
ASMODEUS
Indra membaca lebih banyak informasi tentang Glimpse of Deaths, ternyata memang tidak banyak hal yang bisa diketahui dari kelompok itu.
Pantas saja mereka menjadi salah satu bencana untuk dunia, meski mereka ada dimana-mana, tapi masih banyak misteri tentang mereka. Semua informasi yang Indra dapat hanyalah informasi yang sudah ia ketahui sejak awal.
Indra merasa frustasi dan rehat sejenak sambil memesan segelas minuman untuk menemaninya. Tepat setelah ia meneguk minumannya sekali, Indra merasakan seluruh tempat itu bergetar.
"Apa aku bisa mabuk semudah ini?" Cibir Indra.
Seketika banyak orang-orang yang berteriak diluar, langit yang awalnya cerah kini terlihat lebih gelap daripada langit malam, akhirnya saat itu Indra sadar bahwa ia tidak mabuk. Indra segera berlari keluar untuk melihat sumber guncangan itu. Ia melihat sebuah pertarungan besar yang bisa saja menghancurkan seluruh kota itu. Indra mengenal salah satu orang yang sedang bertarung itu, itu adalah sahabatnya Miller.
Miller sedang bertarung dengan sosok yang berwujud seperti perempuan kecil berambut putih kebiruan, dengan tanduk di kepalanya, dan sayap membentang di punggungnya. Dari penampilannya bisa disimpulkan bahwa apa yang sedang dihadapi oleh Miller adalah sesosok Iblis.
Iblis kecil itu terlihat seperti sedang mendominasi pertempuran itu, suasana saat itu sangat gelap karena langit yang tadinya cerah itu entah bagaimana menjadi sangat gelap.
Jarang melihat Miller bisa kalah dalam keadaan yang gelap, mungkin karena iblis itu juga pengguna sihir kegelapan yang bisa jadi lebih kuat dari Miller.
Indra ingin membantu Miller. Namun, ia ingin melihat sahabatnya itu sedikit lebih babak belur terlebih dahulu. Iblis itu bahkan dapat bergerak lincah di udara, sayapnya itu sepertinya bukan hanya sekedar pajangan semata.
Indra melihat itu semua dari dalam Bounty Store, jika ia nekat keluar saat itu juga orang-orang pasti akan mengerumuninya untuk meminta bantuan. Tanpa keluar pun orang-orang di dalam Bounty Store sudah memohon-mohon kepadanya.
Inilah salah satu alasan Indra tidak pernah memiliki niat untuk menaikkan reputasinya, ia tidak suka menjadi harapan orang lain disaat ia sendiri tidak memiliki harapan apapun. Namun, takdir berkata lain, Indra bahkan masuk menjadi salah satu calon kandidat pemilik gelar Penyihir Agung selajutnya di mata para penduduk negeri Compax.
Pertarungan Miller dengan Iblis kecil itu terus berlanjut, Miller masih saja terdesak. Semua sihirnya terlihat tidak mempan dihadapan iblis itu, ia banyak terlihat mengandalkan kemampuan fisiknya saja, ia melompat dari gedung ke gedung untuk mengurangi jaraknya dengan Iblis kecil itu, setidaknya dengan naik keatas bangunan-bangunan itu ia bisa menggapai Iblis itu sedikit lebih mudah. Iblis kecil itu mulai benar-benar mendominasi pertempuran mereka, Miller kini hanya bisa bertahan tanpa mendapatkan kesempatan untuk menyerang balik. Iblis itu berhasil mendapat sebuah celah dan berhasil memukul perut Miller dan membuatnya terhempas kebawah dan merusak sebuah bangunan.
Indra berdiri disamping Miller yang sedang terbaring sambil mengerang kesakitan, entah sejak kapan Indra sudah berdiri disana.
"Jarang sekali melihatmu babak belur begitu." Ujar Indra tanpa melihat Miller.
"Sihirku sama sekali tidak mempan melawannya, itu membuatnya semakin sulit." Balas Miller sambil mencoba sekuat tenaga untuk berdiri.
"Menggunakan kegelapan untuk melawan sumber kegelapan adalah hal yang cukup bodoh, mungkin malah sangat bodoh." Ujar Indra lagi sambil mengulurkan tangannya untuk membantu Miller berdiri.
Miller meraih tangan Indra dan akhirnya berdiri, Indra menghela nafas.
"Kenapa?" Tanya Miller.
"Tidak, aku hanya khawatir jika reputasiku naik lagi." Jawab Indra.
"Kau hanya yang ingin menjadi orang asing dimata orang-orang asing bukan? Namun, sepertinya itu hanya mimpi semata sekarang." Balas Miller.
"Bukankah kota ini memiliki banyak penyihir di Guild petualang? Kenapa kau malah bertarung sendirian disini?" Tanya Indra mengubah topik.
"Awalnya para penyihir itu juga membantu aku dan pasukan militer. Namun, mereka sepertinya bukan tandingan Iblis kecil itu." Jawab Miller.
"Dimana Misha? Dia adalah orang yang paling kita butuhkan saat ini." Ujar Indra.
"Aku tau, tapi Misha sedang mengerjakan misi dari guildnya diluar kota. Sialnya, pengguna sihir cahaya yang tersisa di kota ini semuanya sudah dikalahkan oleh Iblis ini." Balas Miller.
Tiba-tiba saja Indra terlihat siaga.
Miller pun juga ikut siaga.
"Iblis? Ah… kau pasti anak buah kakak ke tiga. Keberadaan kakak ku terlihat jelas dari tandamu itu." Terdengar suara lembut yang manis ditelinga.
Akhirnya Iblis itu menunjukkan dirinya Indra akhirnya melihatnya dengan jelas, Iblis kecil itu berwujud seorang perempuan kecil dengan gaun yang didominasi warna hitam dan sedikit warna putih di bagian atas gaunnya, tanduk di kepalanya terlihat serasi dengan rambut putih kebiruan, dan juga sayap hitam yang membentang di punggungnya. Iblis itu tersenyum kecil melihat Indra.
"Maksudmu Beelzebub? Sebenarnya kau tidak terlalu salah." Ujar Indra.
Miller melotot menatap Indra.
"Apa yang dia maksud, Indra?" Tanya Miller.
"Bukan apa-apa, daripada memikirkan itu lebih baik kita memikirkan cara menghadapinya. Dia bukan iblis biasa, salah satu dari kita berdua mungkin saja bisa mati ketika menghadapinya." Jawab Indra.
Petir segera menyambar ke arah Iblis kecil itu, tapi ia berhasil menghindar dan seketika sudah melayang diatas udara. Awan hitam sudah menutupi langit gelap itu.
Kali ini Indra sengaja menggunakan petirnya di sekitar iblis itu untuk mencegahnya menghindar. Namun, kali ini Iblis itu tidak bergerak sama sekali seolah dia bisa membaca serangan Indra.
"Kekuatan untuk melihat masa depan ya? Kalau begitu kau pasti 'Asmodeus' anak ke 4 dari 6 bersaudara." Ujar Indra.
"Wah… hebat juga kau bisa tau sebanyak itu." Balas Asmodeus.
"Kau hebat sekali bisa mengimbangi makhluk yang bisa melihat masa depan, Miller." Ujar Indra.
"Ini tidak terlihat seperti waktu yang tepat untuk memberikan pujian." Balas Miller.
Indra berdiri sambil menggigit bibirnya untuk berpikir bagaimana cara untuk menghadapi Asmodeus, ia terpikir sebuah cara. Namun, itu akan menguji keberuntungan mereka.
Asmodeus sedang sibuk mengurus Miller disaat Indra berpikir keras, sekali lagi Miller terhempas kesamping Indra.
"Aku punya rencana." Ujar Indra.
"Benarkah?" Tanya Miller.
"Rencana ini tergantung pada keberuntungan kita, jika gagal mungkin kita hanya akan mati." Jawab Indra.
"Tolol, bahkan sebelum mendengarnya itu sudah terasa seperti sebuah rencana yang buruk!" Balas Miller.
"Buruk lebih baik daripada tidak ada." Ujar Indra dengan tenang.
Miller terlihat kesal karena Indra tetap terlihat tenang meskipun musuh yang sangat berbahaya berada di depan mata mereka.
Indra akhirnya memberitahukan rencananya dengan cepat kepada Miller, Asmodeus hanya diam sambil melayang di udara. Asmodeus sepertinya tidak ingin menyerang sebelum Miller dan Indra mendapatkan rencana.
"Baik sekali mau menunggu kami berbincang sejenak." Ujar Indra.
"Semakin banyak siasat musuhku maka akan semakin menyenangkan." Balas Asmodeus.