Bad Pregnancy

Bad Pregnancy
Sindiran om Abas



...~Happy Reading~...


Setelah mengantarkan Fayya naik taksi untuk pulang, ia pun segera bergegas untuk kembali ke ruangan nya. Sapaan demi sapaan dari karyawan dan beberapa pasien yang berpapasan dengan nya, membuat nya harus selalu menampilkan senyuman ramah.


Hingga saat dirinya baru saja keluar lift, ia tidak sengaja bertemu dengan om Bastian. Laki laki paruh baya itu langsung menatap nya dengan begitu tajam seolah seperti singa yang bersiap akan menerkam mangsa nya.


“Kenapa Om?” tanya Kiano saat keluar lift dan mendekati om Bastian.


“Jadi perempuan itu dokter Fayya?” jawab om Bastian dengan sebuah pertanyaan kembali.


“Perempuan itu? Maksud nya?” Kiano mengerutkan dahi nya, ia benar benar tidak mengerti kemana arah pembicaraan yang di ucapkan oleh om Bastian.


“Tadi istri mu datang, dan dia bilang kau sedang ada tamu!” ucap om Bastian dengan ekspresi wajah datarnya, hingga membuat Kiano langsung membulatkan matanya dengan sempurna.


“A—apakah dia masuk ke ruangan ku?” tanya Kiano dengan jantung yang berdebar kencang.


Pasal nya, ia tadi seperti mendengar suara pintu yang terbuka, namun ia tidak begitu memperhatikan karena fokus nya hanya kepada tangisan Fayya di dalam toilet. Maka dari itu, ia merasa jantung nya seperti akan lepas dari tempat nya, membayangkan jika memang benar Claudia sampai memasuki ruangan nya dan melihat dirinya dengan Fayya.


“Jelas dia masuk! Aku yang mengantarkan dia,” jawab om Bastian berdecak, “Apa yang kau lakukan dengan Fayya? Kenapa Claudia langsung memutuskan untuk pulang sebelum menemui mu?” imbuh om Bastian bertanya hingga membuat Kiano benar benar merutuki dirinya sendiri.


“Bukankah seharusnya dia pergi ke rumah teman nya? Kenapa tiba tiba datang kesini?” gumam Kiano pelan namun masih bisa terdengar oleh om Bastian.


“Apakah dia harus punya alasan untuk kesini? Apakah dia harus terluka parah dulu baru bisa datang ke rumah sakit dengan tiba tiba?” seru om Bastian tertahan dan langsung mematahkan gumaman Kiano.


Sementara itu, di tempat yang berbeda, kini Claudia sudah tiba di rumah nya dengan membawa beberapa kantung plastik warna warni di tangan nya.


“Astaga Non, itu apa?” tanya salah satu pekerja di rumah nya yang langsung menghampiri Claudia.


“Jajan!” jawab nya dengan wajah cemberut lantaran masih kesal dengan pertemuaan nya tadi, “Mbak kapan datang nya?” tanya Claudia mengerutkan dahi nya.


“Tadi pagi, pas banget saat Non Claudi berangkat sekolah, Mbak dateng,” ujar wanita tersebut yang bernama mbak Niken.


“Oh pantesan, sama Bunda kesini nya?” tanya Claudia lagi yang langsung di balas anggukan kepala oleh mbak Niken.


Mbak Niken adalah pengasuh Claudia sejak bayi, dan ia di kirim oleh bunda Ella agar ikut ke rumah baru Kiano pagi tadi. Dan mulai hari ini, mbak Niken lah yang akan menggantikan pembantu sebelum nya yang selalu pulang-pergi setiap harinya.


"Oh ya Mbak, tolong pindahin ke piring ya, nanti Clau turun. Mau mandi dulu biar otak Clau encer!” imbuh nya sedikit menghentakkan kaki ke lantai lalu bergegas pergi setelah memberikan kantung plastik itu kepada mbak Niken.


‘Astaga Non, udah gede bentar lagi udah mau punya anak, kenapa masih aja gak berubah sih? Masih aja gemesin begitu,’ gumam mbak Niken terkekeh, ia memang selalu merasa gemas dengan anak majikan nya, apalagi jika Claudia sedang kesal atau marah. Wajahnya bukan menakutkan justru malah semakin terlihat gemas.


‘Eh tapi, emang orang mandi bisa ngencerin otak ya?’ gumam mbak Niken dalam hati nya seraya mengerutkan dahi saat menyadari kata kata terakhir dari Claudia sebelum naik ke lantai dua.


...~To be continue .......