
KEBENARANNYA
"Hei, Indra. Apa semua salju ini berasal dari orang itu?" Tanya Miller sambil berbisik.
"Kau benar. Namun, sepertinya dia tidak bisa menghilangkannya. Aneh bukan?" jawab Indra.
"Aku bisa mendengar itu" ujar Avalance menyeletuk mereka.
"Haha, aku hanya bercanda" balas Indra.
Mereka berempat berjalan menuju ke Utara dengan membawa beberapa bekal yang dibeli dari kota dan ditemani oleh salju dari kutukan milik Avalance.
"Tetapi aku kagum denganmu, Indra. Sebagai anak dari saudaraku Ignis. Aku akui kau memang lebih pintar dari ayahmu" ujar Avalance.
"Oh ya? Kenapa begitu?" Indra bertanya bingung.
"Bahkan jika kita sempat bertarung tadi, kau sudah tau bahwa akan ada bala bantuan" jawab Avalance.
Suasana menjadi hening sejenak.
"Siapa itu Ignis, Indra?" Tanya Misha memecah suasana.
"Ignis adalah nama dari mendiang ayahku" jawab Indra
"Mendiang? Sejak kapan ayahmu mati?" Avalance bertanya.
"Tujuh tahun lalu" jawab Indra.
"Tidak, ayahmu tidak pernah mati. Terakhir kali aku bertemu dengannya adalah tahun lalu dan dia sehat-sehat saja" ujar Avalance.
"Tidak-tidak. Jika dia memang masih hidup, desaku dulu pasti masih utuh hingga sekarang" balas Indra yang lalu memberhentikan langkahnya.
"Itulah masalahnya, Indra. Dalang dari kejadian itu adalah Ignis sendiri" ujar Avalance lagi.
Indra terdiam mendengar itu. Ia hanya diam ditengah badai salju yang turun. Misha dan Miller saling menatap mereka juga ikut terkejut mendengarnya.
"Aku paham perasaanmu, Indra. Kau mungkin bingung dengan pernyataanku. Namun, itulah kenyataannya. Aku juga tidak menyangka kau bisa selamat dari insiden itu" lanjut Avalance.
"Tapi bukankah kau bertemu dengannya tahun lalu? Itu artinya dia punya alasan tertentu bukan?" Indra bertanya lagi, kali ini dengan raut wajahnya yang cemas.
"Tidak … aku memang bertemu dengan ayahmu. Tetapi, bukan sebagai sekutu" jawab Avalance.
Indra terdiam bingung.
"Indra, aku tau kau sulit mempercayainya. Namun, aku juga tidak mengetahui kejadian sebenarnya" ujar Avalance lagi.
"Tidak mungkin, mustahil jika ayahku adalah dalang dari kematian ibuku!" Indra membalas dengan raut wajahnya yang bingung bercampur dengan ketakutan.
"Aku memang tidak tau banyak tentang kejadian itu. Namun, kedua adikmu mengetahuinya" ujar Avalance.
"Apa maksudmu? Aku tidak punya adik" balas Indra yang kini tambah bingung.
"Adik tiri lebih tepatnya" ujar Avalance
"Ignael dan Iglea, mereka pasti mengetahuinya" lanjut Avalance.
Miller dan Misha awalnya khawatir. Namun, itu adalah Indra. Mereka tau Indra hanya perlu sedikit waktu untuk berpikir lebih jernih.
Akhirnya mereka kembali melanjutkan perjalanan mereka. Beberapa lama kemudian, mereka sudah hampir separuh jalan.
"Bukankah musuh akan dengan mudah untuk melacakmu dengan semua salju ini?" Miller bertanya.
"Benar, bahkan saat menuju Lunar aku sempat dibuntuti. Namun, itu bukan masalah besar bagiku" jawab Avalance.
Daerah sekitar mereka mulai menjadi lebih dingin, itu adalah tanda bahwa mereka telah mulai mendekati tujuan mereka.
Beberapa saat kemudian kediaman para penduduk Wilayah Utara mulai terlihat dan salju menyelimuti pemukiman itu.
Mereka sepertinya sudah sampai di wilayah utara yang penuh dengan salju dan es. Sedangkan Indra sepertinya masih berpikir perkataan Avalance tadi.
Rumah-rumah itu tidak terlihat sangat berbeda dengan rumah-rumah di timur. Namun, bedanya cerobong asap pada tiap rumah di Utara sepertinya selalu digunakan.
"Baru-baru ini wilayah kami telah diinvasi oleh wilayah selatan, kami sama sekali tidak kesulitan dalam menghadapi mereka. Namun, mereka sangatlah licik. Mereka akan mengambil kesempatan saat kami sibuk menghadapi mereka dan mereka akhirnya menyandera para penduduk kota untuk memojokkan kami" lanjut Avalance.
"Jadi singkatnya, kau membutuhkan kami untuk melindungi kota itu?" Tanya Indra memotong.
"Kau benar … ada tiga kota di wilayah ini dan masing-masing dari kalian akan melindungi satu. Namun, tentu saja kalian tidak sendirian. Para bawahanku akan membantu kalian" jawab Avalance.
"Memangnya siapa yang memimpin mereka?" Tanya Indra lagi.
"Aku tidak bisa memberitaumu sekarang. Segera kau akan tau, Indra" jawab Avalance.
"Kita akan segera sampai ke kota yang pertama, Kota Nacht" lanjut Avalance.
Di tengah wilayah dingin yang penuh dengan salju itu, Kota Nacht akhirnya terlihat.
Kota itu terletak dibawah tebing yang tinggi, sulit untuk cahaya agar dapat menerangi tempat itu. Namun, saat itu matahari berada tepat di atas kota itu. Oleh karena itu kota itu sedikit lebih terang. Kota juga itu cukup besar. Namun, tidak sebesar Lunar dan juga tidak sekecil Houstin.
Bangunan-bangunan di kota itu tidak jauh berbeda dari bangunan di pemukiman yang Indra dan yang lainnya lewati sebelumnya. Tentu saja dengan cerobong asapnya yang selalu menyala.
"Cukup sulit untuk melakukannya di hari yang masih terang, terutama dengan sihirku" ujar Miller.
"Aku akan membantumu, Miller" balas Indra.
Belum sempat Miller menjawab. Namun, langit cerah kota itu sudah dipenuhi awan hitam yang menutupi langit itu.
Avalance memberikan tatapan aneh kepada Miller. Namun, hanya untuk sesaat. Tatapan itu tadi seolah Avalance mengingat hal yang buruk dengan pemilik sihir kegelapan.
"Ohh … kau pasti pengguna sihir kegelapan. Sudah lama aku tidak melihatnya, tenang saja aku akan memastikan agar tidak ada cahaya di kota itu. Aku harap itu bisa membantumu" ujar Avalance.
"Terimakasih, itu akan sangat membantu" balas Miller.
Setelah menyampaikan pesan kepada para penjaga yang akan membantu Miller, Avalance akhirnya membawa Indra dan Misha ke Kota Licht, kota kedua.
Setelah beberapa lama kemudian, akhirnya mereka sampai ke Kota Licht.
Kota itu tidak sebesar kota tadi, besarnya tidak jauh berbeda dari Houstin. Bangunan-bangunan dikota itu juga sama dengan Kota Nacht dan pastinya cerobong asap mereka masih menyala.
Namun, kebalikan dari kota Nacht. Kota ini terletak diatas tebing. Oleh karena itu mudah bagi cahaya untuk meneranginya.
"Jika anak itu tadi adalah pengguna sihir kegelapan, maka aku berasumsi bahwa kau adalah pengguna sihir cahaya" ujar Avalance.
"Kenapa begitu?" Tanya Indra.
"Aura sihir mereka berdua sangat berbanding terbalik, karena itu tidak sulit untuk melihatnya" Jawab Avalance.
"Kupikir setelah kau melihat kemeja hitam dan jubah hitam milik Miller, kau jadi berasumsi Misha adalah pengguna sihir cahaya karena ia mengenakan dress putih ditambah dengan topi penyihir yang juga berwarna putih" balas Indra.
"Pemikiranku tidak sesempit itu, Indra" ujar Avalance.
Indra hanya diam menahan malu, untungnya Miller tidak ada disana untuk mengoloknya. Namun, Misha juga tertawa mendengar pertanyaan itu.
"Kalau begitu aku akan memastikan tempat ini penuh dengan cahaya" ujar Avalance.
"Terimakasih" balas Misha.
Avalance lalu menyuruh para anak buahnya disana untuk menyalakan segala sumber cahaya yang ada di kota.
Indra dan Avalance kemudian melanjutkan perjalanan menuju kota ke 3, yaitu Kota Kals. Kota yang awalnya terlihat seperti kota pada umumnya kecuali hampir seluruh kota ini memiliki ceroboh asap yang masih menyala.
Ditengah perjalanan mereka untuk menuju kota itu, Indra masih terpikir tentang ayahnya. Indra masih tidak percaya dengan pernyataan Avalance.
"Aku masih penasaran, kalau kau menyadari bahwa aku anak dari Ignis kenapa kau tidak membenciku seperti kau membenci ayahku?" Indra bertanya.
"Aku tidak pernah bilang aku membenci ayahmu. Namun, bukan berarti aku menyayanginya seperti seorang saudara pada umumnya. Aku tidak boleh membenci seseorang hanya dengan identitasnya. Ironisnya ayahmu lah yang mengajarkan itu kepadaku" jawab Avalance.
"Ignis, ayahku. Orang seperti apa dia sebenarnya?" Indra bertanya lagi tentang ayahnya.
"Aku tau kau masih tidak percaya dengan kenyataannya, Indra. Tetapi, baiklah, akan kuceritakan" ujar Avalance.