
...~Happy Reading~...
Sepulang sekolah, Claudia hendak pergi ke rumah Hani. Namun, entah mengapa, tiba tiba mood nya langsung berubah begitu saja. Padahal, sejak pagi tadi ia sudah sangat antusias menunggu pulang sekolah agar bisa bersantai di rumah sahabat nya.
Namun, saat mendengar bel pulang sekolah, entah mengapa ia menjadi sangat bad mood.
"Lo serius gak jadi ke rumah gue?" tanya Hani sambil membereskan peralatan sekolah nya ke dalam tas.
"Serius, entahlah gue tiba tiba bad mood banget. Males gue, butuh amunisi dari ayank!" kata Claudia seketika langsung terkekeh saat menyebut kata ayank.
Sepertinya, kata itu kurang cocok untuk seorang Kiano. Laki laki dewasa yang berprofesi sebagai dokter. Sangat tidak pantas di sebut sebagai Ayank, karena terlalu lebay.
"Ckckck, astaga Clau. Mau sampai kapan sih lo mempertahankan hubungan lo sama dia?" tanya Hani berdecak kesal.
Hani mengira, bahwa Claudia masih mencintai Andrew dan bucin pada artis musisi tersebut. Maka dari itu ia begitu kesal dan malas melihat tingkah lebay dari sahabat nya.
"Sampai gue mati!" jawab Claudia dengan sangat yakin, "Apapun yang terjadi, gue bakal berjuang sampai titik darah penghabisan!"
"Lebay banget lo sumpah!" cetus Hani langsung menggelengkan kepala nya hingga membuat Claudia langsung terkekeh.
"Ah iya, gue nebeng yah. Sampai perempatan depan sana. Biar makin irit ongkos taksi gue," kata Claudia seketika membuat pergerakan tangan Hani terhenti.
"Apakah om Stive bangkrut sampai anak nya harus perhitungan soal biaya transportasi?" tanya Hani dengan ekspresi wajah datar nya, "Ah atau mungkin lo—"
"Bisa ulangi lagi gak ngomong nya? Gue siapin record nya nih, biar bisa langsung gue kirim ke bokap!" ancam Claudia hingga membuat Hani semakin memberengut kesal.
Keduanya pun berjalan beriringan menuju parkir. Sepanjang jalan, keduanya nampak saling bercanda dan tertawa bersama hingga pada akhirnya mereka sampai di parkiran.
"Halo sweetie," sapa seorang laki laki remaja yang tiba tiba datang dan menahan pergerakan tangan Claudia yang hendak membuka pintu mobil.
"Yang ku tanya Claudi bukan Kudis!" jawab nya tak kalah ketus.
"Anjir lo kenapa selalu cari ribut sih sama gue hah!" seru gadis itu langsung berkacak pinggang.
"Orang gue mau cari Claudi kok, gak ada yang mau cari ribut apalagi sama cewek kaya lo!" balas nya semakin kesal.
"Lo—"
"Dirga, Hani cukuppp berhentiii!" bentak Claudia dengan begitu kencang hingga membuat perhatian beberapa orang yang berada di sana.
"Mood gue makin hancur nih, baiklah. Lanjutkan pertarungan kalian! Silahkan!!" Ucap Claudia lagi, lalu ia segera masuk ke dalam mobil dan menyuruh supir untuk segera jalan.
"Anjirr! Claudiaaa itu mobil gue woyyy!" teriak Hani berusaha mengejar namun tidak di hiraukan oleh Claudia dan juga supir pribadi nya.
Sementara itu, di dalam mobil Claudia langsung tertawa saat melihat kekesalan yang di alami oleh sahabat nya.
"Hihihi lagian siapa suruh debat mulu!" gumam Claudi pelan, "Lama lama gue sumpahin kalian berdua jodoh. Tiap hari debat gak kenal tempat. Heran, udah kaya bocah TK aja." imbuh nya lalu menghela napas dengan kasar.
"Maaf Non, saya—" ujar pak Supir seraya menatap Claudia dari arah spion depan.
"Tenang aja Pak, Hani akan pulang dengan aman kok. Percaya sama saya, dan kalau sampai terjadi sesuatu dengan Hani, saya yang bertanggung jawab! Jadi bapak tenang aja ya," ucap Claudia yang tahu bahwa supir Hani merasa cemas sekaligus takut karena meninggalkan anak majikan nya di sekolah sedangkan ia malah mengantarkan orang lain pulang.
"Oh ya pak ke Nolan Hospital ya, tapi jangan bilang bilang Hani. Nanti bilang aja, Bapak nganter saya pulang ke rumah!" imbuh Claudia.
"Baik Non," jawab pak Supir lalu ia kembali fokus menyetir menuju rumah sakit yang di tunjuk oleh Claudia.
...~To be continue.., ...