
BEELZEBUB
Cheryl tersenyum lebar setelah menerima upahnya. Namun, ekspresinya berubah setelah menghitungnya.
"Pantas saja Bounty Store tidak memiliki banyak peminat" ujar Cheryl.
"Tentu saja bayarannya tidak sebesar kalian para Petualang, ditambah lagi pekerjaan kami tidak manusiawi. Kami terkadang harus mengambil pekerjaan yang mengharuskan untuk membunuh target" balas Indra.
"Jika hanya membunuh aku juga sering. Mulai dari Goblin, Orc, Wyvern, Iblis, bahkan Naga" ujar Cheryl.
"Bagaimana dengan manusia? Pertanyaannya adalah apa kau sanggup membunuh manusia?" Tanya Indra.
Cheryl terdiam.
"Sekarang kau mau kemana?" Tanya Indra lagi.
"Aku tidak punya rencana" jawab Cheryl.
"Kalau begitu kau bisa pulang duluan, aku masih ada urusan disini" balas Indra.
"Kau yakin tidak ingin kutemani?" Tanya Cheryl.
"Aku akan senang. Namun, kau terlihat lelah. Beristirahatlah" jawab Indra.
Cheryl mengiyakan saran Indra dan pamit kepadanya. Untuk saat ini, Indra berniat untuk mencoba mencari informasi tentang para Necromancer. Indra tidak ingin membawa Cheryl dalam masalah ini karena ini adalah masalah pribadinya. Indra kemudian mencoba menanyakannya kepada Sang Pemilik.
"Aku punya sedikit pertanyaan, akhir-akhir ini apakah ada sekumpulan Necromancer yang merusuh?" Tanya Indra.
"Jadi karena ini kau mengusir orang asing itu? Coba kuingat. Necromancer ya? Hm… tunggu sebentar. Biarkan aku mengingatnya" jawab Sang Pemilik sambil mengusap janggut tipisnya sambil berpikir.
"Oh! Aku ingat! Akhir-akhir ini memang banyak kasus pembongkaran makam. Namun, tidak banyak pelaku yang identitasnya berhasil terungkap" lanjut Sang Pemilik.
"Itu sudah cukup, berikan aku pekerjaan itu" balas Indra.
"Kau ingin memburu Necromancer? Tidak seperti dirimu saja. Soal itu, aku punya beberapa rekomendasi" ujar Sang Pemilik mengeluarkan beberapa lembar kertas yang berisi harga kepala para Necromancer itu.
Di semua poster itu juga tertulis "Only Dead" dimana bagi para Bounty Hunter itu berarti membawa mayat tersangka itu dengan utuh. Hampir semua adalah misi Rank A+ kecuali satu yang memiliki Rank dengan tanda "?" Indra tanpa pikir panjang segera mengambil semuanya sekaligus.
"Para buronan ini sedang berada di Wilayah Selatan, tempat yang sangat sulit untuk diakses. Apa kau yakin masih ingin mengambilnya?" Tanya Sang Pemilik tempat itu lagi.
"Tidak ada masalah dengan itu" jawab Indra.
"Seperti biasanya, aku tidak bisa menebak isi pikiranmu" ujar Sang Pemilik tempat itu lagi.
"Itu hal yang bagus, setidaknya untukku" balas Indra beranjak pergi.
Kini Indra memiliki lebih banyak alasan untuk pergi ke Wilayah Selatan. Namun, ia tidak ingin buru-buru. Tidak mudah untuk memasuki Wilayah Selatan, begitu juga ketika berniat keluar dari sana. Setidaknya para Necromancer itu membutuhkan waktu sebelum bisa keluar.
Sebelum pulang, Indra berniat untuk berjalan-jalan dipasar. Mungkin saja ada barang-barang yang menarik perhatiannya, karena itu ia singgah disana malam itu.
Ketika ia berjalan menyusuri pasar itu, ia merasakan hawa yang tidak asing. Namun, hawa itu tidak sering ia rasakan.
"Beelzebub pernah kau temui di tempat dengan suasana yang tidak jauh berbeda dari tempat ini, Indra" ujar sebuah suara yang tiba-tiba muncul di kepala Indra.
Indra melihat sekitarnya sambil kebingungan. Ia mendengar suara Luzin di kepalanya. Namun, tidak ada tanda-tanda keberadaannya di sekitar. Akhirnya, Indra mulai fokus dengan perkataan Luzin yang ia dengar dikepalanya. Jika memang ia pernah menemui seseorang yang aneh di sebuah pasar, ia hanya terpikir tentang Reven Stahl. Seorang pedagang yang ia temui di Wilayah Utara. Akhirnya Indra tau asal dari hawa tidak asing ini. Reven pasti sedang berada di sekitar pasar itu.
Indra kemudian berlari untuk mencari gerobak dagang Reven. Jika memang benar apa yang dikatakan Luzin, maka Reven adalah salah satu dari 3 Iblis leluhur, Lord of Torment Beelzebub. Meskipun tidak masuk akal jika seorang Iblis menjadi pedagang keliling.
Setelah beberapa saat kemudian, Indra berhasil menemukan gerobak dagang Reven. Indra juga melihat Reven yang sedang duduk bersantai di samping gerobak dagang itu. Indra perlahan menghampirinya.
"Hei! Kita bertemu lagi! Aku memiliki banyak barang baru! Jadi, apa yang kau butuhkan kali ini?" Tanya Reven yang segera bangkit berdiri untuk menyambut Indra.
"Aku bukan datang sebagai pelanggan, aku kemari untuk menemuimu Lord of Torment, Beelzebub" jawab Indra.
Reven tertawa mengira Indra bercanda. Namun, melihat tatapan Indra yang terpaku menatapnya Reven juga mulai penasaran dengan Indra. Tiba-tiba mata Reven berubah menjadi merah menyala, tidak hanya itu. Namun, seluruh tempat itu juga kehilangan warnanya. Hanya mata Beelzebub yang menyala disana, pergerakan orang-orang di sekitar juga terlihat seperti lebih lambat.
Indra yang kebingungan mulai melihat sekitarnya dan mencoba menyentuh orang-orang yang berlalu lalang dengan lambat. Namun, tubuhnya menembus orang-orang itu. Orang-orang itu juga seperti tidak melihat Indra.
Bahkan suara Reven pun berubah drastis, sebelumnya ia terdengar seperti pedagang pasar ramah pada umumnya. Namun, kali ini ia bahkan tidak terdengar seperti manusia.
Mendengar itu, untuk pertama kalinya Indra merasakan ketakutan setelah sekian tahun, ia mulai keringat dingin dan nafasnya terasa berat. Ia akhirnya mengerti kenapa banyak orang takut terhadap Iblis, bedanya Indra menemui leluhur mereka langsung.
"Apa kau akan tetap berdiri disitu tanpa mengatakan apapun?" Tanya Beelzebub.
Saat itu juga, bulan yang memang tidak memiliki warna bersinar terang dalam sekejap mata. Sinar itu membuat semuanya kembali normal, Beelzebub pun ikut kembali normal. Beelzebub terkejut dan mulai siaga. Semua itu terjadi seolah Dewa Bulan memperingatkan sesuatu kepada Beelzebub. Namun, sesaat setelah semuanya kembali normal mata Beelzebub kembali menjadi merah dan semua warna disana kembali hilang. Melihat Luzin yang mengawasinya, Indra menjadi lebih tenang.
"Jadi begitu… Dewa Bulan mengirim mu. Apa yang dia inginkan dariku?" Tanya Beelzebub.
"Dia bilang jika aku memerlukan kekuatan, maka aku harus datang kepadamu" jawab Indra.
"Hanya itu? Baiklah" balas Beelzebub.
"Kenapa mau begitu saja? Kukira berbicara dengan leluhur para Iblis akan berjalan lebih sulit" ujar Indra.
Beelzebub tersenyum.
"Dia adalah sosok yang sudah ada bahkan sebelum waktu tercipta. Mencari masalah dengannya sama saja seperti bunuh diri. Sekarang ulurkan tanganmu" ujar Beelzebub.
Beelzebub yang sudah memegang tangan Indra lalu menggunakan sihirnya dan memberikan sebuah tanda di telapak tangan Indra. Saat tanda itu mulai terlihat di telapak tangannya, Indra mulai merasa sakit. Namun, tidak seberapa, tetapi lama kelamaan rasa sakit itu semakin menjadi-jadi dan membuat Indra menjerit kesakitan. Telapak tangannya terasa sangat panas seolah telapak tangannya meleleh. Rasa sakit itu berlangsung selama 30 detik. Namun, rasanya seperti tidak akan pernah berlalu bagi Indra.
Setelah rasa sakit itu menghilang, Indra melihat telapak tangannya dan melihat sebuah tanda berbentuk seperti huruf "B" yang bergabung dengan Huruf "Z" Indra masih tidak percaya ia berhasil melalui rasa sakit itu. Tubuhnya tiba-tiba terasa lebih ringan dari biasanya, sesuatu terasa sangat berbeda dari sebelumnya.
"Pedang yang bagus, berikan padaku sebentar" ujar Beelzebub.
Indra lalu menarik pedangnya dari sarung pedang itu dan menjulurkannya kepada Beelzebub. Beelzebub melakukan hal yang sama dengan pedang itu dan membuat tanda yang sama di pedang itu. Pedang itu kini berwarna lebih gelap dan terasa sangat ringan di tangan Indra.
"Sebenarnya, apa yang tanda ini lakukan?" Tanya Indra.
"A Sign of a Sin. Itu adalah lambang dari darah iblis yang sudah mengalir dalam tubuhmu" jawab Beelzebub.
"Jadi aku baru saja menjadi Iblis. Baik, tapi itu belum menjawab pertanyaanku" balas Indra.
"Bukankah kau sudah merasakannya sendiri? Disamping itu, namailah pedang ini" ujar Beelzebub.
"Menamainya? Hm...aku masih perlu memikirkannya sedikit" balas Indra bingung.
"Storm catcher. Itu nama yang bagus! Storm catcher" lanjut Indra.
"Pemilihan nama yang bagus" balas Beelzebub.
"Aku masih belum percaya aku sekarang menjadi setengah Iblis" ujar Indra.
"Tidak, kau masih seorang manusia. Namun, darah Iblis mengalir di tubuhmu. Hanya makhluk yang setara dengan para Penyihir Agung yang akan menyadari A Sign of a Sin" balas Beelzebub.
"Syukurlah" ujar Indra.
"Luzin tidak pernah memperlakukan seorang manusia dengan spesial. Siapa kau sebenarnya?" Tanya Beelzebub.
"Aku hanya orang menyedihkan yang tidak punya tujuan hidup" jawab Indra.
"Topi yang bagus" ujar Beelzebub.
Dalam sekejap suasana disana kembali menjadi normal.
"Kau tidak mau membeli apapun? Aku menjual banyak dagangan bagus" ujar Reven. Logatnya kembali terdengar seperti pedagang pasar yang ramah.
"Yang mana kau yang sebenarnya?" Tanya Indra.
"Entahlah" jawab Reven.
Indra lalu beranjak pergi dari pasar itu dan kembali ke Angel Eyes Saloon.