Atlas: Lightning From The Wild West

Atlas: Lightning From The Wild West
52: IMPIAN AVALANCE



IMPIAN AVALANCE


Mendengar penjelasan Tiana tentang kartu-kartu itu, Avalance terlihat sangat tertarik terutama pada nilai dalam setiap lembar dari kartu-kartu itu.


Akhirnya permainan pertama Avalance dimulai, Tiana membagikan dua lembar kartu kepada setiap pemain dan tiga kartu tertutup di meja.


Avalance melihat kartu miliknya, dia mendapatkan dua kartu as. Spade Ace dan Clover Ace. Avalance mengingat jika kartunya adalah pair, dan pair as adalah awal yang baik.


Semua pemain memutuskan untuk tetap bermain, Indra menaikkan taruhannya sebanyak 4.000 keping emas, Misha mengikutinya. Tetapi, Miller tidak yakin dan lebih memilih untuk fold.


Avalance cukup yakin dengan kartunya dan menambah jumlah taruhan menjadi 10.000 keping emas. Mereka semua terkejut melihat keputusan Avalance, Indra dan Misha tidak mau kalah dan menambahkan 6.000 keping emas untuk mengikuti permainan.


"Itu awal yang brutal" ujar Miller.


"Kau yakin dengan itu, Avalance? Kartu milik ku sebenarnya cukup bagus" ujar Indra juga.


Avalance tidak menghiraukan mereka, Tiana lalu membuka ketiga kartu itu sekaligus. Kartu di meja itu adalah As Hati, 4 Hati, dan 10 Diamond.


Melihat ada satu As lagi di meja itu, Avalance semakin yakin dengan kartunya. Ia bisa saja mendapatkan Three of a Kind ataupun Full House.


Tanpa pikir panjang Avalance segera All in dengan total sekitar 90.000 keping emas, tentu dia tidak menggunakan emas asli untuk ditaruh ke meja itu. Tiana membawakan koin poker dengan dua warna yang satu berwarna merah dengan nilai 1.000 dan satu lagi berwarna ungu dengan nilai 500.


Indra terlihat panik dan berpikir keras untuk langkahnya selanjutnya. Namun, ia tidak berani mengambil resiko dan akhirnya memutuskan untuk Fold, Misha tanpa pikir panjang juga memutuskan untuk Fold. Avalance berhasil meraih kemenangan pertamanya dalam permainan poker.


"Kenapa kalian berdua sama-sama Fold? Itu adalah kesempatan emas!!" Ujar Miller


"Aku tidak mau mengambil resiko sebesar itu" balas Indra.


"Bagaimana denganmu sendiri? Lagipula Indra benar. Resikonya lebih besar" balas Misha juga.


Malam itu mereka lanjut bermain hingga tengah malam, Misha dan Miller bangkrut. Avalance meraup semua keuntungan dari Misha dan Miller, sedangkan Indra hanya sanggup untuk mendapatkan modalnya kembali.


Karena Avalance tau alasan mereka berdua memutuskan bermain dengan Indra adalah untuk mendapatkan emas, Avalance membagikan sekitar 30.000 keping emas kepada mereka berdua.


Tengah malam itu, Indra tidak bisa tidur. Karena itu ia memutuskan untuk keluar dan berjalan-jalan. Indra melihat Avalance yang masih duduk di tempat mereka bermain tadi, mereka selesai bermain sekitar 2 jam yang lalu dan sekarang sudah hampir pukul 1 malam. Indra menghampiri Avalance dan mencari tau apa yang dilakukannya.


Avalance menjajarkan kartu-kartu itu sesuai nilainya dari yang paling rendah sampai yang paling tinggi. Avalance tidak melakukan apapun selain menatap kartu-kartu itu.


"Ada apa, Avalance? Apa kau belum puas dengan permainan tadi?" Tanya Indra.


"Tidak" jawab Avalance.


"Lalu kenapa kau memandang kartu-kartu ini sejak tadi?" Tanya Indra lagi.


"Aku menyukai konsep dari kartu ini, mereka dibagi menjadi 4 jenis, dan setiap jenis memiliki nilai yang paling rendah hingga yang paling tinggi. Lalu kartu Joker yang mampu membaur dengan mereka juga sangat menarik" jawab Avalance.


"Ok, lalu apa?" Tanya Indra sekali lagi.


Indra tertawa.


"Itu terdengar aneh dan lucu. Namun, itu bukan hal yang mustahil diwujudkan. Kurasa idemu ini juga cukup menarik, Avalance" balas Indra.


Kuputuskan, nama dari akademi sihir yang akan kubangun adalah… 'Royal Jesters' aku akan mengumpulkan para badut bangsawan dan mengajarkan mereka tentang apa itu sihir" ujar Avalance.


"Royal Jesters? Heh, bukan nama yang buruk. Sayangnya kita tidak akan melihat akademi sihir itu dalam waktu dekat" balas Indra.


Avalance menghela nafas.


"Mungkin kau benar, aku masih memiliki tanggung jawab yang besar sebagai Raja" ujar Avalance.


"Namun, setelah Wilayah Utara menjadi damai. Maka aku akan mewujudkannya, karena ini adalah impian terbesarku" lanjut Avalance.


"Itu impian yang hebat" balas Indra.


Indra tau alasan Avalance untuk membangun Akademi Sihir. Avalance dan Ignis dulunya adalah seorang gelandangan, belum jelas kenapa mereka menjadi gelandangan. Namun, pihak yang merubah hidup mereka adalah Akademi Sihir. Wajar jika Avalance berniat melakukan hal yang sama.


"Kau sendiri? Apa yang kau lakukan tengah malam begini?" Tanya Avalance dengan tenang.


"Aku tidak bisa tidur, jadi aku cari angin saja" jawab Indra.


"Jadi begitu… ini sudah larut, sepertinya aku juga harus tidur. Setelah selesai jalan-jalan, lebih baik kau juga tidur. Selamat malam" balas Avalance.


"Selamat malam, Avalance" ujar Indra.


Avalance kemudian berdiri setelah menyusun kartu yang tadi ia jejerkan di meja, ia juga membawa kartu itu bersamanya.


Beberapa saat kemudian, Indra berjalan ke lantai atas rumah itu. Diluar sedang ada badai salju, ia rasa menonton badai salju di malam hari akan membuatnya mengantuk, karena itu ia pergi ke teras atas rumah besar itu.


Setelah ia mencapai teras atas, ia melihat Misha dan Miller yang kebetulan juga sedang duduk di sana. Indra tidak langsung menghampiri mereka. Namun, diam sejenak sambil sedikit menguping.


"Kau belum puas? Tempat ini dingin" ujar Miller.


"Kita bahkan belum lima menit duduk disini, diam dan nikmati saja keindahan badai salju ini" balas Misha.


"Baiklah, aku akan menemanimu sampai kau puas" ujar Miller.


Melihat kedua sahabatnya itu menjadi sepasang kekasih mengingatkan Indra dengan mereka berdua dulunya. Misha dan Miller adalah dua orang tidak bisa berhenti untuk berdebat. Pernah satu hari mereka berdua membuat dapur di Angel Eyes terbakar saat berdebat ketika membantu Bella saat memasak. Meski begitu, diam-diam mereka saling peduli satu sama lain dan Indra adalah orang pertama yang paham dengan itu.


Indra bahkan tidak tau kenapa dua sahabatnya itu bisa menjadi sepasang kekasih. Dua tahun tak bertemu dan beginilah mereka, mereka juga sepertinya menyembunyikan hubungan mereka saat bekerja. Buktinya banyak laki-laki yang sering membicarakan kecantikan Misha di dalam Guild. Miller adalah orang yang cukup dikenal, terutama dalam bidang keamanan, orang-orang sekelas para anggota guild harusnya mengetahui posisinya. Karena orang-orang di guild sering membicarakan tentang Misha tanpa segan, sudah pasti mereka berdua menyembunyikan hubungan mereka.


Indra sangat ingin menggunakan petirnya untuk mengganggu mereka berdua. Namun, berbeda dengan Kastil yang berada jauh dari perkotaan rumah Avalance ini berada di tengah kota dan menyambarkan sebuah petir bisa saja mengganggu orang-orang disekitar. Oleh karena itu, Indra lebih memilih untuk menghampiri mereka berdua.


"Kenapa kalian disini? Belum tidur?" Tanya Indra.