
"Kalau tidak salah… Weather Painter adalah Idola Misha." Ujar Miller.
"Kau benar-benar tau semua hal tentangnya ya? Aku jadi penasaran bagaimana kalian tiba-tiba bisa bersama." Balas Indra.
Miller hanya membalas dengan tertawa.
Meskipun sudah tau bahwa tidak akan ada satupun restoran yang buka saat itu, Miller tetap pergi menemani Indra untuk mencari makan siang. Setelah mengelilingi Kota yang perlahan ramai kembali setelah penduduk Kota melihat situasi yang sudah aman.
"Ah, sial. Kenapa semuanya tutup? Padahal sudah jelas ini jam makan siang." Ujar Indra mengeluh.
"Untung saja bangunan-bangunan ini belum sempat dilahap oleh lubang hitam itu." Balas Miller.
"Kota ini beruntung, Primordial Pearl yang berhasil ditemukan adalah mutiara yang berwarna putih, mutiara yang menyimpan jiwa paling lemah dari Asmodeus." Ujar Indra.
"Memangnya Primordial Pearl memiliki perbedaan satu sama lain?" Tanya Miller.
"Ada, mereka memiliki warna yang berbeda. Jiwa Asmodeus dibagi menjadi 4 dan masing-masing disegel di dalam Primordial Pearl. Primordial Pearl memiliki 4 warna. Putih yang baru saja kita hadapi adalah jiwa yang terlemah, Biru adalah jiwa yang lebih kuat, dan yang terakhir adalah Ungu dan Hitam, keduanya menyimpan setengah dari kekuatan dan jiwa Asmodeus." Jawab Indra.
"Tunggu, itu terdengar aneh, jika ungu dan hitam menyimpan masing-masing setengah kekuatan Asmodeus, lalu apa yang ditampung mutiara putih dan biru?" Tanya Miller lagi.
Indra tertawa kecil.
"Masih banyak hal yang lebih aneh lagi di dunia ini, Miller." Jawab Indra.
Tak lama kemudian, Indra akhirnya menyerah untuk mencari makan siang. Dia memutuskan untuk berburu saja di hutan, lalu memasak hasil buruannya di dalam Villa miliknya.
Tentu Indra juga mengajak Miller, Miller yang memang sedang senggang akhirnya ikut-ikutan saja.
Mereka memburu rusa dihutan, mereka berdua berhasil mendapatkan seekor rusa muda yang dagingnya masih empuk. Indra kemudian mengajak Miller untuk berkunjung ke Villa yang baru-baru ini Indra tinggali, kebetulan Villa itu tidak jauh dari lokasi mereka berburu.
Hanya dengan melihat Villa Indra sesaat saja sudah membuat Miller takjub melihatnya.
Miller masih mencoba melihat sekeliling Villa itu ketika Indra mengajaknya masuk ke dalam.
Tidak ada bahan lain di dapur Indra selain bumbu kering seperti garam, gula, dan lada.
Tidak ada rempah atau sayuran di dapur Indra.
Indra kemudian menguliti rusa yang tadi ia tangkap dan mengambil dagingnya yang ia potong-potong lagi menjadi banyak bagian.
Ia memindahkan potongan-potongan daging rusa yang baru saja ia potong ke dalam sebuah wadah dan membumbuinya dengan lada, garam, dan sedikit gula. Ia kemudian mencari tusukan daging di dapurnya, beruntungnya ia mendapatkan tusukan daging yang terbuat dari besi di dapurnya. Semua daging itu menghasilkan 30 tusuk dan di setiap tusuk ada 5 buah daging yang cukup besar.
Karena ia merasa bahwa bumbu yang ia buat terlalu sederhana, Indra ingin mengubah cara masaknya dengan harapan rasanya akan berubah.
Indra kemudian menggunakan awan petirnya untuk menutupi langit yang masih terang. Ia kemudian membawa 30 tusuk daging itu ke halaman depan lalu menancapkan bagian bawah semua tusukan daging itu ke tanah. Indra kemudian menyamarkan sebuah petir ke arah daging-daging itu dan hanya dengan satu petir saja, semua daging itu matang dengan sempurna.
"Orang gila." Ujar Miller.
"Dengan bumbu yang seadanya seperti ini rasanya tidak akan enak jika hanya menggunakan api." Balas Indra.
Indra lalu membawa daging-daging itu kembali ke dapur. Ia lalu mengambil piring dan meletakkan daging itu ke piring.
"Sejak kapan kau memiliki tempat ini?" Tanya Miller.
"Sejak serbuan para Wyvern tahun lalu, sebenarnya aku baru punya waktu mengunjunginya akhir-akhir ini." Jawab Indra sambil menyantap daging yang ia masak dengan petir.
"Oh iya, Miller. Kau dan Misha masih menyewa tempat tinggal bukan? Kenapa kalian tidak tinggal disini saja? Maksudku… aku tidak akan sering menetap disini. Jadi jika ada orang yang tinggal disini maka tempat ini tidak akan terbengkalai saat aku tidak sedang berada di Wilayah Timur." Lanjut Indra.
"Baiklah kalau begitu, pilih saja kamarmu. Jangan pilih kamar bawah yang dekat dengan pintu masuk, itu adalah kamarku." Ujar Indra lagi.
Setelah mereka selesai menghabiskan makan siang mereka, seseorang mengetuk pintu depan. Indra segera menuju ke pintu depan untuk melihat siapa yang mengetuk pintu.
"Wah, kau benar-benar bisa menemukanku." Ujar Indra.
Orang yang berada di pintu itu adalah Ignis, tidak sulit baginya untuk melacak keberadaan Indra.
"Bolehkah aku masuk?" Tanya Ignis.
"Memangnya kau perlu bertanya lagi? Anggap saja rumah sendiri." Jawab Indra mempersilahkan ayahnya masuk.
Indra membawa ayahnya ke ruang tamu bersama dengan Miller.
Indra mempersilahkan ayahnya duduk sebelum akhirnya duduk.
"Maaf aku tidak punya apa-apa untuk menjamumu, ayah. Aku baru kesini kemarin." Ujar Indra.
"Jadi, apa yang tadi ingin kau bicarakan?" Lanjut Indra.
"Akhir-akhir ini, Wilayah Selatan baru saja mengetahui bahwa aku memiliki anak selain Ignael dan Iglea. Setelah berita itu terdengar di telinga istriku, ia benar-benar marah." Jawab Ignis.
"Karena itu, aku berniat memperkenalkanmu sebagai anak ku secara resmi. Karena itu aku berniat membawamu ke Wilayah Selatan." Lanjut Ignis.
"Kenapa begitu? Bukankah lebih baik menyembunyikan keberadaanku? Aku kan…" Balas Indra.
"Tidak, bagaimanapun juga kau tetaplah anakku juga. Setidaknya itu yang bisa kulakukan sebagai seorang ayah meskipun terlambat." Ujar Ignis.
"Baiklah, kenapa tidak? Lagipula aku juga tidak punya rencana akhir-akhir ini." Balas Indra.
"Bagus, aku akan menunggumu di gerbang Kota besok pagi." Ujar Ignis lagi.
Ignis lalu beranjak berdiri dan pamit dengan anaknya itu. Miller terlihat bingung ketika melihat Indra setuju dengan ayahnya, setaunya Indra memiliki hubungan yang buruk dengan ayahnya setelah Avalance bercerita tentang Ignis.
"Bukankah kau tidak menyukai ayahmu? Kenapa kau malah menyetujuinya?" Tanya Miller.
"Dulu aku sangat ketakutan ketika petir menyambar di langit, aku selalu memeluk ibuku ketika aku ketakutan dengan suara petir, dengan lembut ia mengelus kepalaku dan berkata 'jangan takut, lihatlah ayahmu. Dia tidak pernah takut dengan apapun, jadilah seperti dia' setelah mendengar perkataan ibuku itu, aku memberanikan diri untuk keluar dan melihat ayah duduk santai di ruang tengah tanpa menghiraukan petir diluar." Ujar Indra.
"Sejak saat itu, aku sangat mengagumi ayahku. Aku tau dia dalang dari semuanya, mulai dari kematian ibuku sampai kehancuran desa itu. Namun, ibu juga selalu mengajarkanku dendam tidak akan menyelesaikan masalah. Karena itu, aku tidak akan menyimpan dendam apapun ke ayah sebenci apapun aku dengannya." Lanjut Indra.
Miller terdiam.
Keesokan harinya, Indra segera bangun dan mengunci Villanya dan meninggalkan kunci itu dibawah pot bunga disamping teras rumah, Miller akan membawa barang-barangnya di siang hari karena itu Indra meninggalkan kunci Villanya.
Indra pergi ke gerbang Kota dan sudah melihat ayahnya berdiri menunggunya, ia lalu segera menghampiri ayahnya.
"Ayah, apa kau sudah lama menunggu?" Tanya Indra.
"Aku juga baru sampai, ayo kita berangkat." Jawab Ignis.
"Maaf aku tidak memiliki pakaian formal." Ujar Indra.
"Ada segudang di Kastilku, kau boleh memilikinya." Balas Ignis.