Atlas: Lightning From The Wild West

Atlas: Lightning From The Wild West
10: FROSTBITE DAN INFERNO



FROSTBITE DAN INFERNO


Avalance dan Ignis ayah dari Indra adalah saudara kandung. Namun, sebelum mereka masuk ke Perguruan Sihir di Selatan 150 tahun yang lalu mereka hanyalah berandalan.


Ignis adalah anak yang penuh dengan semangat, dia jugalah yang selalu menjaga adiknya Avalance.


Berbeda dengan Ignis, Avalance cenderung lebih lesu dan tidak memiliki semangat. Namun, meski begitu dia sangat mengagumi kakaknya.


Suatu hari, mereka mendapatkan kesempatan untuk memasuki sebuah Perguruan Sihir. Mereka berdua adalah murid yang berbakat menggunakan sihir. Ignis memiliki sihir api sedangkan Avalance adalah pengguna sihir es.


Perguruan Sihir itu memiliki bangunan yang sangat besar, dan tempat itu dipenuhi oleh murid-murid yang seperti tinggal di asrama tempat itu. Bangunan itu memiliki tiga bagunan inti, bangunan tengahnya menjulang tinggi dengan jam besar tertanam disana, sedangkan di kanan dan kirinya terdapat sebuah bangunan memanjang yang merupakan asrama. Bangunan dikiri adalah asrama laki-laki dan dikanan adalah asrama perempuan.


Mereka berdua mampu menjadi yang terbaik dari yang lainnya dan menjadi Ethereals. Ethereals adalah pasukan yang terisi oleh murid-murid terbaik dari Perguruan Sihir dari wilayah selatan.


Ignis menjadi nomor 1 diantara mereka. Namun, Avalance memilih untuk tetap berada dibawah.


Perbedaan sikap Avalance dari Ignis membuat banyak orang berpikir bahwa suatu hari nanti Avalance akan menjadi seorang penjahat.


Hari demi hari Ignis dan Avalance membuat jarak satu sama lain, Ignis yang dikenal sebagai nomor satu selalu terhalang tugasnya ketika ingin bertemu dan berbincang dengan adiknya. Untungnya Avalance mengerti kesibukan kakaknya.


Orang-orang sama sekali tidak memandang Avalance sebagai orang yang pantas menjadi seorang Ethereals. Dia adalah orang yang pemalas bahkan banyak yang mengatakan bahwa dia memakan gaji buta. Tetapi, Ignis selalu membela Adiknya itu.


Suatu malam, mereka berdua berpapasan di lorong asrama yang sudah sepi.


"Avalance, jangan terlalu menahan diri. Kau akan dikeluarkan dari Ethereals jika kau terus seperti itu" ujar Ignis menasehati adiknya.


"Maaf, kak. Namun, masih sulit bagiku beradaptasi di lingkungan baru" balas Avalance.


"Tidak apa, aku mengerti perasaanmu" ujar Ignis tersenyum.


"Sebenarnya … aku ditugaskan untuk membasmi ogre di sebuah gua tidak jauh dari kota, mereka menyarankanku membawa beberapa orang. Namun, kurasa kita berdua sudah cukup" ujar Ignis lagi.


"Apa kau ikut?" Lanjut Ignis bertanya.


"Tentu saja, kak" jawab Avalance tersenyum.


Keesokan harinya mereka berdua berangkat ke sebuah gua yang sepertinya menjadi sarang para ogre. Sesampainya di sana, mereka berdua sama sekali tidak menyangka bahwa gua itu akan sangat besar.


Mulut gua itu bahkan hampir sebesar sebuah bukit. Mereka berdua akhirnya memasukinya.


Didalam gua itu mereka telah disambut oleh para ogre. Tubuh para ogre itu sangat besar, dengan kulit pucat dan taring dimulut mereka.


Namun, ada satu ogre yang memiliki tubuh paling besar. Terlihat jelas bahwa mahkluk itu adalah pemimpin ogre yang lain.


"Sepertinya yang besar itu adalah pemimpin mereka, aku akan menghajarnya sekarang juga, kau urus sisasnya saja" ujar Ignis.


"Itu mudah" balas Avalance.


Sementara itu, pihak perguruan sihir sedang panik karena Ignis dan Avalance memutuskan untuk membasmi para orge itu padahal mereka sudah menyuruh Ignis untuk membawa orang yang lebih. Oleh karena itu mereka mengutus beberapa Ethereals yang senggang untuk pergi membantu Ignis dan adiknya.


Beberapa lama kemudian, mereka akhirnya sampai di gua itu. Namun, alih-alih membantu. Mereka hanya melelahkan diri kesana, tidak ada satupun ogre yang masih tersisa.


"Hei, kalian datang ya?" Ignis berseru kepada mereka disamping mayat pemimpin ogre yang setengah badannya sudah menjadi abu.


"Kau melakukannya sendiri?" Tanya salah satu dari mereka.


"Tentu saja tidak!" Jawab Ignis.


"Tentu saja ada adikku yang membantu" lanjutnya.


Ignis kemudian menunjuk kearah adiknya. Disana mereka melihat tumpukan mayat ogre.


Seseorang duduk dipuncaknya sambil membersihkan pakaiannya yang penuh dengan es, mereka semua terkejut tidak percaya orang itu adalah Avalance orang yang selama ini mereka anggap sebagai beban beruntung.


Sejak saat itu orang-orang mulai merubah pandangan mereka terhadap Avalance. Sejak saat itu juga Ignis dan Avalance mendapatkan julukan mereka sebagai "Inferno" dan "Frostbite"


Avalance akhirnya mulai dikenal oleh semua orang dengan julukannya Frostbite.


Pada suatu malam, seperti biasanya orang-orang masih berlalu lalang dikota seolah tidak ada hal yang akan terjadi. Namun, tidak satu pun dari mereka yang akan menyangka sebuah malapetaka akan datang malam itu juga.


Tidak ada yang aneh dari malam itu, rembulan yang bersinar redup dan bintang-bintang yang menghiasi langit malam. Hingga tiba-tiba terdengar raungan keras dari kejauhan, raungan yang sangat keras hingga terdengar di seluruh penjuru kota.


Tak lama kemudian orang-orang mulai berlarian, sesosok Naga yang terlihat jauh lebih besar dari sebuah gunung memperlihatkan sosoknya dan datang untuk memporak-porandakan wilayah selatan.


Naga itu menggunakan sihir kegelapan, dengan sihir itu dia menghancurkan seluruh kota, ribuan korban berjatuhan malam itu.


Semuanya berjuang mati-matian menghadapi Naga itu termasuk Ignis dan Avalance. Namun, mereka bukan tandingan Naga Kehancuran. Puluhan ribu nyawa melayang kala itu.


Hanya Ignis dan Avalance yang mampu memperlambat Naga itu. Namun, tetap saja mereka tidak dapat menggores naga itu sedikitpun. Setelah beberapa saat mereka bertarung Naga itu mulai tertarik dengan dua saudara itu dan memuji mereka.


"Kami tidak perlu pujian dari makhluk sepertimu" balas Avalance yang sudah sangat kelelahan.


"Kalian harusnya bangga dipuji Makhluk sepertiku, tidak seperti debu yang lain kalian cukup hebat" ujar Naga itu lagi.


"Debu? Maksudmu semua nyawa yang sudah kau renggut tadi? Apa kau tidak mengerti apa itu kehidupan? … Sudahlah. Makhluk sepertimu tidak akan mengerti arti dari sebuah nyawa" ujar Ignis dengan amarahnya.


Naga itu tertawa.


"Kau pikir begitu? … Lalu bagaimana dengan kalian yang selalu memakan dan memburu para binatang? Bagaimana dengan semut yang pasti selalu kalian injak tiap kalian berjalan? Apakah makhluk-makhluk itu bukanlah kehidupan?" Naga itu bertanya kepada Ignis.


Ignis terdiam.


"Inilah contoh dari kebodohan dari manusia, mereka juga sering merenggut kehidupan dari mahkluk hidup yang lain. Namun, ketika terjadi hal yang sama terhadap mereka … mereka akan merasa paling tersakiti" ujar Naga itu.


"Setidaknya kami akan menahanmu untuk tidak berbuat lebih jauh lagi" balas Ignis.


"Ohh, Nak … kau terlalu meremehkanku" ujar Naga itu.


Naga itu kemudian menggunakan sebuah sihir yang terlihat seperti bayangan hitam, ada ribuan bayangan. Bayangan-bayangan itu kemudian memanjang, membentuk seperti tangan, dan menyebar ke seluruh penjuru kota. Bayangan itu kemudian menggapai para penduduk kota yang selamat dan melemparkan semuanya ke atas. Anehnya mereka mengambang disana mungkin karena sihir Sang Naga.


"Masih ada puluhan ribu dari mereka … mungkin kalian memang cukup hebat bisa memberi waktu agar mereka cepat berlari. Namun, sayangnya itu tidak berguna" ujar Naga itu.


"Apa yang akan kau lakukan? Turunkan mereka!!" Balas Ignis.


"Boleh saja" ujar Naga itu lagi.


Naga itu terlihat menggunakan sihirnya, awalnya Ignis dan Avalance tidak tau sihir apalagi yang akan digunakan Naga itu, hingga suara orang-orang yang berteriak dilangit menghilang dan mereka sadar bahwa ada hujan darah yang turun dari langit.


Awalnya mereka kebingungan, hingga bagian daging manusia juga ikut berjatuhan bersama hujan darah itu.


Naga itu meremukkan tubuh para penduduk itu dan membiarkan darah dan bagian tubuh mereka jatuh kebawah.


Ignis dan Avalance telah gagal menyelamatkan sebuah kota dari Sang Naga, Ignis merasa sangat kecewa dengan dirinya.


"Kalian berdua memang sangat menarik, karena itu akan kuberi kalian kutukanku" ujar Sang Naga.


"Tenang saja … kutukanku tidak hanya mengutuk kalian, itu juga akan memberi keabadian. Anggap saja itu sebagai hadiah kecil" lanjut Sang Naga.


Saat itulah Avalance mendapatkan kutukannya, yaitu kemanapun ia pergi ia akan selalu membuat daerah sekitarnya menurunkan salju es. Namun, Avalance tidak pernah tau apa kutukan milik Ignis.


Sejak saat itu, sifat Ignis berubah. Dia bukan lagi seorang yang penuh semangat, kini dia menjadi orang yang penuh dendam. Penyesalannya karena gagal melindungi kota itu terpampang jelas di wajahnya.


Karena kutukannya yang merugikan semua orang disekitar, Avalance diasingkan dari wilayah selatan oleh para petinggi wilayah selatan. Hal itu membuat dendam Ignis semakin menjadi-jadi.


Tak lama setelah itu, Ignis mengamuk dan membunuh hampir semua petinggi wilayah selatan. Ia menganggap mereka tidak becus dalam bekerja dan akhirnya berniat untuk mengkudeta Penyihir Agung disana. Hal itu tidak sulit bagi Ignis, dengan apinya ia berhasil menjadi pemimpin baru wilayah selatan.


Setelah ia menjadi pemimpin baru, Ignis mencabut pengasingan adiknya dan menjemputnya sendiri. Saat itu Avalance sedang berada di wilayah Utara karena disana adalah tempat sempurna untuk menyembunyikan kutukannya. Akhirnya Ignis berhasil bertemu dengan adiknya itu.


"Aku sudah mencabut pengasinganmu, Avalance" ujar Ignis.


"Kak, aku sudah tau semuanya. Kenapa kau melakukan hal seperti itu?" Tanya Avalance mengabaikan perkataan Ignis.


"Mereka tidak becus sebagai pemimpin, Avalance. Karena itu aku melakukannya. Aku pasti akan membuat wilayah selatan menjadi wilayah paling aman di negeri ini!!" Jawab Ignis.


"Kak, aku paham perasaanmu. Namun, ini adalah cara yang salah. Kita sudah bersumpah untuk melindungi wilayah selatan bukan? Dan kau malah melakukan hal seperti ini" ujar Avalance.


"Tidak, Avalance. Ini adalah jalan terbaik, aku tidak akan pernah membiarkan malam seperti itu terjadi lagi dan aku pasti akan memburu Naga bedebah itu!!" Balas Ignis.


"Pertama aku akan menguasai wilayah barat dan timur, dari sana aku akan mendapatkan kekuatan tambahan untuk menaklukkan Naga bedebah itu" lanjut Ignis.


"Itu sudah berlebihan!!" Balas Avalance.


"Itu semua demi kedamaian sejati, adikku" ujar Ignis.


"Tidak, itu hanya akan menyengsarakan mereka juga. Aku tidak setuju" balas Avalance.


"Jadi kau ingin menjadi musuhku? Baik, kalau begitu jangan pernah injakkan kakimu lagi di selatan. Aku tidak akan segan pada siapapun yang menghalangi jalanku, Avalance" ujar Ignis lagi.


"Lakukan saja, apapun rencanamu aku pasti akan menghalanginya sekuat tenagaku. Tidak akan kubiarkan kau mengacau seenaknya!!" Balas Avalance lagi.


"Kalau begitu kau sudah bukan saudaraku lagi" ujar Ignis menatap Avalance dengan tatapan penuh dendam.


Sejak saat itu, Frostbite dan Inferno menjadi musuh abadi. Avalance terus melindungi wilayah lain dari invasi kakaknya dan rencana Ignis selalu diganggu oleh adiknya.


Hal itu terus berlangsung selama 150 tahun, yaitu masa kini.