Atlas: Lightning From The Wild West

Atlas: Lightning From The Wild West
16: PULANG



PULANG


Hari mulai pagi, matahari datang menghapus gelapnya malam. Indra terbangun oleh ketukan pintu, Indra mengira itu adalah pelayan yang mengantarkan minuman seperti sebelumnya.


Namun, yang ada dibalik pintu itu justru adalah Miller dan Misha yang membawa sebuah ember yang penuh dengan air.


Indra yang masih setengah sadar kurang paham apa yang terjadi, sampai mereka berdua menyiram wajah Indra dengan seember air itu.


Mereka berdua tertawa dan segera berlari meninggalkan Indra.


"Sialan … aku lengah" ujar Indra yang sudah basah kuyup.


Setelah membersihkan diri, Indra segera pergi ke ruang makan untuk sarapan. Di sana sudah ada Avalance, Miller, dan Misha yang sudah menunggu.


"Kau terlambat, Indra. Aneh… tidak seperti dirimu" ujar Miller dengan nada mengejek.


Mendengar itu Misha terlihat menahan tawa mengingat hal yang mereka berdua lakukan tadinya.


"Berisik, setidaknya kalau ingin membalasku lakukanlah hal yang tidak merepotkan" balas Indra.


Indra melihat meja makan itu dan sedikit bingung melihat hidangannya yang berbeda dan makanan itu tidak asing untuk Indra.


"Tumben" ujar Indra.


"Kali ini bukan para koki ku yang masak. Melainkan temanmu, Misha" ujar Avalance.


"Oh… pantas saja bau dan bentuknya sangat tidak asing. Ini mengingatkan ku dengan Barat. Kalau diingat-ingat sudah sekian lama aku sudah tidak kesana" balas Indra.


"Barat ya? Aku sudah sangat jarang menetap disana. Aku penasaran dengan kabar Bella dan Reisth. Aku tidak pernah sempat mengunjungi mereka sejak aku menjadi petualang" ujar Misha.


"Aku juga belum bertemu mereka lagi. Aku penasaran dengan kabar mereka sekarang" balas Miller.


Indra berhenti makan sejenak saat mendengar itu.


"Kau masih sering mengunjungi mereka kan, Indra? Bagaimana kabar mereka?" Tanya Misha.


Indra memalingkan pandangannya.


"Um… sebenarnya… aku juga tidak pernah mengunjungi mereka berdua sejak saat itu" ujar Indra sambil memalingkan pandangannya.


Miller dan Misha menatap Indra yang masih memalingkan pandangannya.


"Jadi… selama ini tidak ada satupun dari kita yang menjenguk mereka berdua" Ujar Miller.


"Entah kenapa aku merasa tidak kaget" balas Misha.


"Aku penasaran dengan reaksi mereka" ujar Indra.


"Indra, siapa itu Bella dan Reisth?" Tanya Avalance memasuki percakapan mereka.


"Mereka adalah dua orang yang telah membesarkan kami sejak 7 tahun yang lalu. Namun, sudah 2 tahun kami belum pernah menjenguk mereka" jawab Indra.


"Saranku kalian harus segera menemui mereka. Aku yakin mereka sudah menganggap kalian sebagai anak mereka sendiri, begitu pula kalian yang pasti juga menganggap mereka sebagai orang tua bukan? Jangan membuat mereka kecewa dengan kalian karena kesalahpahaman saja" ujar Avalance lagi.


Mereka bertiga termenung setelah mendengar itu dan kemudian memutuskan untuk pulang kebarat sebelum kembali ke Timur.


Setelah sarapan itu, Indra berencana untuk pulang duluan sebelum Misha dan Miller.


Setelah berkemas, Indra pergi menemui Avalance untuk pamit. Ia bertemu dengan Avalance di ruang baca Kastil itu. Avalance duduk di meja perpustakaan itu.


"Bukankah kau masih punya waktu satu hari lagi?" Tanya Avalance sembari meletakkan bahan bacaannya.


"Aku tau. Namun, aku terpikir oleh perkataanmu dan aku merasa harus segera menemui mereka. Ditambah lagi aku ingin menyelidiki sesuatu di sana" jawab Indra.


"Aku mengerti…" balas Avalance.


"Bagaimana dengan Misha dan Miller?" Tanya 


Avalance lagi.


"Sepertinya mereka masih ingin menikmati liburan mereka, aku tidak mau mengganggu mereka" jawab Indra.


Avalance mengangguk.


"Aku menunggu hasil rencanamu" balas Avalance sebelum Indra melewati pintu keluar.


Indra berbalik dan mengangguk kepada Avalance.


Indra melewati Kota Kals dan menuju langsung ke Barat. Indra melewati padang salju itu tanpa jaket kesayangannya karena jaket itu ia pinjamkan kepada Aurora.


Indra bukan pergi hanya untuk menemui Bella dan Reisth. Namun, ia juga pergi untuk menyelidiki tentang jejak ayahnya di Barat dulu.


Hari itu masih pagi, Indra juga sudah membawa bekal untuk pergi. Indra teringat ketika perjalanannya ke Wilayah Utara bersama Avalance. Seharusnya perlu waktu beberapa hari untuk sampai ke sana. Namun, saat itu mereka berempat sampai bahkan sebelum matahari terbenam. Sepertinya gelar Penyihir Agung milik Avalance memang bukan hanya sebutan.


Indra pergi ke Barat menggunakan kereta kuda sihir. Dimana kereta itu hanyalah kereta pada umumnya jika dilihat dari luar. Namun, bagian dalamnya jauh lebih luas dari sebuah rumah. Begitu juga dengan kudanya, kuda di kereta kuda ini adalah kuda sihir. Kuda ini mampu bergerak dengan kecepatan yang jauh lebih cepat dari kuda biasa. Dari Utara ke Barat hanya memerlukan waktu sekitar 4 jam. 


Namun, tentu saja biaya menaiki kereta kuda itu sangat mahal, 12.990 keping emas sekali naik. Itu memang harga yang pantas untuk kehebatannya.


Indra menyewanya untuk pergi kebarat. Didalam kereta itu terdapat ruang yang sangat mewah. Meskipun tidak semewah milik kamar tamu Avalance, tidak bisa dibandingkan. 


Empat jam kemudian, Indra akhirnya sampai ke Barat. Awalnya ia berniat menuju ke puing-puing desanya dahulu. Namun, Indra memutuskan untuk pergi ke Angel Eyes Saloon saja dulu untuk menyapa Bella dan Reisth.


Angel Eyes Saloon sepertinya sudah berkembang pesat dalam dua tahun. Kini tempat itu memiliki dua lantai. Namun, tempat itu sepertinya sedang tutup, entah kenapa.


Indra membuka pintunya dan terlihat seorang pria paruh baya yang sedang mengelap gelas minuman. Orang itu tidak lain adalah Reisth.


"Maaf, kami sedang tutup" ujar Reisth.


"Aku tau, tapi aku kan bukan pelanggan" balas Indra.


Reisth memalingkan pandangannya dari gelas yang ia lap untuk melihat Indra.


"Indra? Indra!! Itu memang kau. Bella!! … Bella!! Kau tidak akan percaya siapa yang datang!" Ujar Reisth yang kini bersemangat.


"Hah? Indra? Dia sudah sangat sibuk mana mungkin-" Bella tidak melanjutkan kata-katanya setelah melihat Indra.


Bella kembali masuk dan keluar membawa sebuah panci dan mengayunkannya ke wajah Indra.


"Dasar!! Kau sudah lupa dengan kami ya?!? Sudah dua tahun dan kau baru memunculkan wajahmu sekarang?!? Berani juga kau!" Ujar Bella dengan emosi.


"Sudahlah Bella. Namanya juga kesibukan" balas Reisth.


"Kau tidak tau bagaimana kami mengkhawatirkan kalian, dan kalian bahkan tidak pernah menjenguk kami. Aku bahkan sudah mengira kalian telah melupakan kami" ujar Bella yang mulai berlinang air mata.


Ia segera memeluk Indra setelah bangkit berdiri.


"Aku sangat merindukan kalian" ujar Bella memeluk Indra.


"Aku juga rindu dengan kalian… maaf, selama ini kami saling mengira bahwa ada dari kami yang rutin kemari. Namun, nyatanya tidak" balas Indra.


"Jadi dimana Misha dan Miller?" Tanya Bella.


"Aku juga sangat merindukan mereka" lanjut Bella.


"Mereka sedang asik liburan berdua" jawab Indra.


"Hah? Kenapa mereka tidak mengajakmu?" Tanya Bella lagi.


"Bukan begitu, mereka memang ingin berlibur 'berdua' karena itu aku tidak ikut" jawab Indra.


Bella dan Reisth berpikir sejenak mengenai perkataan Indra.


"Tunggu, jangan bilang… mereka berdua benar-benar menjadi sepasang kekasih?!? Itu tidak mungkin!!" Ujar Bella.


"Aku jadi teringat masa-masa dimana mereka berdua selalu membantah ketika aku mengatakan bahwa mereka terlihat cocok sebagai pasangan. Mereka selalu bilang tidak. Aku selalu yakin cepat atau lambat mereka berdua akan berakhir menjadi pasangan. Namun, aku merasa kasihan padamu, Indra…" balas Reisth.


"Kali ini kau akan mengejekku karena belum memiliki pasangan? Ayolah, aku hanya perlu waktu!" ujar Indra.


Reisth tertawa.


"Kau sendiri yang mengatakannya" balas Reisth sambil tertawa.


Indra melihat sekitarnya dan meski banyak yang berubah jika dilihat dari luar. Namun, di dalamnya tidak banyak yang berubah. Indra benar-benar merindukan tempat itu. Akhirnya dia bisa pulang. Walaupun hanya sementara waktu.