
MASIH INGIN BERKEMBANG
Sudah tiga hari setelah pertarungan Indra, Miller, dan Misha. Di suatu pagi, Indra bangun dan melihat Misha dan Miller yang sedang memohon untuk dilatih oleh Bella.
"Tidak tidak, aku sudah memiliki dua orang anak. Aku tidak punya waktu untuk melatih kalian" ujar Bella.
"Kami mohon! Akan kami lakukan apa saja!" Balas Miller dengan memohon kepada Bella.
"Apa saja?" Tanya Bella.
"Benar! Apa saja!" Jawab Miller.
"Baiklah, aku akan melatih kalian selama sebulan. Dengan syarat, kalian harus mengurus dua anak ku dalam sebulan penuh" balas Bella.
"Itu syarat yang bagus!" Ujar Reisth dari mejanya sambil mengelap gelas anggur.
"Hanya itu? Kukira syaratnya akan lebih sulit" ujar Misha.
Bella tertawa.
"Terlalu cepat untuk berbicara, Misha" balas Bella.
Indra yang masih mengantuk kemudian duduk di samping Cheryl yang juga sedang mengamati Bella dan yang lain. Cheryl juga terlihat seperti sedang bersiap untuk pergi.
"Bagaimana? Sudah terbiasa?" Tanya Indra.
"Ya, suasana ditempat ini selalu hangat dan membuatku nyaman" jawab Cheryl.
"Bukan itu, astaga. Maksudku apakah kau sudah terbiasa menjadi seorang Bounty Hunter?" Tanya Indra lagi.
"Eh? Ah! Maaf! Soal itu… aku sudah cukup terbiasa. Namun, aku tidak berani mengambil misi yang mengharuskanku untuk membunuh sang target" jawab Cheryl.
"Bukan salahmu, hampir semua orang memiliki belas kasihan. Membunuh orang dengan sembarangan bisa saja memberikanmu penyesalan di masa depan" ujar Indra.
"Apa kau pernah menyesal telah membunuh targetmu?" Tanya Cheryl.
"Tidak, mereka yang memilih untuk mati. Aku hanya mewujudkannya" jawab Indra.
"Oh iya! Maaf aku tidak menemanimu akhir-akhir ini. Aku juga sedikit sibuk" lanjut Indra.
"Tidak apa-apa, itu membuatku lebih mandiri" balas Cheryl.
"Omong-omong, kau mau pergi kemana?" Tanya Indra.
"Aku harus pulang hari ini, aku tidak bisa lama-lama meninggalkan pekerjaan sebagai Petualang" jawab Cheryl.
"Aku tidak bisa menyalahkanmu, penghasilan sebagai Bounty Hunter tidak sebanyak para Petualang" balas Indra.
"Kau ingin kupesankan Kereta Kuda Sihir? Aku akan membayarnya untukmu" lanjut Indra.
"Tidak perlu, aku sudah banyak merepotkanmu. Aku akan menaiki kereta kuda biasa" balas Cheryl.
"Kalau begitu aku akan mengantarmu ke kota untuk mencarinya" ujar Indra.
"Cheryl, kau sudah ingin kembali? Tidak bisakah kau tinggal sebentar lagi? Padahal aku berniat mengajakmu berjalan-jalan di Wilayah ini" ujar Misha setelah mendengar Cheryl berniat kembali ke Wilayah Timur.
Cheryl tertawa kecil.
"Lain kali kita akan melakukannya, Misha" balas Cheryl tersenyum.
Beberapa saat kemudian, Indra mengantarkan Cheryl ke Kota Houstin untuk mencari kereta kuda.
"Indra, kau tidak memiliki niat untuk memiliki seekor kuda?" Tanya Cheryl.
"Kenapa tiba-tiba bertanya begitu?" Indra bertanya balik.
"Bukan apa-apa, hanya saja… kalian para penduduk barat selalu erat dengan yang namanya kuda" jawab Cheryl.
Indra menghela nafas.
"Terserah kau saja" ujar Indra.
"Tunggu, kenapa kau tiba-tiba marah?" Tanya Cheryl lagi.
"Aku tidak marah" jawab Indra.
Mereka berdua melewati tanah yang gersang ditemani oleh sinar matahari yang cukup panas.
"Kau tidak ikut kembali ke timur, Indra?" Tanya Cheryl.
Cheryl memasang wajah sedikit kecewa. Namun, meskipun Indra mau kembali ke Timur, tidak ada hal yang memang harus dia lakukan disana. Bounty Store di Wilayah Barat sudah beroperasi kembali setelah beberapa lama.
Tak lama kemudian, mereka berdua akhirnya sampai ke Kota Houstin. Disana, mereka segera mencari Kereta Kuda yang kosong untuk disewa. Setelah beberapa saat mencari, mereka akhirnya menemukan sebuah Kereta Kuda yang sedang tidak membawa apapun. Akhirnya mereka menyewa kereta kuda itu.
Cheryl langsung menaiki kereta itu dan berpamitan dengan Indra.
"Sampai jumpa di Timur, Indra!" ujar Cheryl saat Kereta Kuda itu mulai bergerak perlahan.
"Ya, jangan jera mampir kemari!" balas Indra.
Indra kemudian merasa sedikit sepi setelah Cheryl berangkat.
"Baiklah, sekarang apa?" Tanya Indra kepada dirinya sendiri.
Beberapa hari setelah itu, Indra tetap menangkap para kriminal seperti biasanya. Namun, ia merasa sedikit aneh sekarang. Biasanya dia memang tidak mendapatkan apa-apa selain uang saat menjalankan misi, kali ini dia perlahan mulai sadar bahwa dia tidak akan bisa berkembang jika hanya melawan orang-orang yang lebih lemah darinya. Namun, bukan berarti dia ingin berkembang. Setidaknya untuk saat itu tidak.
Biasanya Indra menyewa sebuah kamar di Kota Houstin. Namun, ia lebih memilih untuk kembali ke Angel Eyes Saloon karena dua sahabatnya juga sedang menetap sementara di sana. Ia sampai ke Angel Eyes bersamaan dengan Miller, Misha, dan Bella yang sepertinya sudah pulang latihan. Semenjak kekalahan mereka berdua beberapa hari yang lalu, kedua sahabat Indra itu mulai berlatih lagi.
"Indra, kau tidak ingin ikut berlatih dengan mereka?" Tanya Bella.
"Aku belum punya alasan untuk kembali berlatih" jawab Indra.
"Kau tidak takut ku kejar? Jika saat itu tiba, maka kau tidak akan sanggup mengejarku lagi" ujar Miller.
"Memangnya kau pikir Indra akan peduli dengan hal seperti itu?" Tanya Misha.
"Tidak ada orang yang rela dikejar oleh orang lain" jawab Miller.
"Ada, Indra salah satunya" balas Bella.
"Padahal baru beberapa tahun semenjak kalian pergi dari tempat ini. Namun, sekarang masing-masing dari kalian bahkan sanggup meratakan sebuah kota sendirian" lanjut Bella.
Bella kemudian tersenyum.
"Sudah lama aku tidak melihat kalian bertiga kembali berkumpul dan saling berdebat. Aku jadi teringat masa-masa dimana kalian masih seorang bocah" ujar Bella lagi.
Malam pun tiba, Indra masih belum kunjung tidur di tengah malam itu. Indra kemudian turun ke lantai bawah, semua orang kecuali Reisth sepertinya sudah tertidur. Karena ia tidak bisa tidur, Indra berniat untuk meminum segelas minuman keras untuk membantunya mengantuk.
"Belum tidur?" Tanya Reisth.
"Aku tidak bisa, mungkin segelas minuman akan membuatku mengantuk" jawab Indra.
"Baiklah, apa yang kau inginkan?" Tanya Reisth lagi.
"Aku ingin minuman terberat yang kau miliki" jawab Indra.
Reisth pun mulai menuangkan banyak minuman ke dalam pengocok minumannya.
"Sebenarnya apa hubunganmu dengan Cheryl ini?" Tanya Reisth sambil mengocok minuman Indra.
"Cheryl? Dia adalah seorang rekan yang baik" jawab Indra.
"Benarkah? Setiap Misha dan Bella membicarakanmu di depannya, dia selalu memperhatikan dengan seksama. Kau yakin tidak memiliki perasaan apapun kepadanya? Kukira kalian berdua sudah memiliki hubungan spesial" ujar Reisth sambil mengambil gelas dan menaruh sebongkah es batu ke dalam gelasnya.
"Entahlah, aku tidak pernah merasakan hal seperti itu sebelumnya. Jadi aku tidak yakin" balas Indra.
"Reisth, apa menurutmu tujuan dari mengembangkan diri?" Tanya Indra.
Reisth menatap Indra dengan tatapan bingung.
"Pertanyaan yang aneh. Namun, menurutku… mengembangkan diri adalah cara untuk membuktikan bahwa kau bukanlah orang yang sama" jawab Reisth sambil menuangkan minuman Indra dan menyajikannya.
"Terimakasih. Membuktikan kepada siapa lebih tepatnya?" Tanya Indra.
"Tentu saja kepada dirimu sendiri, buktikanlah pada dirimu di masa lalu bahwa kau berbeda dengannya" jawab Reisth.
Indra tersenyum lalu meraih minuman yang disajikan oleh Reisth dan menghabiskannya dalam satu tegukan.
"Jawaban yang bagus, Reisth" ujar Indra yang meninggalkan beberapa keping emas di meja dan berjalan keluar.
"Kemana kau malam-malam begini?" Tanya Reisth.
"Mengembangkan diri" jawab Indra di pintu keluar sebelum akhirnya keluar.
"Hei tunggu, emasmu kurang" ujar Reisth setelah menghitung bayaran dari Indra.
.