Atlas: Lightning From The Wild West

Atlas: Lightning From The Wild West
08: PENYIHIR AGUNG DARI UTARA



PENYIHIR AGUNG DARI UTARA


Malam itu, tiga sahabat karib itu tidak sengaja bereuni di sebuah kota yang jauh dari kampung halaman mereka. Mereka bertiga duduk di depan meja resepsionis yang menyediakan kursi. Seorang nenek pemilik penginapan itu duduk di meja resepsionisnya menyimak percakapan tiga sahabat itu.


"Indra, sudah lama sekali. Bagaimana kabarmu?" Misha bertanya.


"Entahlah, kalau boleh jujur, aku bahkan merasa tidak pernah berubah dari 2 tahun yang lalu" jawab Indra.


"Hei, kau tidak akan bertanya bagaimana kabarku juga?" Miller menyeletuk perkataan Indra dengan kesal.


"Kita sudah bertemu tadi pagi, itu akan terasa aneh jika aku berkata seperti itu kepadamu" jawab Misha tak kalah kesal.


"Kalian berdua cobalah untuk sedikit akur, kalian kan sudah dewasa jangan seperti anak kecil" ujar Indra menengahi dua sahabatnya itu.


"Aku tidak ingin mendengar itu dari seseorang yang berniat mengalahkan satu orang. Namun, berakhir dengan menghancurkan sebuah bangunan" balas Miller yang masih kesal.


"Apa hubungannya? Lagipula aku hanya menghancurkan setengahnya saja" ujar Indra, kali ini ia juga ikut kesal.


"Hahaha, kalian bertiga benar-benar terlihat seperti sahabat yang memang sudah lama saling kenal. Namun, aku sarankan kalian bertiga untuk segera beristirahat saja, tetangga kita akan sangat marah jika sampai terbangun" ujar Nenek pemilik penginapan sambil tertawa.


"Ah, maafkan kami" Miller langsung membungkuk untuk meminta maaf.


"Baiklah, sekarang mari kutunjukkan kamar kalian berdua" ujar Nenek itu lagi kepada Miller dan Misha.


"Sampai besok Miller, Misha" ujar Indra sambil berjalan menuju kamarnya.


Keesokan harinya, Indra bangun sedikit kesiangan. Setelah mengganti pakaian tidurnya ia keluar kamarnya dan bersiap untuk berangkat menuju Bounty Store, di tengah-tengah ruangan sempit itu ia melihat Miller.


"Sial, aku benar-benar terlambat" ujar Miller.


"Ada apa Miller?" Indra bertanya sambil menahan kantuknya.


"Aku terlambat untuk ke kantor sherif eh, maksudku kantor polisi, entahlah apapun itu" jawab Miller.


"Oh … kau terlihat sangat terburu-buru" ujar Indra yang masih mengantuk.


"Tidak Indra, tentu saja aku sedang bersantai sekarang. Ah … sudahlah, berbicara denganmu hanya akan membuat ku tambah pusing" balas Miller yang langsung berlari menuju kantornya dengan terburu-buru.


"Itulah kenapa aku memilih pekerjaan yang membuatku bisa lebih bebas" ujar Indra berbicara sendiri.


"Kau tidak segera berangkat bekerja? Dua temanmu itu sudah berangkat dan mereka tidak terlihat bersantai, bagaimana denganmu?" Nenek itu bertanya.


"Ah … tenang saja, pekerjaanku tidak mengharuskanku untuk pergi secepatnya. Tidak seperti mereka, aku masih punya cukup waktu untuk duduk sambil menikmati segelas kopi. Namun, sepertinya ada baiknya aku juga segera berangkat. Sampai nanti, Nek" jawab Indra sambil beranjak pergi.


Hari itu adalah hari yang panas, meskipun tidak sepanas itu bagi Indra yang berasal dari wilayah barat. Saat Indra sampai ke Bounty Store, semua orang sedang duduk bermalas-malasan karena terlalu malas mengambil misi di terik panas hari itu.


Indra duduk di mejanya seolah itu hanya hari biasa.


"Hari ini sangat panas, aku sudah memesan 4 gelas minuman dingin dan itu sama sekali tidak membantu, tapi aku bersyukur aku memakai dress ini" ujar Aurora sambil mengelap keringatnya yang bercucuran.


"Itu aneh, bukankah tanaman sangat membutuhkan matahari? Sebagai penyihir tumbuhan kau sangat menyedihkan" balas Noah walaupun ia juga terlihat menahan panas.


"Senior, apa kau tidak kepanasan?" Aurora menatap Indra dan bertanya.


"Kalau hanya seperti ini aku masih tidak apa-apa. Kau juga bisa memanggilku Indra, aku tidak keberatan" ujar Indra.


"Jadi itu bedanya Sang nomor 1" ujar Noah terkagum.


"Yaampun … panggil saja aku Indra" ujar Indra sekali lagi sambil melihat-lihat poster.


Di antara ratusan lembaran kertas itu tidak ada satupun yang menarik perhatian Indra, semuanya terlihat membosankan baginya. Akhirnya dia memutuskan untuk tidak mengambil pekerjaan dan bersantai disana.


"Kau tidak mengambil pekerjaan, Senior? Ah … maksudku Indra" tanya Aurora.


"Tidak, semuanya terlihat membosankan" jawab Indra.


Noah sudah sedari tadi pergi mengambil pekerjaan, orang itu sepertinya sangat rajin dalam bekerja.


Aurora tampaknya mulai menjadi lebih akrab dengan Indra, dia juga sepertinya sudah melupakan perkataan pedasnya terhadap Indra karena Indra juga tidak peduli.


Di tengah terik panas itu, tiba-tiba seluruh kota yang tadinya kepanasan menjadi menggigil kedinginan bahkan salju mulai turun.


Semua orang di Bounty Store kebingungan karena hari yang tadinya panas bisa berubah menjadi sedingin itu. Mereka semua mengintip keluar melihat salju yang turun di musim panas.


"Bagaimana mungkin ada salju di musim panas itu aneh" ujar Aurora ia menyentuh salju yang telah turun.


"Salju itu apa?" Indra bertanya.


"Eh? Kau belum pernah melihat salju? Ah, tentu saja kau kan berasal dari barat. Salju adalah uap air yang membeku karena udara yang dingin, singkatnya begitu" jawab Aurora.


"Berdasarkan reaksi orang-orang, sepertinya ini bukan hal yang biasa terjadi di musim panas" ujar Indra.


"Sepertinya ini ulah dari sihir seseorang" balas Aurora.


"Itu bisa jadi, tapi sihir orang itu pasti sangat kuat hingga bisa mempengaruhi sebuah kota"


Tak perlu waktu yang lama, seluruh kota sudah dipenuhi oleh salju. Itu adalah pemandangan yang baru kali ini Indra melihatnya. Taman kota, jalan, bahkan atap bangunan semuanya dipenuhi oleh butiran salju. Suasana yang benar-benar asing bagi Indra. Salju itu makin parah, sekarang sebuah badai salju melanda kota itu.


"Bagus! Tadi sangat panas mengapa sekarang malah sebaliknya. Sekarang aku menyesal memakai dress" ujar Aurora menggigil kedinginan.


Aurora memang hanya menggunakan dress hitam dengan motif bunga dengan bando yang dihiasi bunga merah, dia terlihat imut saat memakainya. Melihat Aurora yang kedinginan, Indra melepas jaket dan syalnya lalu memberinya pada Aurora.


"Ini, pakailah. Aku juga sudah biasa dengan dingin" ujar Indra.


Indra kemudian menggantungkan jaketnya ke pundak Aurora. Dia juga memasangkan syal merahnya di leher Aurora.


Di tengah badai salju itu, seseorang terlihat sedang berjalan di tengah badai salju itu. Orang itu berjalan ke arah Bounty Store, semakin dekat dia badai salju itu juga semakin kencang. Orang itu mengenakan pakaian tebal berwarna putih seolah sedang menyatu dengan salju yang turun. Orang itu akhirnya sampai ke depan Bounty Store, berhadapan dengan Indra dan Aurora. Yang lainnya tak sanggup dengan suhu dingin itu dan memilih untuk masuk.


"Siapa?" Indra bertanya kepada Orang itu.


"Namaku adalah Avalance, aku datang kemari untuk mencari bantuan salah satu tempat untuk mencarinya adalah tempat ini" jawab Avalance.


"Kalau begitu coba untuk batalkan sihirmu itu. Sihir ini membuat repot orang-orang" ujar Indra.


"Maaf. Namun, walaupun aku mau, aku tidak bisa. Ini adalah kutukanku" balas Avalance.


"Menarik … sekarang apa tujuanmu?' Tanya Indra.


"Seperti yang kukatakan tadi, aku membutuhkan orang terkuat yang berada disini untuk tugas ini" jawab Avalance.


"Kau sudah berhadapan dengannya, sekarang tugas macam apa yang kau tawarkan?" Indra bertanya lagi.


"Cobalah untuk membuktikan hal itu terlebih dahulu" ujar Avalance mengabaikan pertanyaan Indra.


Badai salju itu menjadi semakin deras, Avalance sudah bersiap bertarung kapan saja.


"Tidak ada pilihan lain" ujar Indra.


Indra menggunakan sihirnya yang seketika menutupi langit itu dengan awan hitam yang siap menyambarkan petir.


Petir pun menyambar Avalance dengan bertubi-tubi. Namun, ia tidak bergeming.


Avalance melihat sihir Indra dan entah mengapa dia seperti melihat sesuatu saat melihat sihir Indra. Badai salju itu kemudian menjadi lebih tenang.


"Menarik" ujar Avalance.


"Apa maksudmu? Kau bahkan tidak bergeming setelah menerima petirku" ujar Indra.


"Aku merasa hawa sihirmu tidak asing dan setelah kau menggunakan sihirmu, hawa itu menjadi lebih jelas. Akhirnya aku tau" balas Avalance.


"Tidak, aku tidak pernah bertemu denganmu jadi itu mustahil" ujar Indra.


"Memang benar, itu karena hawa sihirmu mirip dengan milik ayahmu. Ignis" balas Avalance.


Indra sangat mengenal nama itu, itu adalah nama dari ayahnya.


"Kau mengenal ayahku?" Indra bertanya.


"Aku tidak hanya sekedar mengenalnya, dia adalah saudaraku. Dengan kata lain aku adalah pamanmu, anak Ignis" jawab Avalance.


"Ayahmu adalah Penyihir Agung sama sepertiku, aku yakin kau berasal dari sana" lanjut Avalance.


"Tidak, itu salah. Ayahku adalah seorang prajurit perang" balas Indra.


"Apa bedanya? Para penyihir agung memang sering berperang untuk melindungi wilayahnya" ujar Avalance.


Indra terdiam.


"Baiklah, sekarang apa kau bersedia mengambil tugas dariku?" Avalance bertanya.


"Jika itu belum resmi, aku tidak bersedia" jawab Indra.


"Tenang saja, aku sudah meminta izin dengan pemerintah wilayah ini. Mereka juga memberiku poster ini, mereka bilang untuk membawa poster ini ke tempat ini" balas Avalance sambil menunjukan Poster Bounty dengan Rank SSS.


"50.000 keping emas? Itu gila! Aku sudah pasti bersedia mengambilnya!" Ujar Indra dengan semangat.


"Baiklah, kalau kita menuju ke wilayah utara sekarang. Namun, apa kau yakin akan berangkat sendiri? Bagaimana dengan gadis itu? Dia terlihat cukup tangguh" balas Avalance sambil menunjuk ke arah Aurora.


"Tidak, terimakasih. Aku tidak suka tempat yang dingin" ujar Aurora.


"Indra, apa kau butuh jaketmu lagi?" Lanjut Aurora bertanya.


"Tidak, pakai saja dulu" jawab Indra.


"Um … terimakasih, kalau begitu aku akan masuk duluan" balas Aurora sambil melangkah masuk ke Bounty Store.


"Aku menyarankanmu untuk membawa rekan, anak Ignis. Karena ini akan sulit" ujar Avalance.


"Panggil saja aku Indra, paman. Tenang saja mereka akan datang sebentar lagi" balas Indra.


Dari kejauhan terdengar suara orang berlari, dari suaranya sepertinya ada dua orang. Semakin dekat suara itu, akhirnya terungkap dua orang yang sedang berlari itu adalah Miller dan Misha. Mereka berdua berlari menuju ke arah Indra.


"Indra, kau tidak apa-apa? Aku melihat sihirmu tadi, kupikir kau sedang menghadapi sesuatu jadi aku segera kemari" ujar Misha yang masih berlari.


"Sial … padahal aku berharap bisa datang untuk menertawakanmu kalau kau babak belur" ujar Miller.


"Kau lihat? Mereka sudah tiba" ujar Indra kepada Avalance.


"Hei kalian. Apa kalian mau 10.000 keping emas?" Indra bertanya kepada kedua sahabatnya itu.


"10.000 keping? Tentu saja!" Ujar Miller bersemangat.


"Bagaimana caranya?" Misha bertanya.


"Kalian akan tau saat kita tiba di Utara" jawab Indra.


Misha dan Miller saling menatap awalnya Misha ragu. Namun, akhirnya dia bersedia.


Mereka berempat pun akhirnya pergi menuju Wilayah Utara.