Atlas: Lightning From The Wild West

Atlas: Lightning From The Wild West
13: TENTANG SANG AYAH



TENTANG SANG AYAH


Di wilayah selatan, para prajurit yang berhasil kabur dari Utara segera datang untuk menghadap Ignis dan melapor.


"Maafkan kepengecutan kami Tuan!! Namun, pasukan mereka terlalu kuat dan hanya kami yang tersisa. Mereka yang lain telah gugur dan tertangkap" ujar salah satu dari mereka sambil sujud kepada seseorang di sebuah singgasana yang megah orang itu tidak lain adalah Ignis.


"Lanjutkan!" Balas Ignis.


"Tuan Ken juga berhasil tertangkap oleh seseorang. Yang kami dengar, orang itu mengenakan sebuah topi yang bentuknya sangat khas, topi koboi dari barat dengan selendang merah dilehernya. Pria itu adalah seorang pengguna sihir petir" ujarnya.


"Sekali lagi maafkan kami tuan!" Lanjutnya


"Tidak apa, aku juga tidak berharap lebih. Namun, itu cukup merepotkan jika Ken tertangkap" balas Ignis.


"Hm… baiklah, kalau begitu perintahkan anak-anak ku Ignael dan Iglea untuk menyelamatkan Ken. Ken adalah penasihat terbaik disini, aku tidak boleh kehilangan dia" ujar Ignis lagi.


Sementara itu di Wilayah Utara, Pelayan Kastil itu mengentarkan Indra, Misha, dan Miller menuju penjara kastil itu untuk menyusul Avalance yang sudah pergi lebih dulu.


Tempat itu pengap dan minim cahaya, meskipun diluar begitu dingin. Namun, tempat itu benar-benar membuat gerah. Lorong panjang itu dipenuhi oleh ruang tahanan yang dipenuhi oleh para kriminal ataupun musuh dari wilayah lain. Tempat itu terasa seperti tempat yang sangat berbeda dibandingkan dengan bagian lainnya dari kastil itu, bagaikan tempat itu benar-benar berbeda jauh dari kata mewah.


Disana Indra, Miller, dan Misha melihat Avalance dan anak buahnya sedang mengintrogasi orang-orang dari selatan satu persatu.


Miller memperhatikan mereka dengan seksama, Misha terlihat masih bingung melihat sekelilingnya, sedangkan Indra sedang mencari Ken untuk bertanya beberapa hal. Namun, ia tidak menemukannya.


Setelah rehat sejenak Avalance mendatangi Indra untuk membawanya kepada Ken.


"Indra, aku sudah menunggumu. Nampaknya orang itu sulit untuk dibuat bicara karena itu kami menempatkannya pada sel khusus. Sejak kau anak dari tuannya bukankah dia akan sedikit menghormatimu? Maaf… bukan bermaksud menyinggungmu. Tetapi, bisakah kau coba berbicara dengannya?" Avalance bertanya.


"Baiklah, akan kucoba" jawab Indra.


Avalance lalu mengantarkan Indra ke sel khusus itu lalu pergi untuk melanjutkan urusannya.


"Kuserahkan padamu, Indra" ujar Avalance sambil melangkah pergi dari lorong itu.


Beberapa saat setelah Avalance melangkah pergi.


"Apa yang anda Inginkan, Tuan muda?" Tanya Ken dari dalam sel tahanan itu.


"Aku kemari untuk mencari informasi" jawab Indra.


"Maaf… tapi, aku tidak dapat mengkhianati Tuan Ignis. Aku sudah bersumpah untuk menutup mulutku. Namun, jika anda memiliki pertanyaan yang tidak berhubungan dengan kejadian hari ini, aku akan menjelaskannya dengan sepenuh hati, Tuan muda" ujar Ken.


Tidak seperti sebelumnya, kini Ken sepertinya sudah menghormati Indra setelah ia mengetahui bahwa Indra adalah anak sulung dari Tuannya Ignis.


"Kalau begitu… aku akan bertanya tentang beberapa hal. Pertama, apa yang membuat Ignis datang ke wilayah barat 18 tahun yang lalu?" Indra bertanya.


"Sesuai perkataanku, aku bersumpah untuk menutup mulut apalagi mengenai informasi pribadi Beliau" jawab Ken dengan tegas.


Indra menghela nafas kecewa.


"Baiklah, pertanyaan kedua. Siapa yang akan datang untuk menyelamatkanmu?" Indra bertanya lagi.


"Ohh… anda bisa mengetahuinya sejauh itu! Aku terkesan. Namun, aku belum mengetahui siapa yang akan datang. Jika tebakanku benar, maka kedua adik kembarmulah yang akan datang. Ignael dan Iglea mereka adalah anak yang baik mereka sangat patuh pada ayahnya"


Jawab Ken.


"Ketiga, ini adalah pertanyaan terakhir. Orang seperti apa kedua adik ku itu?" Indra bertanya untuk terakhir kalinya.


"Kurasa aku masih boleh menjawabnya. Mereka berdua adalah pengguna sihir api terkuat di Wilayah Selatan disamping Tuan Ignis tentunya. Hanya itu yang kurasa boleh kukatakan" jawab Ken.


Setelah mendengar itu, Indra segera berjalan pergi dari sana.


"Ada apa, Tuan muda?" Tanya Ken dari dalam sel.


"Aku sudah tidak punya pertanyaan lagi" ujar Indra sambil melangkah pergi.


Indra kembali ke tempat Avalance dan yang lainnya. Disana ia melihat Miller yang sepertinya sedang ikut untuk mengintrogasi orang-orang disana, ia segera mendatangi Misha yang juga sedang disana melihat Miller.


"Apa yang dia lakukan?" Indra bertanya.


"Dia bilang dia bosan hanya menonton dan akhirnya memutuskan untuk membantu mereka" jawab Misha.


Avalance kemudian datang dan segera mendatangi Indra.


"Apa kau menemukan sesuatu?" Tanya Avalance.


"Tidak banyak hal yang penting. Namun, Ken pasti akan diselamatkan oleh dua orang. Hanya itu yang bisa kudapatkan" jawab Indra.


"Dua orang? Aku yakin mereka bukan ancaman yang berarti" ujar Avalance.


"Aku tau. Tapi, aku punya rencana" balas Indra.


Indra pun langsung memberitahukan rencananya. Setelah mendengar rencana itu, Avalance berpikir sejenak sebelum akhirnya menyetujui rencana Indra.


"Baiklah, itu tidak terdengar buruk" ujar Avalance.


"Sebenarnya aku punya satu pertanyaan" balas Indra.


"Apa itu? Aku akan menjawabnya dengan senang hati" ujar Avalance.


"Jika seorang Penyihir Agung seperti kau dan ayahku cukup hebat untuk memimpin sebuah wilayah, lalu kemana Penyihir Agung dari Timur dan Barat?" Indra bertanya.


"Pertanyaan yang menarik. Namun, sebelum itu. Kau harus tau bahwa memimpin sebuah wilayah tidak hanya memerlukan sesosok yang kuat. Yah… meskipun itu sangat mendeskripsikan ayahmu dan aku. Namun, kenyataannya tidak seperti itu. Memang dulunya Compax memiliki tiga orang Penyihir Agung. Ayahmu, Aku, dan 'The Dead Necromancer' kami bertiga adalah Penyihir Agung dari Negara ini. Namun, The Dead Necromancer bukanlah seorang pemimpin.


Timur dan Barat diperintah oleh para Pemerintah bukan berdasarkan perintah seorang pemimpin seperti di Utara dan Selatan" jawab Avalance.


"Dulunya? Apakah si 'The Dead Necromancer' ini sudah mati?" Indra bertanya lagi.


"Tidak, sejak dulu dia memang sudah mati, dia kemudian berkeliaran sebagai mayat hidup. Namun, 7 tahun yang lalu ayahmu membunuhnya sekali lagi. Jadi sepertinya… jawaban dari pertanyaanmu adalah Ya. Namun, juga tidak" jawab Avalance dengan serius.


Indra awalnya mengira bahwa Avalance sedang bercanda. Namun, mengingat karakter Avalance yang cenderung dingin membuatnya yakin bahwa Avalance sedang serius dan akhirnya Indra memilih untuk tetap diam.


Hari sudah tambah larut, cahaya redup sang rembulan menerangi putihnya salju disana. Indra dan yang lainnya berencana kembali ke Timur keesokan harinya. Namun, Avalance mencoba untuk membujuk mereka untuk tetap tinggal satu hari lagi.


Avalance beralasan bahwa Miller sangat lihai dalam menggali informasi dari orang lain karena itu sangat disayangkan jika mereka pergi terlebih dahulu. Namun, Indra tau bahwa pamannya itu hanya merasa kesepian meskipun tidak mau mengakuinya. Indra sudah mengetahuinya sejak makan malam mereka dengan Avalance dimana hanya mereka yang duduk dan makan bersama Avalance.


Miller tentu saja menyetujuinya. Namun, Misha terlihat tidak setuju. Karena merasa kasihan dengan pamannya itu, Indra memutuskan untuk setuju walaupun Misha terlihat sangat murung mendengarnya.