Atlas: Lightning From The Wild West

Atlas: Lightning From The Wild West
06: MILLER



MILLER


Hari sudah mulai senja. Indra telah sampai di Gereja itu tempat itu terlihat tidak terurus, bangunannya retak, seluruh bangunan itu juga ditumbuhi tanaman yang menjalar. Namun, bangunan itu sangatlah besar. Indra mencoba memasuki tempat itu, didalamnya terdengar suara seseorang yang sepertinya sedang mengintrogasi salah satu anggota sekte itu, orang itu diikat di sebuah pillar. Suara pengintrogasi itu tidak asing bagi Indra.


"Seperti biasa, wajahmu selalu memuakkan" ujar Indra kepada orang itu.


"Indra? Kenapa kau berada disini?" Tanya orang itu.


"Dasar. Begitulah caramu menyambut sahabat mu?" Lanjutnya.


"Miller, apa kau tidak tau bahwa aku berada disini karena ulahmu juga? Karenamu aku jadi tidak punya pekerjaan di barat" jawab Indra.


"Apa maksudmu? Ohh... maaf soal itu, tapi itu bukan hal yang buruk bukan? Disana jadi lebih aman" balas Miller


"Ya, setidaknya kau benar. Lalu sekarang apa kau mau melakukan itu untuk kedua kalinya?" Indra bertanya dengan kesal.


"Tidak juga, aku hanya mengincar salah satu dari anggotanya. Lebih tepatnya pemimpin mereka Hydra" jawab Miller.


"Baguslah, kau tidak mengincar misiku" ujar Indra.


"Omong-omong, kemana orang yang kau tangkap tadi?" Indra bertanya sambil menunjuk pillar kosong dengan seutas tali terletak dibawahnya.


"Ah, sialan. Dia kabur, jika tidak segera kita cari lagi para atasannya akan mengetahui kehadiran kita" ujar Miller berlari ke arah yang mungkin dilewati anggota sekte sesat itu.


"Itu terdengar berbahaya" balas Indra sembari menyusul Miller.


Mereka berlari di sebuah lorong berusaha mengejar tahanan Miller. Namun, seketika mereka terpental oleh arus ombak di dalam sebuah ruangan. Segera setelah mereka bangkit, seorang wanita berdiri di jalan mereka.


"Tuan Hydra menyuruh kami untuk mencari para penyusup. Namun, beruntungnya aku karena kalianlah yang menemukanku" ujar wanita itu


Wanita itu bertubuh tinggi dengan pakaian serba putih dan rambut hitamnya.


"Aku adalah Aquila, salah satu dari petinggi Regulus, ingat baik-baik. Sekarang saatnya menjemput ajal kalian" ujar Aquila dengan yang sombongnya.


"Sepertinya dia tidak bermain-main. Hati-hati Indra" ujar Miller memperingati Indra.


"Bagiku dia tidak terlihat sekuat itu" balas Indra.


"Eh, tunggu. Kau mungkin benar, dia tidak sekuat itu terutama jika melawanmu" ujar Miller.


"Besar juga omongan kalian. Tenang saja tidak akan bisa berkata seperti itu setelah yang satu ini" ujar Aquila.


Ombak air kali ini jauh lebih besar dari tadi mengarah ke mereka. Namun, Indra dan Miller tidak bergeming. Bersamaan dengan ombak itu awan-awan hitam sudah menyelimuti langit. Sebelum ombak besar itu menimpa Indra dan Miller, petir besar telah menyambar bangunan itu berkali-kali dan meruntuhkan setengah dari Gereja itu. Karena bangunan yang runtuh Indra dan Miller juga ikut terkubur dalam reruntuhan.


"Sialan kau Indra! Bisakah kau sedikit menahan diri? Kau baru saja menghancurkan setengah dari Gereja ini hanya untuk mengalahkan satu musuh" ujar Miller sambil keluar dari reruntuhan yang menimpanya.


"Aku sudah menahan diri. Tapi disamping itu, sepertinya wanita itu tumbang karena ditimpa reruntuhan bangunan ini. Padahal ku kira petirku bisa menyentuh airnya. Namun, tidak sesuai perkiraanku" balas Indra yang sudah duluan keluar dari reruntuhan itu.


"Terima kasih. Sekarang karena ulahmu mereka jadi tau lokasi kita" ujar Miller yang masih kesal.


"Wanita itu sudah selemah itu dan dia adalah salah satu petinggi. Aku tidak membayangkan petinggi dan pemimpin mereka akan sekuat itu" balas Indra.


"Berapa kali lagi aku harus bilang kepadamu untuk tidak meremehkan musuh. Inilah alasan mengapa kau tidak terkenal di kota Houstin"


"Itu disebut logika. Lagipula apa hubungannya dengan terkenal atau tidaknya aku di Houstin? Asal kau tau saja semua orang di Lunar mengetahui namaku" balas Indra


"Aku berani bertaruh lima ribu keping emas untuk itu" ujar Miller.


"Ditambah lagi sihirku akan melemah di tempat seterang ini. Apa kau bisa melakukan sesuatu dengan masalah ini?" Miller bertanya.


"Jadi selama ini kau selalu bertarung didalam ruangan? Baiklah aku akan sedikit membantumu" jawab Indra, langit itu kemudian semakin dipenuhi awan-awan hitam yang semakin meredupkan cahayanya.


"Bagaimana sekarang? Ini sudah cukup gelap" ujar Indra.


"Itu sudah cukup"


Miller kemudian menghancurkan sisa bangunan itu dengan sihir kegelapan. Indra melihat itu dengan kesal.


"Bukankah kau malah menghancurkan semuanya?" Tanya Indra dengan kesal mengingat Miller juga kesal setelah melihat Indra melakukan hal yang sama.


"Jika segelap ini, sihirku tidak akan bermasalah" jawab Miller.


"Terserah kau saja" ujar Indra.


"Kalian sepertinya sedang bersenang-senang" ujar seseorang dari belakang Indra dan Miller.


Mereka berdua menoleh kebelakang. Ada sekitar 50 orang berdiri disana entah sejak kapan sudah mengepung mereka.


"Aku Hydra, aku adalah pemimpin-" belum selesai Hydra berbicara sebuah sihir telah mengikat tubuhnya. Sihir itu sempat melemah sedikit. Namun, seketika pulih kembali.


"Target ku adalah kau, sepertinya ini hari keberuntunganku. Targetku sendiri menghampiriku dengan sengaja. Bagaimana menurutmu Indra? Ini memang hari keberuntunganku" ujar Miller.


Indra tidak merespon, ia hanya berdiri disana dengan santainya.


"Jangan senang dulu. Para anak buahku cukup kuat" ujar Hydra.


"Aku tidak paham maksudmu. Aku tidak melihat orang yang masih sehat disini" ujar Indra.


"Sejak kapan? Sejak kapan mereka terbaring disana?" Hydra bertanya sambil bergetar ketakutan.


"Entahlah, petirku jauh lebih cepat dari petir biasa. Jadi mungkin saja kau tidak menyadarinya" ujar Indra.


"Jangan banyak bertanya. Sebentar lagi kau juga akan berakhir seperti mereka" ujar Miller sambil mengeluarkan sihirnya dan bersiap untuk menyerang Hydra.


Setelah berhasil menumbangkan seluruh anggota Regulus. Indra baru saja teringat bahwa misinya bukanlah untuk mengincar Regulus. Namun, sandera mereka.


"Sialan, aku lupa. Regulus bukanlah incaranku" Ujar Indra dengan panik sambil mengacak-acak reruntuhan bangunan itu.


"Apapun incaran mu itu tidak ada hubungannya denganku, targetku sudah ditangan" balas Miller dengan tenang.


"Begitu kah? Bagaimana jika kubilang bahwa orang-orang ini menyandera seseorang. Jika saja atasanmu tau jika ada korban jiwa aku akan penasaran dengan nasibmu" ujar Indra lagi.


"Kenapa kau tidak bilang dari tadi? Sialan" Miller sekarang bahkan jauh lebih panik dari Indra.


Mereka berdua kemudian mengobrak-abrik reruntuhan itu. Syukurnya mereka berdua menemukan anak itu. Anak itu adalah seorang laki-laki. Namun, umurnya sulit ditebak karena ia mengenakan armor di seluruh tubuhnya termasuk wajahnya. Jika dilihat dari postur tubuhnya ia masih berumur 15 tahun


"Kau tidak apa-apa?" Ujar Indra sambil mengulurkan tangan.


Anak itu beruntung. Ia berada di sela-sela reruntuhan itu karena itulah ia tidak apa-apa.


"Aku baik-baik saja" balas anak itu.


"Siapakah kalian berdua?" Tanya anak itu.


"Indra, dan dia adalah temanku Miller" jawabnya.


"Indra? Apa kau seorang Bounty Hunter?" Anak itu bertanya kembali.


"Lightning From The Wild West. Ya itu aku" ujar Indra.


"Jika melihat keadaan disini aku sudah pasti percaya denganmu. Oh iya, Namaku Lax" balas Lax.


Sambil membawa para anggota Regulus mereka bertiga pun kembali ke Lunar.


"Itu tadi sangat membosankan. Dibandingkan dengan orang-orang yang pernah kita hadapi dulu" ujar Indra.


"Mungkin benar. Orang-orang ini tidak sekuat cara mereka berbicara. Aku yakin Pak tua dari bar itu bahkan lebih kuat dari mereka" balas Miller.


"Omong-omong apa kau pernah bertemu Misha akhir-akhir ini?" Indra bertanya.


"Kau tidak tau? Bukankah dia juga berada di Lunar? Aku baru saja bertemu dengannya tadi pagi. Dia bilang dia akan menetap untuk beberapa bulan" jawab Miller.


"Bagaimana denganmu? Apa kau akan kembali besok?" Tanya Indra lagi.


"Sepertinya tidak secepat itu. Setidaknya satu bulan dari sekarang, proses untuk memindahkan tahanan itu sangat merepotkan" jawab Miller.


Lax sedari tadi hanya diam mendengarkan percakapan Indra dan Miller. Anak itu sepertinya sangat mengagumi Indra.


Sesaat kemudian, mereka sampai ke Lunar. Hari mulai gelap, matahari telah terbenam penuh.


"Aku belum kunjung menemukan penginapan yang cocok, penginapan di kota ini semuanya kurang nyaman untuk ku" ujar Miller sambil menyusuri kota itu.


"Haha, sudah kuduga. Tenang saja aku tau satu penginapan yang sangat cocok" balas Indra.


"Kau harus mengurus orang-orang itu dulu bukan? Kalau begitu nanti temui saja aku di taman kota, aku juga harus mengantar anak ini. Setelah itu aku akan mengantarmu ke penginapan itu" ujar Indra.


"Baiklah, sampai jumpa" balas Miller.


Mereka pun berpisah. Indra dan Lax kemudian menuju Bounty Store. Sesampainya di sana Indra segera melepas lelah dengan memesan segelas minuman.


"Baiklah, sekarang aku butuh bayaranku" ujar Indra.


Penjaga bar itu memberikan sekantong emas berjumlah sekitar lima ribu keping emas. Pendapatan Indra hari itu adalah 10.000 keping emas. Setelah menerima itu Indra pergi menuju ke taman kota untuk menemui Miller.


"Seperti biasanya, wajahmu selalu memuakkan" ujar Indra sesampainya ia ke taman itu.


"Jadi dimana tempat itu?" Tanya Miller menghiraukan ucapan Indra.


"Oh… itu tidak jauh dari sini. Ikuti saja aku" jawab Indra.


Setelah melewati banyak gang sempit sebagai jalan pintar. Mereka akhirnya sampai di penginapan tersebut. Tidak ada yang spesial dari penginapan itu. Namun, sepertinya semua orang yang berasal dari barat akan menyukai tempat itu sebagai penginapan.


"Kau benar, tempat ini sempurna. Tidak seperti yang lain" ujar Miller.


"Benar kan? Aku juga tinggal disini" balas Indra.


Mereka berdua akhirnya memasuki penginapan itu. Ada seorang gadis yang juga berniat untuk tinggal di penginapan itu, gadis itu menggunakan topi penyihir berwarna putih, ia memakai jubah berwarna putih, dan pakaiannya berwarna abu-abu, dia juga berparas cantik dengan wajahnya yang manis. Ditambah lagi Indra dan Miller sangat mengenal gadis ini.


"Misha?" Ujar Indra dan Miller hampir bersamaan.


"Indra dan juga Miller? Kenapa kalian berada disini?" Misha bertanya balik.