
...~Happy Reading~...
Cklek!
Mendengar suara pintu yang terbuka, sontak membuat semua anggota keluarga langsung beranjak dan bangkit dari tempat duduk nya.
"Bagaimana keadaan adik saya?"
"Bagaimana keadaan anak kami?"
"Om, gimana keadaan Claudi?"
Tanya semuanya secara bersamaan, hingga membuat Bastian, laki laki paruh baya itu hanya mampu menghela napas nya dengan cukup berat.
Pasal nya, keadaan Claudia saat ini memang lah sudah cukup parah. Dirinya bingung harus bagaimana, di dalam sana, Claudia sudah sadarkan diri.
Tatapan nya begitu sayu dengan suara yang semakin melemah dan wajah pucat. Meminta agar Bastian tetap mempertahankan kandungan nya. Sedangkan disini, keluarga dari Claudia, termasuk keponakan nya yang menjadi istri dari wanita di dalam sana, tentu saja semua ingin yang terbaik untuk kesembuhan Claudia.
"Om," panggil Kiano lagi saat om Bastian hanya diam seperti orang linglung.
Om Bastian hanya mampu menggelengkan kepala nya dengan berat hati, "Keadaan nya semakin kritis. Kita harus segera menemukan donor sumsum tulang belakang yang cocok dan mengoperasi nya." tutur km Bastian seraya menghela napas nya berat.
"Om, lakukan yang terbaik untuk istri Kiano. Kami sudah mendapatkan pendonor nya—"
"Tapi masalah nya, Claudia sendiri menolak untuk melakukan operasi!" kata om Bastian dengan berat hati langsung memotong pembicaraan Kiano.
"Pasien sudah sadar, dan dia mengancam akan kabur lagi jika memang kalian semua masih memaksa nya untuk melakukan operasi sekarang, karena dia tahu bahwa bayi yang ada di dalam kandungan nya masih sangat kecil. Dan dia meminta kalian agar menunggu hingga bulan depan," imbuh om Bastian lagi.
"Satu bulan lagi? Apa anda pikir satu bulan lagi, putri ku masih bisa bertahan hah!" bentak ayah Stive tiba tiba hingga membuat semua orang terkejut.
"Kita hanya bisa berdoa untuk yang terbaik Dan kami disini akan membantu semaksimal mungkin," ujar om Bastian berusaha untuk menenangkan besar dari kakak nya tersebut.
"Om, Kiano bisa menemui Claudi?" tanya Kiano setelah menarik napas nya dengan cukup panjang.
Setelah mendapatkan persetujuan dari om nya, ia pun segera memasuki ruangan tersebut untuk menemui istri nya.
"Kakak... " gumam Claudia begitu lirih sambil tersenyum begitu teduh.
Kiano sangat rindu keceriaan istri nya, ia sangat rindu teriakan istrinya, dan ia sangat rindu akan ke bar bar an istrinya.
Suara Claudia yang memanggil nya dengan sebutan kakak, biasanya akan di sertai dengan suara teriakan dan larian Claudia yang akan meminta gendong padanya.
Sementara kini, istrinya tengah terbaring begitu lemah dan tak berdaya. Wajah pucat dengan tatapan mata uang begitu sayu, membuat wanita itu terlihat sangat jelas bahwa sedang tidak baik baik saja.
Tanpa sadar, air mata Kiano menetes membasahi wajah nya. Dada nya kian terasa sesak, seperti tertusuk ribuan jarum.
"Sayang... " panggil Kiano dengan suara yang bergetar.
"Hihihi, kakak lucu kalau panggil Claudi gitu," jawab Claudia seraya terkekeh pelan. Meskipun suaranya begitu lirih dan hampir tak terdengar, namun Kiano masih mampu mendengar nya dengan sangat jelas.
Bahkan, raut wajah Claudia yang mencoba untuk tersenyum dan terlihat tenang seolah tidak merasakan apapun, justru malah membuat hati Kiano semakin sakit tak berdarah.
"Kamu harus sembuh, harus. Jangan tinggalkan aku, hiks hiks hiks." Tiba tiba Kiano langsung memeluk Claudia dengan begitu erat sambil menangis terisak.
"Kenapa kakak nangis? Kakak kaya anak kecil." Claudia kembali bergumam tepat di belakang telinga Kiano, hingga membuat tangis laki laki itu semakin pecah di pelukan istri nya.
...~To be continue... ...