah menahan ku disini!” ucap Andrew lagi dengan kesal, karena ia juga takut jika ketahuan oleh wartawan.
“Lagipula, aku heran kenapa kau sangat ikut campur urusan ku dan Claudi. Apakah kau salah satu bodyguard ayah nya Claudi?” imbuh Andrew menatap sinis pada Kiano.
“Aku suaminya!” jawab Kiano semakin menatap tajam pada laki laki tersebut.
“Hahaha, kau bercanda! Jangan terlalu mimpi bermimpi Bung! Claudi itu masih sekolah, tidak mungkin dia menikah apalagi dengan mu, ckck! Tapi—“ Seketika itu juga, Andrew terdiam dan tidak bisa meneruskan kata kata nya.
Benarkah Claudia sudah menikah? Tidak ingin percaya, namun ada sesuatu yang memaksa nya harus percaya bahwa memang benar Claudia sudah menikah.
‘Arrkkhhh! Shittt!’ umpat Andrew dalam hati dan langsung mengusap wajah nya dengan kasar.
“Auwuhh!” pekik Andrew tiba tiba langsung mengusap tangan nya yang terasa sedikit panas, hinga membuat Kiano langsung mengerutkan dahi.
“A—aku harus pergi. Terserah siapapun kamu, aku tidak perduli.” Imbuh Andrew lalu segera menyuruh orang nya untuk kembali mendorong brankar nya dan pergi.
“Tunggu dulu!” Cegah Kiano langsung menahan brankar yang di bawa oleh Andrew.
“Apalagi?” tanya Andrew berusaha untuk menutupi kegugupan nya, “Aku harus segera memakamkan ibu ku,” imbuh nya lalu menepis tangan Kiano secara kasar dan segera pergi memasuki lift.
...🍁🍁🍁🍁...
Sementara itu, di ruang kendali, ayah Stive dan bunda Ella masih saja berdebat. Hingga saat tiba tiba suara getaran ponsel di dalam saku membuat nya terhenti.
“Ada apa Clay?” tanya ayah Stive saat sudah mengangkat panggilan telfon yang ternyata dari anak sulung nya.
“Aku sudah mendapatkan pendonor untuk Claudi, jadi—“
“Hah! Bagaimana bisa?” tanya Clayton begitu terkejut, “Ayah, Claudi lagi hamil dan keadaan nya sangat lemah, bagaimana bisa dia hilang?”
“Jangan salahkan aku, salahkan adik ipar mu itu!” kata ayah Stive ketus.
“Jangan salahkan Kiano, ini semua salah ayah kamu Clay.” ucap bunda Ella yang langsung merebut ponsel suami nya dan berbicara dengan putra sulung nya, “Ayah kamu bersikeras untuk mengorbankan janin Claudi, dan Claudi mendengar nya, itulah sebab nya dia pergi. Jadi ini semua salah ayah kamu, bukan Kiano.” Imbuh bunda Ella yang kini sudah terisak.
“Bunda tenang dulu, Clay akan segera ke sana. Clay yakin, kalau Claudi masih di rumah sakit itu, tenang ya Bun,” ujar Clayton begitu lembut kepada bunda nya.
“Sudahlah Clay, cepat kemari dan bantu aku mencari adik mu!” ucap ayah Stive kembali merebut ponsel nya, dan tanpa menunggu jawaban dari Clayton lagi, laki laki tua itu segera mematikan sambungan telfon nya begitu saja, agar istrinya tidak bisa lagi berbicara dan mengadu kepada anak sulung nya.
“Jahat kamu Mas, hiks hiks hiks.” Bunda Ella langsung memukul mukul dada suami nya, membuat ayah Stive dengan cepat menarik tubuh istrinya dan memeluk nya dengan erat.
“Kenapa kamu terus menyalahkan Kiano? Dia juga sama kehilangan Claudi seperti kita hiks hiks, aku yakin dia lebih terluka karena kehilangan dua orang sekaligus.”
“Dia masih berat dengan anak nya, itu berarti dia tidak bersungguh sungguh mencintai Claudi!” ucap ayah Stive datar.
“Mas, aku yakin kalau Kiano sudah mencintai Claudi. Dia begitu karena dia juga menginginkan anak itu, dan aku yakin kalau kamu di posisi nya pasti kamu juga akan bersikap sama, biar bagaimana pun anak—“
“Tidak!” jawab ayah Stive lagi dengan cepat, “Jangan samakan aku dengan siapapun, karena bagiku hanya kamu yang terpenting.”
Seketika itu juga bunda Ella langsung menghentikan tangisan nya. Benar, suaminya memang berbeda degan yang lain. Dan memang hanya dirinya lah yang paling penting selama ini.
Stive seolah tidak butuh seorang anak, yang dia butuhkan hanya istri, istri dan istri. Namun itu dulu, saat sebelum ada Claudia lahir. Ella sangat ingat bagaimana perlakuan nya Stive dulu saat baru memiliki anak satu yakni Clayton.
Bahkan hingga sekarang, Stive masih sering merasa cemburu dan tersaingi oleh anak laki laki nya sendiri. Padahal sudah sangat jelas bahwa Clayton sudah memiliki istri dan juga anak.
‘Entah terbuat dari apa otak dan hati suami ku ini.’ gumam bunda Ella dalam hati sambil menatap suaminya dengan tatapan wajah datar.
...~To be continue .......