
DESA PARA BANDIT (LAGI)
"Ambil saja, saat ini pekerjaan itu tidak akan merugikanku. Jumlah kejahatan di Wilayah ini sedang meningkat entah kenapa" ujar Orang itu.
"Benarkah? Kau tidak akan memarahi ku lagi bukan?" Tanya Indra.
"Tidak, justru saat ini mereka malah membuatku lebih resah" jawab Orang itu.
"Kurasa aku tau penyebabnya" balas Indra.
"Tidak perlu peduli soal sandera di desa itu. Sudah dipastikan bahwa hanya ada para bandit di sana" ujar Orang itu lagi.
Alasan dari itu semua sudah pasti ulah para Necromancer, belum jelas apa tujuan mereka sebenarnya. Namun, mengalihkan perhatian para pemberantas kriminal adalah langkah terbaik untuk mulai bergerak tanpa dilacak.
Terlalu banyak yang Indra pikirkan saat ini, tidak biasanya ia memiliki banyak pikiran. Dua tahun terakhir pekerjaannya hanya memburu para bandit. Namun, saat ini dia memiliki banyak masalah. Mulai dari mengungkap kebenaran dari pembantaian yang terjadi di desanya. Masalah ayahnya dan pamannya. Ditambah lagi, masalah dengan para Necrosummoners. Entah bagaimana, semua masalahnya saling terhubung satu sama lain.
Indra dan Cheryl lalu segera melacak lokasi Desa itu yang sepertinya berada di arah barat daya dari Kota Houstin. Tidak sulit melacak sebuah desa di sebuah wilayah yang penuh dengan tanah gersang.
"Aku tidak percaya, tingkat kejahatan di wilayah ini malah semakin meningkat setelah dibasmi habis satu kali" ujar Indra.
"Kenapa bukan pihak kepolisian sendiri yang memusnahkan desa itu?" Tanya Cheryl.
"Itu pertanyaan yang mudah, itu karena Wilayah ini lebih suka main hakim sendiri. Oleh karena itu, jumlah pihak kepolisian sangat terbatas. Orang-orang lebih memilih menjadi Bounty Hunter atau Petualang" jawab Indra.
"Meski begitu, masih ada beberapa dari mereka yang mungkin bisa setara denganku" lanjut Indra.
Setelah beberapa saat kemudian, mereka akhirnya berhasil menemukan desa para Bandit itu. Desa itu mirip dengan yang pernah Indra hancurkan beberapa saat yang lalu, hanya saja yang ini jauh lebih besar. Indra dan Cheryl mengamati desa itu dari atas sebuah tebing.
"Ini terasa seperti deja vu" ujar Indra.
"Apa yang harus kita lakukan?" Tanya Cheryl.
"Aku sudah pernah melenyapkan sebuah desa dengan 'Thunder Extinction' tapi… jika aku menggunakannya lagi itu akan membosankan. Baiklah! Kalau begitu kita serang saja semua langsung!!" Ujar Indra.
"Thunder Extinction? Apa itu?" Tanya Cheryl.
"Itu adalah nama yang kugunakan untuk petirku yang langsung menghabisi banyak musuh sekaligus. Persis seperti saat aku membantai para Wyvern" jawab Indra.
Di misi kali ini Indra tidak ingin terlihat mencolok mengingat ini adalah misi pertama Cheryl sebagai Bounty Hunter, Indra berniat menahan diri dan membiarkan misi ini berjalan lebih lama.
Indra dan Cheryl kemudian segera berlari ke desa itu dan mulai menghajar dan meruntuhkan apapun dihadapan mereka. Para bandit yang sudah menyadari serangan mereka mulai mengambil senjata dan segera mengepung mereka berdua. Namun, strategi itu kurang berguna melawan Indra dan Cheryl. Indra menarik pedang barunya dari sarung dan segera menebas ratusan bandit itu sekaligus.
Cheryl juga tidak kalah, dengan anginnya ia membuat sebuah pusaran angin yang menarik hampir apa saja disekitar, tidak terkecuali bangunan-bangunan itu.
"Hebat, kau tau apa yang lebih hebat dari badai angin?" Tanya Indra sambil menangani para bandit itu.
Cheryl tidak memiliki waktu untuk menjawabnya.
"Badai petir" jawab Indra sendiri.
Awan-awan hitam kini muncul memenuhi langit, petir kini menyambar para bandit itu.
Cheryl menggunakan anginnya untuk membuat awan-awan itu mengelilingi tempat itu. Dengan anginnya juga ia membuat sebuah corong di tengah awan-awan itu. Itulah Tornado yang berhasil mereka buat, sebuah Tornado yang membawa Sambaran petir didalamnya. Tornado itu menghisap semua yang ada disekitarnya termasuk semua bandit itu. Indra dan Cheryl mulai khawatir dengan para bandit itu.
"Indra, bukankah ini berlebihan?" Tanya Cheryl.
"Kau benar, serangan ini tidak cocok dipakai melawan bandit yang terlalu lemah. Kita hentikan saja" jawab Indra.
Perlahan awan-awan hitam dilangit itu memudar hingga akhirnya menghilang. Begitu juga dengan angin yang berhembus sangat kencang tadinya, kini menjadi lebih tenang. Namun, masih ada masalah. Para bandit yang sudah kehilangan kesadaran mereka saat terhisap oleh tornado mulai jatuh dari langit. Untungnya, Cheryl mampu mendaratkan mereka dengan mulus berkat anginnya.
Cheryl menghela nafas lega.
"Syukurlah kita berhasil. Itu tidak sulit, hanya saja tornado itu tadi terlalu berlebihan" ujar Cheryl.
"Kau benar. Namun, kita bisa menyimpannya jika di masa depan kita akan menemui musuh yang mengerikan" balas Indra.
"Sekarang masalahnya adalah bagaimana kita membawa para bandit ini. Ada sekitar 800 lebih disini, ada ide?" Tanya Cheryl.
"Apa maksudmu? Bukankah itu mudah? Tinggal seret saja" jawab Indra.
"Seret katamu? Bodoh, itu tidak manusiawi" balas Cheryl.
"Mereka adalah bandit, ditambah lagi itu masih legal di wilayah ini" ujar Indra.
"Eh, tunggu. Tugas kita adalah melenyapkan desa ini, bukan menangkap mereka. Kalau begitu biarkan pihak kepolisian menanganinya. Lebih baik kita berdua kembali untuk mengambil imbalan" lanjut Indra.
"Bagaimana jika mereka siuman lalu kabur?" Tanya Cheryl.
"Tidak akan, kita mematahkan banyak tulang mereka. Bahkan jika mereka siuman mereka tidak akan sanggup berjalan, aku memastikan untuk mematahkan kaki mereka, walaupun tidak semua" jawab Indra.
"Sebenarnya, darimana semua pengalamanmu itu berasal? Setiap bertarung kau selalu mengetahui jalan terbaik untuk mengakhirinya dengan kemenangan, setidaknya itu yang sering kulihat" ujar Cheryl.
"Itu hanya kebetulan, lagipula jumlah pertempuran yang kita hadapi bersama masih bisa dihitung dengan jari bukan? Percayalah, itu hanya kebetulan" ujar Indra tersenyum.
Dari raut wajah Indra saja Cheryl tau bahwa Indra sedang berbohong. Namun, ia tidak melanjutkan topik itu karena mungkin Indra memiliki alasan tersendiri untuk tidak menjawab
Tak lama kemudian, mereka kembali ke kota Houstin. Di Bounty Store itu mereka datang untuk mengambil bayaran mereka. Saat itu juga, Cheryl sadar ia sama sekali tidak memiliki bukti bahwa pekerjaan yang mereka ambil telah sukses. Ia baru menyadarinya setelah berada di dalam Bounty Store.
"AH! SIAL! AKU LUPA MENGAMBIL BUKTI KEBERHASILAN MISINYA!! KITA HARUS SEGERA KEMBALI!!" Ujar Cheryl panik.
"Itu tidak perlu, orang asing. Jika Indra sudah mengambilnya, aku sudah tidak memerlukan bukti. Dia adalah orang yang selalu menyelesaikan pekerjaannya dengan sempurna" balas Pemilik itu.
"Eh? Dia sehebat itu?" Tanya Cheryl.
Pemilik itu tertawa.
"Kau lucu, orang asing. Dia tidak akan menjadi Bounty Hunter nomor 1 di negeri ini jika dia tidak sehebat itu. Namun, harus kuakui jika terkadang ia menyebalkan" jawab Pemilik itu.
Pemilik tempat itu kemudian mengeluarkan sekantong emas, untuk Indra dan Cheryl.