Atlas: Lightning From The Wild West

Atlas: Lightning From The Wild West
59: KEBERUNTUNGAN



Lubang Hitam itu awalnya hanya menarik barang-barang ringan. Namun, dengan perlahan sihir itu semakin kuat dan hampir membuat copot atap bangunan-bangunan di Kota.


"Begitu singkatnya, tetapi aku yakin masih banyak hal yang harus diselidiki dari kasus ini." Ujar Miller.


Miller masih panik, dia berdiri sambil berpikir keras untuk mencari cara untuk menghadapi situasi ini. Sedangkan Indra duduk di tanah sambil bersandar di tembok bangunan dibelakangnya seolah tidak terjadi apapun.


"Yah… kau tidak akan menyelidiki apapun setelah seluruh kota ini ditelan oleh apapun yang berada di atas itu." Balas Indra sambil melihat lubang hitam dilangit.


"Kenapa kau masih bisa setenang itu? Sebuah Kota akan hilang sebentar lagi dan kau bisa setenang ini saat para penduduk Kota berlarian menyelamatkan diri." Ujar Miller yang semakin kesal melihat Indra.


"Orang-orang pasti akan putus asa saat ini, tetapi aku tidak memiliki harapan sama sekali dalam hidupku. Kau tidak bisa berputus asa ketika kau tidak memiliki harapan apapun." Balas Indra.


Miller ingin menggunakan sihir kegelapannya untuk mencoba menyerang lubang hitam itu. Tepat sebelum ia melancarkan serangannya, Indra menahan tangan Miller untuk menghentikannya.


"Jika kau melakukannya itu hanya akan mempercepat hilangnya kota ini, satu-satunya yang bisa menghentikan sihir itu hanyalah cahaya sihir dari api, petir, atau sihir cahaya itu sendiri." Ujar Indra.


"Kalau begitu, apa kau punya solusi yang lebih baik?" Tanya Miller melotot ke arah Indra.


"Kita tidak bisa menunggu Misha lagi, kita hanya bisa melihat apakah sihirku akan pulih lebih cepat daripada lubang hitam itu melahap seisi kota. Lagi-lagi ini tentang keberuntungan." Jawab Indra.


Rencana awal Indra dan Miller adalah menahan Asmodeus hingga petang sambil berharap Misha akan kembali saat petang, sihir cahaya milik Misha adalah yang paling efektif untuk menghadapi Asmodeus. Namun, dengan adanya lubang hitam yang cepat atau lambat akan melahap seisi kota itu, opsi itu sudah tidak bisa mereka andalkan lagi.


Beberapa saat kemudian, lubang hitam itu semakin kuat dan mulai menarik benda-benda yang lebih berat. Asmodeus hanya diam sambil melayang di langit, dia sepertinya hanya ingin menunjukkan seberapa besar perbedaan kekuatan mereka.


Tanpa diduga, sebuah bola api raksasa terbang ke arah lubang hitam itu dan meledak dilangit, seketika menghilangkan lubang hitam itu.


Melihat itu, Indra tertawa kecil


"Lihat, kita sangat beruntung bukan? Itu adalah bantuan yang lebih hebat dari Misha." Ujar Indra.


"Siapa itu?" Tanya Miller.


"Sudahlah duduk saja, pertunjukan menariknya dimulai sekarang." Indra mengabaikan pertanyaan Miller.


Asmodeus yang melihat itu ikut terkejut melihat ledakan besar itu, tanpa pikir panjang Asmodeus segera melesat ke arah serangan itu dilancarkan.


Asmodeus melihat seorang pria berjubah merah dengan mata berwarna biru berdiri dari arah serangan tadi datang. Pria itu sudah pasti Ignis. Dialah Penyihir Agung yang seharusnya menjadi saksi penghancuran Primordial Pearl. Namun, sekarang semuanya berjalan diluar rencana.


"Jadi mereka tidak menghancurkan benda itu ya?" Cibir Ignis.


"Jadi kau yang melakukan hal itu tadi? Mungkin bagian jiwaku yang ini bukan tandinganmu. Namun, kau adalah lawan yang pantas untuk dilawan!" Ujar Asmodeus.


Ignis berdiri tanpa melihat keatas dimana Asmodeus sedang melayang di udara. Lalu tiba-tiba saja sayap Asmodeus mulai terbakar dan membuatnya terjatuh keras, tidak lama setelah Asmodeus menyentuh tanah, Ignis datang dan kemudian menginjak tulang sayap kiri Asmodeus. Bahkan Asmodeus kebingungan, sebelumnya Asmodeus mampu dengan mudah melihat masa depan untuk menghindari serangan yang mengancamnya. Namun, ketika berhadapan dengan Ignis. Kemampuan melihat masa depannya tidak berguna, ketika ia mencoba melihat masa depan tadinya, ia tidak melihat Ignis bergerak. Namun, setelah ia selesai melihat masa depan itu, Ignis sudah menginjak tulang sayap kirinya.


Sesuatu terasa sangat janggal bagi Asmodeus ketika menghadapi Ignis. Ignis kemudian menginjak tulang sayap kiri Asmodeus dengan lebih keras dan membuat api yang membakar sayap kiri Asmodeus menjadi lebih kuat. Ignis mencekik Asmodeus yang sedang menjerit kesakitan.


Asmodeus yang awalnya menjerit kesakitan tiba-tiba tertawa terbahak-bahak.


"Apa yang lucu?" Tanya Ignis.


"Tidak, kau cukup kuat. Mutiara yang berwarna biru masih tidak akan cukup untuk melawanmu, aku perlu jiwaku yang berada di Mutiara ungu untuk bisa menyaingimu." Jawab Asmodeus.


"Itu tidak menjawab pertanyaanku." Ignis kemudian menggunakan apinya untuk membakar sekujur tubuh Asmodeus.


Asmodeus kembali menjerit kesakitan meskipun disela jeritannya masih terselip tawanya.


"Saat aku kembali, kau adalah orang pertama yang akan kucari." Ujar Asmodeus di sela jeritannya.


"Itu tidak akan terjadi." Ujar Ignis.


Tak lama kemudian, Indra yang ditemani oleh Miller datang untuk menghampiri Ayahnya itu.


"Kau datang tepat waktu, ayah." Ujar Indra.


"Indra? Jadi kau sudah kembali dari Wilayah Utara? Kukira kau akan menghabiskan waktu sedikit lebih lama disana." Balas Ignis.


"Indra, jangan-jangan… sejak awal kau sudah tau bahwa Tuan Ignis akan datang?" Tanya Miller memotong pembicaraan mereka.


Indra tidak menjawab dan hanya mengangkat kedua bahunya.


Ignis menepuk jubah merahnya yang berdebu.


"Kudengar kau pergi ke markas WOA akhir-akhir ini, bagaimana menurutmu tempat itu?" Tanya Ignis.


"Eh? Ayah tau darimana tentang itu?" Indra bertanya balik.


"Bibimu Weather Painter yang menceritakannya." Jawab Ignis.


Indra seketika terkejut mendengar perkataan ayahnya.


"Wanita aneh itu adalah bibiku? Tunggu, bukankah kau dan paman Avalance hanya dua bersaudara?" Tanya Indra.


"Aku yakin tidak satupun dari kami berdua pernah mengatakan bahwa kami hanya dua bersaudara." Jawab Ignis.


"Jadi bagaimana menurutmu markas WOA?" Tanya Ignis lagi.


"Markas WOA adalah tempat yang aneh, tapi disaat yang bersamaan tempat itu sangat menakjubkan, terlebih lagi hanya ada dua orang yang menjaga tempat itu." Lanjut Indra.


"Indra, kebetulan aku ingin membicarakan sesuatu denganmu. Namun, aku memiliki beberapa hal yang harus ku urus dengan orang-orang WOA, setelah semuanya selesai aku akan menjemputmu." Ujar Ignis.


"Boleh saja, tetapi aku tidak akan tetap berada di satu tempat saja." Balas Indra


"Itu bukan masalah." Ujar Ignis berjalan pergi.


Berselang beberapa waktu kemudian, Miller sedikit bertanya kepada Indra.


"Bagaimana bisa kau pergi ke markas WOA?" Tanya Miller.


"Iya, Avalance membawaku sebagai pendampingnya ketika berkunjung kesana." Jawab Indra.


"Memangnya dimana tempat itu?" Tanya Miller lagi.


"Dimanapun mereka mau." Jawab Indra.


Miller terlihat bingung setelah mendengar itu.


"Aku paham reaksimu, karena itulah markas WOA adalah tempat yang paling aneh sekaligus juga paling menakjubkan yang pernah aku kunjungi." Ujar Indra lagi.


"Lalu apa maksudmu tentang tempat itu hanya dijaga oleh dua orang?" Tanya Miller sekali lagi.


"Itu karena memang tempat itu hanya dihuni oleh dua orang saja. Cucu langsung dari pahlawan dunia, Avos. Dia adalah pemimpin sekaligus Penyihir Agung tertua, lalu ada satu lagi Penyihir Agung disana. Dia adalah Weather Painter, orang yang tadi kami bicarakan, dia adalah wanita yang benar-benar aneh, dia tidak mau dipanggil dengan nama aslinya." Jawab Indra.


"Omong-omong, Miller aku lapar. Apa kau tau tempat makan siang di sekitar sini?" Tanya Indra.


"Memangnya siapa yang akan membuka restoran mereka ditengah situasi seperti ini? Terkadang aku berpikir, apakah kau sebenarnya pura-pura bodoh? Atau kau memang orang bodoh." Jawab Miller.