Atlas: Lightning From The Wild West

Atlas: Lightning From The Wild West
51: BERJUDI



BERJUDI


Setelah berita tentang perang itu tersebar ke seluruh penjuru negeri itu, media berusaha keras untuk mencari Sang Lightning From the Wild West. Namun, mereka tidak dapat memasuki Wilayah Utara karena kondisinya sedang tidak memungkinkan. Oleh karena itu, mereka berusaha keras untuk mencari kenalan Lightning From the Wild West di Wilayah Timur, untuk suatu alasan mereka enggan untuk mencari di Wilayah Barat. Perang antara Wilayah Utara dan Wilayah Selatan sudah berlangsung hampir lebih dari 300 tahun, dan perang kali ini dipercayai sebagai puncaknya dimana kedua Raja dari kedua belah pihak, turun tangan dalam perang itu.


Disamping itu, Wilayah Utara kesulitan dalam merawat semua korban dari perang itu. Dan mengejutkannya Wilayah Selatan justru membantu memberikan suplai obat-obatan dan bantuan medis lainnya untuk membantu Wilayah Utara. Pihak selatan bahkan juga membawakan stok makanan untuk para korban dan para pengungsi.


Di ruangan Avalance, dia dan Ignis sering berbincang akhir-akhir ini. Namun, ia tidak menyangka Ignis juga akan membantu Wilayah Utara.


"Apa yang kau rencanakan?" Tanya Avalance.


"Perang itu terjadi karena keegoisanku, dan aku harus mengaku salah. Setidaknya ini adalah tanggung jawabku" jawab Ignis.


"Kau pikir perbuatanmu kali ini dapat menebus kesalahanmu dari masa lalu?" Tanya Avalance lagi.


"Tidak. Namun, aku paham jika kau tidak pernah menyimpan dendam untukku" jawab Ignis.


"Apa yang membuatmu berpikir begitu, kakak?" Avalance bertanya sekali lagi.


"Bahkan setelah berselisih selama 300 tahun, setelah ratusan kali pertempuran. Tidak pernah sekalipun Wilayah Utara menyerang balik, yang kalian lakukan hanyalah bertahan dan selalu bertahan" jawab Ignis lagi.


"Aku melakukannya hanya untuk kebaikan Wilayah Utara" balas Avalance.


Ignis tersenyum.


"Kau memang sulit untuk jujur, Avalance" ujar Ignis lagi.


Siang itu, Indra mencari dapur di rumah besar Avalance untuk mencari makan. Tidak seperti Kastil, Indra berhasil menemukan dapur di rumah itu dengan lebih mudah. Ia tidak perlu repot-repot untuk mencari pelayan untuk mengantarkannya. Indra bertemu dengan Tiana di dapur itu, kebetulan Tiana juga tengah memasak hidangan makan siang.


"Tuan Indra, bagaimana keadaan anda? Sudah lebih baik?" Tanya Tiana sambil memotong beberapa rempah.


"Kau tidak perlu mengkhawatirkanku, aku hanya sedikit membantu saja" jawab Indra.


"Seseorang yang telah membantu membasmi ribuan musuh di sebuah kota, membantu Tuan Avalance menghadapi Raja Wilayah Selatan, dan orang yang sama juga menghabisi bala bantuan musuh sendirian. Itu tidak bisa dibilang membantu sedikit, Tuan Indra" balas Tiana.


Indra terdiam sambil menggaruk kepalanya.


"Popularitas anda juga sepertinya meningkat pesat di seluruh penjuru negeri ini" lanjut Tiana.


"Hah? Apa maksudmu?" Tanya Indra.


"Eh? Anda belum lihat beritanya? Berita tentang peran anda dalam perang itu sudah menyebar di seluruh negeri ini. Semua orang sepertinya sudah mengenali nama dan wajah anda" jawab Tiana.


Indra terkejut mendengarnya, di saat yang bersamaan. Entah darimana Miller dan Misha datang menemui Indra.


"Indra! Bagaimana kondisimu?" Tanya Miller pura-pura mengkhawatirkan Indra.


"Kami benar-benar mencemaskanmu" ujar Misha juga.


"Pembohong, pasti kalian mau sesuatu kan? Sudahlah mengaku saja" balas Indra.


"Ayolah jangan selalu beranggap buruk begitu, meskipun itu tidak salah" ujar Miller.


"Kau pasti mendapatkan banyak hasil dari perbuatanmu di perang itu bukan? Kebetulan kami berdua sepertinya menjadi terlalu boros akhir-akhir ini. Jadi… kami datang untuk meminjam beberapa keping emas" lanjut Misha.


"Sudah kuduga, mustahil kalian menemuiku tanpa alasan yang jelas. Kalian datang hanya untuk meminjam emas, aku jadi merasa aku salah memilih sahabat" balas Indra.


"Justru karena kau sahabat kami, mustahil kami meminjam emas kepada orang asing" ujar Misha.


Indra terdiam sejenak.


"Itu masuk akal. Namun, total utang kalian sekitar 10.457 keping emas kepadaku. Dan kalian belum membayarnya sejak 4 tahun yang lalu" ujar Indra.


"Itu tidak benar, utangku hanya 4.200 keping!" Balas Misha.


"Dan utangku hanya 6.257 keping" balas Miller juga.


"Karena kalian sudah menjadi pasangan jadi kugabungkan saja" ujar Indra lagi.


"Begini saja, kita bermain poker malam ini. Kalian sebaiknya menang jika ingin emas. Kalian juga tidak perlu repot-repot membayar uang lagi jika kita berjudi" lanjut Indra.


"Tapi, jika kita bertiga bermain. Siapa yang akan menjadi dealernya?" Tanya Miller.


"Mungkin Tiana bersedia jika dia tidak sibuk. Bagaimana Tiana? Bisakah kau membantu kami?" Tanya Indra.


"Malam ini seharusnya saya tidak sibuk, dengan senang hati saya akan membantu" jawab Tiana.


"Bagus" balas Indra.


"Karena Tuan Miller dan Nona Misha juga ada disini, apakah kalian berdua ingin menyantap makan siang bersama Tuan Indra?" Tanya Tiana.


Indra terkesan melihat Tiana yang sudah paham jika dia ingin mencari makan siang. Dan Indra bahkan belum mengatakannya. Misha dan Miller dengan cepat setuju dengan tawaran Tiana.


Malam pun tiba, mereka berkumpul di ruang tengah rumah itu untuk bermain. Ruang tengah dalam rumah Avalance sangatlah besar, banyak tempat untuk bermain. Namun, mereka memilih untuk bermain di meja dan kursi yang terletak di depan perapian yang hangat.


Tiana kemudian memberikan masing-masing pemain dua lembar kartu pegangan dan menaruh tiga kartu tertutup di atas meja.


Sebelum permainan dimulai, Avalance kebetulan lewat dan melihat mereka bermain. Awalnya ia hanya ingin menyapa Misha dan Miller yang sepertinya sedang berkunjung. Namun, setelah sedikit mengamati permainan poker itu, ia menjadi tertarik.


"Oh, Tuan Avalance! Kami datang untuk menjenguk Indra" ujar Misha terkejut melihat Avalance.


"Tidak perlu seformal itu, panggil saja aku Avalance seperti Indra memanggilku" balas Avalance.


Tiana kemudian membuka kartu pertama setelah semua pemain mengikuti permainan.


Kartu yang keluar adalah Spade King, semua pemain kemudian mengecek kartu masing-masing.


"All in" ujar Misha.


"All in" ujar Miller juga.


"All in" ujar Indra walaupun kurang yakin.


Karena semua pemain telah All in, Tiana kemudian menambahkan dua kartu tertutup di atas meja, lalu ia membuka keempat kartu itu dan menyuruh para pemain untuk menunjukkan kartunya.


Miller hanya mendapatkan two pair, begitu juga dengan Misha. Namun, Indra sepertinya sedang beruntung. Ia mendapat flush karena tiga kartu di meja memiliki kartu dengan lambang Spade dan di tangannya ia memiliki dua kartu dengan lambang Spade.


Avalance yang sama sekali tidak mengerti dengan permainan itu bertanya-tanya tentang alasan bagaimana Indra bisa menang.


"Permainan ini sepertinya menarik, bolehkah aku mencoba untuk mengikutinya?" Tanya Avalance.


"Tentu, lebih banyak maka akan semakin menyenangkan" jawab Indra.


"Namun, aku masih belum mengerti tentang permainan ini. Ajarkanlah sedikit kepadaku, Tiana" ujar Avalance.


Tiana kemudian menjelaskan kepada Avalance tentang beberapa hal dasar dalam permainan kartu.


Pertama-tama Tiana menjelaskan tentang nilai-nilai pada kartu tersebut.


As sampai 10 adalah kartu dengan angka, Tiana juga menjelaskan bahwa di beberapa permainan, nilai kartu as akan menjadi lebih tinggi dari yang lainnya.


Jack adalah kartu dengan nilai 11.


Queen adalah kartu dengan nilai 12.


Terakhir, King dengan nilai 13.


Saat Tiana menjelaskan tentang hal itu, mata Avalance tertuju pada 4 lembar kartu yang terlihat terpisah dari kartu yang lain.


"Bagaimana dengan keempat kartu yang terpisah itu?" Tanya Avalance.


"Ini adalah Joker, kartu dengan nilai paling tinggi dalam beberapa permainan. Joker merah dapat digunakan sebagai kartu Diamond ataupun Heart dan Joker hitam dapat digunakan sebagai kartu Spade dan Clover. Dalam permainan Old Maiden, orang yang memegang Joker sebagai kartu terakhir akan dianggap kalah. Dalam permainan poker yang saat ini sedang kita mainkan, kartu Joker tidak dipakai" jawab Tiana.


Tiana kemudian menjelaskan aturan dalam permainan poker untuk Avalance.


Mereka kemudian memulai ulang permainan setelah Avalance ikut bermain.