
...~Happy Reading~...
Sementara itu, saat Caudia hendak dari dalam toilet, tiba tiba ia merasa kepala nya berdenyut dengan sangat hebat. Perut nya kembali kram dan sakit luar biasa. Hingga membuat nya harus berpegangan pada pintu bilik toilet.
“Sshhh auuwhhh! Huh huh!” Claudia sampai menggigit bibir bawah nya sambil sebelah tangan nya lagi ia gunakan untuk mengusap perut besar nya.
“Jangan sekarang plis, aku mohon Tuhan jangan sekarang,” gumam nya semakin tak kuasa menahan rasa sakit.
Bruggg!
Tubuh Claudia ambruk di lantai. Namun ia masih berusaha untuk bangkit, ia mengambil posisi duduk bersandar pada dinding di samping wastafel, menikmati remasan kuat pada perut dan nyeri di kepala nya.
Ia sangat berharap akan ada seseorang yang masuk ke dalam toilet dan membantu nya. Namun hingga hampir sepuluh menit berlalu, Claudia menahan rasa sakit itu sendirian. Tidak ada satu orang pun yang masuk ke dalam toilet.
“K—kakak ... Auuwhhhhsshhhh!” pekik nya tertahan dengan suara yang semakin melemah.
Ia merasakan adanya sesuatu yang basah mulai mengalir di hidung dan pangkal paha nya. Keringat nya bercucuran membasahi dahi hingga sebagian wajah nya. Sungguh, kini pikiran Claudia semakin berkelana sangat jauh.
Akankah ini saatnya ia pergi? Haruskah dirinya mati di dalam toilet restauran? Batin Claudia ingin menangis namun seolah tak bisa karena tenaga nya yang sudah habis.
Hingga, setelah beberapa saat, ketika dirinya sudah di ambang batas kesadaran, tiba tiba ia mendengar suara orang yang tengah mengobrol tertawa hendak masuk ke dalam toilet.
“T—tolong ...” gumam Claudia begitu lirih hampir tak terdengar, ia terus memejamkan mata nya sambil menggigit bibir bawah. Berusaha untuk tetap sadar dan meminta bantuan, namun rasanya sangat sulit.
‘A—ayah hiks hiks hiks. Tolongin Claudi, Ayah hiks hiks.” Tangis Claudia di dalam hatinya terus menjerit meminta bantuan.
Cklek!
“Haha iya tahu nanti deh kapan ka—“ ucapan seorang wanita langsung terhenti saat sudah membuka pintu toilet dan menemukan tubuh Claudia yang sudah berlumuran darah di lantai.
“Kenapa berhen—ti sih ... “ sambung wanita satu lagi saat teman nya terlihat mematung tak kunjung masuk.
“Tolongggg!” teriak wanita satu lagi dan langsung berlari meminta bantuan, “Tolong ada orang jatuh, tolong!”
“Tolong, ada wanita hamil pingsan di toilet, tolong!”
Deg!
Detak jantung Kiano langsung berdegup begitu kencang saat mendengar suara teriakan minta tolong dari tamu yang lain.
“No aku—“
Brakkk!
Dengan cepat, Kiano langsung mendorong kursi nya hingga terjatuh ke belakang, ia segera berlari menuju toilet dan mengabaikan Fayya begitu saja.
Percayalah, kini jantung nya sedang tidka baik baik saja. Ia ingin menolak firasat buruk nya, namun ia tidak bisa. Berbagai perasaan yang negatif terus hinggap dalam benar nya.
“Kiano tunggu! Kamu mau kemana?” tanya fayya ikut berdiri dan segera menyusul Kiano.
Dan saat ketika Kiano sudah tiba di toilet, ia sudah melihat beberapa karyawan yang berkerumum di depan pintu. Membuat nya sangat sulit untuk melihat siapa wanita tersebut.
“Minggir!” ucap Kiano dingin dan langsung menggeser beberapa orang agar tidak menghalangi jalan.
Jeduarrr!
Dan benar saja, saat ia sudah berhasil masuk. Ia menemukan istrinya yang sudah tergeletak lemah tengah tersenyum menatap ke arah nya. Tatapan mata yang begitu sayu sambil tangan nya memeluk perut besar nya, membuat air mata Kiano langsung runtuh tanpa sadar.
“Clau!” Teriak Kiano dengan cepat langsung menghampiri istri nya, “Kita ke rumah sakit!” imbuh Kiano segera menggendong istrinya dan membawa nya keluar dari restauran.
...~To be cntinue .......