
...~Happy Reading~...
Usai makan siang bersama om Bastian, Claudia memutuskan untuk pulang ke rumah. Ia mengurungkan niat untuk menemui Kiano di ruangan nya. Mood nya benar benar hancur saat melihat dengan mata kepala nya sendiri, bagaimana suaminya berpelukan di toilet bersama seorang gadis lain.
“Arrrkkhhh!” membayangkan hal itu saja sudah membuat Claudia ingin mengamuk, rasanya ia benar benar marah namun kembali lagi ia cukup sadar diri.
Disini, dirinya lah yang seharusnya di sebut pelakor atau perebut, karena ia yang memaksa Kiano dan merebut Kiano dari wanita masa lalu nya. Namun, jauh di dalam lubuk hatinya ia merasa sangat tidak rela.
“Pak berhenti!” ucap Claudia meminta gara supir taksi yang membawa nya itu berhenti di sebuah taman yang tak jauh dari komplek perumahan nya, “Saya turun disini saja Pak.”
Ia bergegas segera turun setelah membayar ongkos taksi. Wajah nya langsung berbinar begitu bahagia terlebih saat ia melihat begitu banyak penjual makanan di pinggir jalan.
Salah satu impian dan cita cita Claudia sejak dulu, ia sangat ingin berjelajah kuliner pinggir jalan, terutama pedagang yang menggunakan gerobak. Terinspirasi dari Food Vlogger yang sering ia lihat di Youtube. Namun ia belum bisa mewujudkan nya.
Bagaimana ia bisa mewujudkan mimpi itu, jika orang suruhan ayah nya selalu on time hampir dua puluh empat jam mengikuti nya, bahkan saat sekolah sekalipun. Jangankan untuk berjalan jalan di pinggiran taman seperti ini, setiap kali ia menginap di rumah Hani, sudah pasti ia harus membawa pasukan paling minim tiga orang bodyguard yang akan ikut dengan nya.
Akan tetapi, sejak ia menikah. Ayah Stive memberhentikan bodyguard Claudia, karena permintaan nya sendiri, itu adalah sebagai salah satu syarat agar dirinya mau di paksa menikah kala itu.
“Permisi Ibu, saya mau yang ini sama yang ini, itu juga deh!” ucap Claudia seolah sudah tidak sabar ketika menghampiri sebuah gerobak siomay.
“Pakai sambel Neng?” tanya ibu penjual.
Bagaimana tidak, dimana mana yang namanya sambal sudah pasti pedas. Bagaimana bisa ia bertanya seperti itu? Batin ibu penjual dengan bingung.
“Skip aja Bu, pakai saos tapi dikit aja. Sedikit aja Bu, setetes!” imbuh Claudia sedikit kikuk.
Setelah mendapatkan makanan nya, Claudia segera mengeluarkan uang lembaran seratus ribuan dari dompet nya, lalu pergi, dan bersiap menuju pedagang selanjut nya.
“Neng, kembalian nya,” ucap ibu penjual dengan memberikan beberapa lembaran uang kepada Claudia.
“Kok—“ Ia langsung mengerutkan dahinya saat menerima uang kembalian, berupa uang pecahan, dua lembar dua puluh ribuan, selembar sepuluh ribuan dan lima lembar lima ribuan serta empat lembar dua ribuan.
Claudia nampak semakin bingung kala begitu banyak uang recehan di tangan nya saat ini, “Kenapa atuh Neng? Kembalian nya delapan puluh tiga ya, siomay nya tujuh belas ribu.” Jelas si ibu penjual.
“I—iya terimakasih Ibu,” jawab Claudia walau sedikit bingung, “Ah iya, Ibu boleh minta satu kantong plastik nya lagi?” tanya Claudia yang langsung di balas anggukan kepala oleh si ibu penjual seraya memberikan satu kantung kecil plastik kosong.
“Ternyata bener kata mereka, kalau beli makanan di gerobak itu murah. Tapi ini kelewat murah nya,” Claudia terus bergumam pelan sambil mengamati beberapa pedagang lain nya.
“Ah lupakan saja. Kita beli apalagi ya? Beli aja dulu, nanti baru kita pesta di rumah,” imbuh nya memekik bahagia, “Ah iya dimana cilor sama apa satu lagi itu, emmtr cipung eh kayaknya bukan cipung deh! Entahlah, yang ku inget mereka ada cici nya, pokoknya aku harus dapat,” gumam Claudia menggelengkan kepala nya, lalu ia segera melanjutkan aksi kulineran nya di taman tersebut sebelum akhirnya ia kembali mencari taksi dan pulang ke rumah dengan begitu banyak tentengan kantung plastik.
...~To be continue ......