Bad Pregnancy

Bad Pregnancy
Extra part 4



...~Happy Reading~...


"Kakak udah mau berangkat?" tanya Claudia seraya berlari mengejar suami nya yang sudah berjalan mendekati pintu.


"Kamu buat ulah apalagi? Suara bunda sampai kedengaran dari bawah," kata Kisno langsung mengecup kening istri nya.


"Ckckc, seperti biasa, ibu mertua kakak itu suka lebay. Orang Claudi cuma mandiin Taka doang, eh bunda dateng dan teriak, Astaghfirullah Claudi bla bla bla bla!" ujar wanita ibu satu anak itu dengan memperagakan bagaimana gaya bicara bunda Ella.


"Kamu mandiin di Wastafel lagi?" tebak Kiano langsung menghela napas nya berat.


"Hehehe," Claudia langsung menyengir kuda saat menatap wajah suami nya, "Sayang ku, anak kakak itu udah nyaman mandi di sana. Jadi dia maunya emang di sana," imbuh Claudia masih enggan mengaku salah.


"Tapi—"


"Sudah sudah, sana berangkat kerja, jangan banyak protes, nanti kamu makin tua kaya Bunda loh. Gak kasihan apa sama istri kakak, masa pagi pagi udah dapet ceramah dari dua orang," keluh Claudia langsung memanyunkan bibir nya.


Untuk sesaat Kiano terdiam, ia memejamkan matanya lalu menghela napas dengan sedikit berat, "Ya udah, aku berangkat dulu. Kamu di rumah hati hati sama Bunda," ujar Kiano begitu lembut sambil mengusap wajah istri nya.


"Oke bos!" jawab Claudia sambil memberikan dua jempol nya kepada Kiano, "Kiss nya mana?"


Seketika itu juga, bibir Kiano langsung terangkat dan membentuk sebuah lengkungan yang cukup lebar.


Cup!


Kiano mengecup kening Claudia, lalu kembali menatap wajah istri kecil nya itu dengan seksama.


"Nah kan, mulai ngajak ribut!" ucap Claudia langsung membuka matanya sambil memanyunkan bibir membuat laki laki itu langsung terkekeh.


"Siapa yang ngajak ribut sih? Aku mau berangkat kerja, Sayang!" kata Kiano masih dengan senyuman manis di wajah nya.


Ia tahu bahwa istrinya tengah merajuk, lantaran ia hanya mengecup kening nya saja. Itu semua ia lakukan hanya ingin menggoda Claudia.


"Kakakkk!" rengek Claudia semakin kesal saat melihat suami nya justru seperti sedang menahan tawa.


"Baiklah, kalau begitu biar Claudi yang mulai!" imbuh wanita itu, lalu dengan tiba tiba ia langsung lompat ke tubuh Kiano hingga membuat laki laki itu mau tak mau langsung menahan tubuh istrinya agar tidak jatuh.


Kini, Claudia sudah mengalungkan kedua tangan nya di leher Kiano, dengan wajah yang lebih tinggi di atas wajah Kiano, membuatnya begitu leluasa menatap wajah suami nya.


"Kamu mau apa hem? Mau ikut kerja?" tanya Kiano masih dengan menahan tawa.


"Mau kasih kakak bekal," bisik Claudia di telinga Kiano.


Detik selanjutnya, Claudia langsung mencium bibir Kiano dengan begitu cepat membuat laki laki itu sedikit terkejut. Namun, hanya sebentar, lalu Kiano juga segera membalas ciuman itu dengan tangan yang masih menahan bagian tubuh bawah istrinya.


"Dan ini bekal nya," imbuh Claudia dengan senyuman menyeringai.


"Sayang!" pekik Kiano sambil memejamkan mata nya erat saat merasakan sapuan lidah istrinya mulai menjelajahi area leher nya.


Kiano tidak menyangka jika ternyata istrinya bisa berbuat senekat itu. Ia pikir, Claudia hanya akan mencium bibir nya seperti biasa. Akan tetapi, ia salah perkiraan, Claudia justru mengecup leher nya dan membuat beberapa tanda merah di sana.


Bahkan, Claudia seolah sengaja membuat tanda itu berada di area yang dapat terlihat, area yang tidak tertutup kerah kemeja.


"Oke sudah. Kakak berangkat sekarang! Sudah telat kan. Jangan nakal nakal ya Papip ku sayang, inget ada mamim cantik di rumah sama Taka," kata Claudia dengan santai, lalu ia turun dari gendongan suami nya dan segera pergi begitu saja setelah mencium tangan Kiano.


Sementara itu, Kiano kini hanya bisa pasrah melihat kepergian istrinya. Ia menghela napas nya dengan berat sambil mengusap wajah nya dengan sedikit kasar.


Ia begitu menyesal sudah menggoda istrinya di waktu yang tidak tepat. Kalau saja, hari ini ia tidak ada janji penting di rumah sakit. Tentu saja ia tidak akan bekerja dan segera membalas perbuatan istri nya itu.


Namun, apa boleh buat, karena dirinya sudah memiliki janji penting. Akhirnya, mau tak mau ia harus tetap berangkat kerja dengan beberapa tanda yang tercetak jelas di leher nya.