
INDRA, MILLER, DAN MISHA
Saat Indra masih berusia 13 tahun semenjak Luzin menghilang ia bertahan hidup sendirian.
Saat lapar ia selalu berburu sendiri tengah padang pasir ditemani oleh teriknya matahari ataupun bulan dan bintang-bintang yang redup, sebelumnya Indra masih sering memakan daging-dagingan yang lazim. Luzin selalu memiliki daging yang nikmat entah dari mana ia mendapatnya. Namun, semenjak hilangnya Luzin, Indra hanya memasak kadal gurun atau burung bangkai, untungnya Indra tidak pemilih soal makanan.
Suatu hari setelah selesai memburu beberapa ekor kadal, Indra merasa sedikit bosan dan memutuskan untuk tidur sejenak. Tanpa ia sadari matahari telah terbenam, Indra terbangun saat sinar redup bulan memancar di langit.
Sungguh sunyi suasananya, gurun pasir itu hanya memiliki kaktus dan beberapa batu yang berserakan. Indra beranjak pergi untuk mencari tempat untuk memasak kadalnya. Dia berjalan mengikuti sebuah jalan. Di jalan itu sama sekali tidak ada cahaya hanya cahaya redup sang bulan yang sedikit menerangi jalan itu.
Setelah beberapa lama menyusuri jalan itu, di seberangnya ada sebuah bangunan. Bangunan itu berdiri sendirian di tengah gurun itu, tidak ada lentera diluarnya. Namun, cahaya keluar dari dalam bangunan itu.
Kerena penasaran Indra mencoba untuk melihat-lihat sekitar bangunan itu. Setelah melihat bangunan itu dari dekat ia akhirnya tau bahwa itu adalah sebuah restoran kecil. Ia mengintip dari sela jendela, di dalam sana Indra melihat dua orang yang sepertinya seumuran dengannya sedang menikmati sebuah hidangan, bersama mereka sepertinya ada sepasang suami istri. Melihat itu perut Indra menjadi lebih lapar. Indra segera beranjak pergi. Namun, baru selangkah Indra berjalan pintu restoran itu terbuka.
"Apa kau sedang tersesat, Nak?" Tanya Wanita itu dengan senyum ramah.
Wanita itu menggunakan sebuah gaun putih dan mengenakan apron, sepertinya wanita itu adalah seorang koki.
"Tidak, aku tidak tersesat" jawab Indra.
"Masuklah, kami punya hidangan lebih" balas Wanita itu dengan senyuman ramahnya.
Wanita itu memegang tangan Indra dan menggiringnya masuk kedalam.
"Siapa namamu, Nak?" Wanita itu bertanya lagi.
"Indra" jawabnya.
"Baiklah Indra, nikmati saja hidangan-hidangan ini sepuasmu" ujar Wanita itu.
"Tidak perlu malu-malu, makanlah bersama Miller dan Misha" ujar seorang Pria yang sepertinya adalah suami dari wanita itu.
"Oh iya, aku lupa memperkenalkan diri. Aku Bella dan ini suamiku Reisth. Kalian berdua perkenalkan diri kalian juga" ujar Wanita itu lagi.
"Aku Miller, senang bertemu denganmu Indra" ujar Miller anak yang tadi Indra lihat dari jendela.
"Kau bisa memanggilku Misha, salam kenal Indra" ujar Misha, dia juga salah satu orang yang Indra liat di jendela.
Indra kemudian mencoba hidangan itu. Hidangan itu berupa sup jamur setelah mencoba sesuap, Indra tidak bisa berhenti memakannya. Sudah pasti karena selama bebert bulan ia hanya memakan kadal gurun.
"Kau tinggal dimana, Indra?" Bella bertanya
"Aku tidak punya rumah" jawab Indra.
Wanita itu memasang wajah bingung seolah tidak mengerti.
"2 tahun lalu, ada desa yang penduduknya telah dibantai bukan? Aku satu-satunya yang selamat" ujar Indra.
Mereka semua terkejut dan tidak percaya mendengar perkataan Indra. Namun, ia tetap saja menikmati makanannya seolah kejadian itu tidak pernah menimpanya.
"Indra, apa kau bisa menggunakan sihir?" Bella bertanya lagi.
"Sedikit" jawab Indra sambil menaruh mangkok yang sudah kosong.
"Kau tahu? Kami juga sedang mencari pekerja atau lebih tepatnya penjaga. Tentu saja jika kau tertarik maka kau boleh tidur, makan, dan tinggal di restoran ini. Kami juga akan membayarmu" ujar Reisth.
"Itu terdengar bagus, kalau kalian tidak keberatan aku bisa melakukannya" balas Indra.
"Kalau begitu cobalah untuk mengalahkan Miller, dia cukup kuat jika kau bisa maka aku pasti akan tenang" lanjut Reisth.
"Sekarang juga?" Tanya Indra.
"Jika kau ingin melakukannya sekarang maka kau akan melawan Miller. Namun, jika kau ingin melakukannya besok kau akan melawan Misha" jawab Reisth.
"Aku tidak begitu mengerti, tapi baiklah" ujar Indra beranjak keluar dan bersiap.
"Pergilah, Miller" ujar Reisth.
"Kenapa harus aku?" Miller mengeluh.
"Kenapa kau begitu, Reisth?" Bella bertanya kepada suaminya.
"Tenang saja, jika dia kalah pun akan tetap kuterima, aku hanya perlu hiburan sebelum tidur, haha" jawab Reisth.
Indra dan Miller sudah bersiap.
"Eh? Tunggu dulu. Sihir seperti apa yang dikuasai oleh Indra?" Tanya Misha.
"Eh? Benar juga, aku lupa menanyakannya" jawab Bella.
"Bersiaplah Indra!" Miller tiba-tiba bersemangat setelah tadinya mengeluh malas.
Aura gelap keluar dari Miller, sihir yang cukup besar. Melihat sihir kegelapan milik Miller, Indra berasumsi bahwa sihir milik Misha adalah sihir cahaya.
"Syukurlah aku tidak melakukan hal ini besok" ujar Indra.
"Kenapa?" Miller bertanya bingung.
"Karena sepertinya akan sulit bagiku untuk melawan cahaya"
Perlahan awan-awan hitam menutupi langit dan bulan.
"Cahaya bulan kini hilang, sihirku sudah berada di tingkat maksimal. Aku tidak akan menahan diri, Indra" Miller langsung mengeluarkan serangannya yang berupa sebuah bayangan hitam dengan bentuk seperti anak panah.
"Majulah" balas Indra.
Tepat sebelum serangan itu mengenai Indra, sebuah petir menyambar. Serangan itu menghilang karena terkena cahaya dari petir Indra.
Indra lengah dan saat itu Miller memanfaatkan kesempatan itu untuk menerjang kearahnya dan mendaratkan tinju diwajah Indra. Namun, Indra berhasil menunduk dan berhasil menghantam dagu Miller denga tinjunya.
Miller terpental kebelakang, Miller sekali lagi melempar sihirnya dan kali ini jauh lebih kuat, ia juga ikut maju untuk menyerang. Indra menggunakan petirnya untuk menghilangkan serangan itu. Namun, sepertinya cahayanya tidak sanggup untuk menghilangkan sihir Miller. Alhasil serangan itu berhasil mengenai Indra ditambah dengan pukulan telak di wajahnya membuat Indra terbanting dan menabrak sebuah batu.
"Sialan, aku terlalu meremehkan sihir itu" ujar Indra sambil berdiri.
Miller mencoba melakukan hal yang sama. Namun, itu tidak akan mengenai Indra untuk kedua kalinya. Kali ini Indra menggunakan petirnya untuk langsung menyambar Miller, Indra segera maju untuk mendaratkan pukulannya dan pukulan itu tepat mengenai wajah Miller seolah itu pembalasan dari Indra.
Pertarungan mereka terus berlanjut hingga tepat tengah malam. Mereka berdua berdiri saling berhadapan dengan jarak yang cukup jauh. Setelah pertarungan selama itu sihir demi sihir, pukulan demi pukulan. Tidak satupun dari mereka berdua yang terluka, tergorespun tidak.
"Kenapa kau tidak mulai untuk serius?" Miller bertanya kepada Indra.
"Bagaimana dengan dirimu sendiri?" Indra bertanya balik.
"Baik, sudah cukup anak-anak!" Bella berseru dari kejauhan sambil melambai-lambaikan tangannya.
Pertarungan itu berakhir seri, meskipun tidak satupun dari mereka yang mulai serius dalam pertarungan itu. Setelah pertarungan itu, Indra telah resmi menjadi pihak keamanan restoran itu.
Setelah itu Miller dan Misha terlihat membereskan beberapa meja dan menggesernya kepinggir.
"Maaf Indra, kami belum punya kasur lebih. Untuk sementara kau bisa tidur dengan Miller di kasurnya" ujar Bella.
Miller dan Misha keluar dengan membawa kasur lipat. Kasur itu adalah kasur satu orang. Namun, cukup untuk dua orang jika dipaksa.
"Aku akan tidur dilantai saja, aku tidak terbiasa tidur di kasur" ujar Indra.
"Kau yakin? Lantainya dingin saat malam begini" ujar Miller.
"Tidak apa-apa aku juga sudah sering tidur diluar" balas Indra.
Mereka tetap memaksa Indra untuk tidur di kasur. Akhirnya Indra mengalah. Namun, setelah semua tertidur, ia bangun dan tidur di lantai restoran itu.
Matahari mulai terbit, Bella sudah bangun dan bersiap untuk buka. Ia melihat Indra yang tidur dan segera membangunkannya.
"Hei, Indra! Kenapa kau malah tidur dilantai? Bukankah sudah kubilang untuk tidur saja di kasur bersama Miller? Kau bisa sakit" ujar Bella memarahi Indra.
"Hah? Ah… badanku bergerak sendiri" balas Indra pelan sambil menguap.
"Alasanmu itu sangat tidak masuk akal" ujar Bella lagi.
Bella kemudian membangunkan Miller dan Misha. Setelah bangun, mereka berdua segera membereskan tempat tidur mereka dan membantu Bella untuk membuka restoran itu. Miller membantu mempersiapkan dapur dan Misha membantu menyusun minuman-minuman di rak.
"Indra, bisakah kau membantu membersihkan halaman depan?" Bella bertanya.
"Tentu saja!" jawab Indra.
Indra beranjak keluar membawa sapu. Ia kemudian menyapu halaman yang penuh dengan pasir. Awalnya Indra bingung, karena ia disuruh untuk menyapu pasir hingga ia melihat papan kayu dibawah pasir-pasir itu. Ternyata ada lantai dibawah sana, Indra melihat ke samping restoran dan ia melihat banyak ada beberapa meja dan kursi disana.
Akhirnya Indra paham mengapa ada lantai di depan restoran itu. Indra kemudian menyusun Kursi dan meja yang berada di samping restoran itu ke lantai yang baru saja dia sapu.
"Angel Eyes Saloon? Jadi itu nama restoran ini…" ujar Indra setelah melihat lambang restoran itu.
"Ini bahaya! Reisth kita dalam bahaya!" Bella berseru dari dapur dan berlari kedepan.
"Ada apa Bella?" Tanya Reisth.
"Kita kehabisan stok daging, aku lupa memberitahumu kemarin" jawab Bella.
"Yaampun, kukira ada sesuatu. Miller, Misha, Indra. Kalian bertiga pergilah ke kota dan beli stok daging untuk kita" ujar Reisth kepada tiga anak itu.
"Lagi?" Miller mengeluh.
"Ke kota? Aku tidak sabar menantinya!" ujar Misha.
"Aku ikut saja" ujar Indra.
Setelah itu mereka bertiga pergi menuju kota Houstin dengan membawa sebuah gerobak.
"Indra, apa kau pernah ke kota sebelumnya?" Misha bertanya.
"Itu pertanyaan bodoh, memangnya ada orang yang tidak pernah ke kota? Pertanyaanmu tidak masuk akal" ujar Miller.
"Tidak, aku memang belum pernah ke kota. Seperti apa tempat itu?" Indra bertanya balik.
"Hah? Kau benar-benar belum pernah ke kota? Itu aneh" ujar Miller.
"Jadi kau belum pernah ke kota? Kau akan menyukainya disana adalah tempat yang menyenangkan" jawab Misha dengan senyumnya.
"Menurutku tempat itu tidak semenyenangkan itu" Miller menyeletuk perkataan Misha.
"Itu karena kau payah dalam menikmati sesuatu" ujar Misha.
"Pernyataan kalian tidak membuatku bisa membayangkan tempat itu" ujar Indra.
Matahari mulai naik lebih tinggi, dua dari tiga bocah itu sedikit menyesal untuk pergi ke kota
"Kau memang orang yang suram, Indra. Aku bahkan belum pernah melihatmu tersenyum" ujar Miller kepada Indra.
"Hah, sekarang lihatlah siapa yang paling bodoh? Kita baru bertemu Indra semalam, wajar saja jika dia belum membiasakan diri" Misha menyeletuk.
"Ah, tidak juga" balas Indra.
"Omong-omong hari ini sangat panas, rasanya aku bisa meleleh" ujar Misha mengeluh.
"Ya, kau benar. Ditambah lagi kita harus menghemat air hingga sampai di kota. Tunggu bukankah sihirmu bisa kebal dengan situasi seperti ini?" Miller bertanya kepada Misha.
"Sudah kuduga kau memang orang yang sangat bodoh, kau bahkan tidak bisa membedakan cahaya dan panas. Sihirku adalah sihir cahaya itu sangat berbeda dengan api atau sejenisnya" jawab Misha kesal.
"Kalian kepanasan? Harusnya kalian bilang saja dari tadi" ujar Indra.
Indra menggunakan sihirnya, awan-awan hitam perlahan menutupi langit sehingga menghalangi sinar matahari yang terik. Miller dan Misha kehabisan kata-kata setelah melihatnya.
"Hei, kalau kau bisa melakukan hal seperti itu kenapa tidak kau lakukan dari tadi?" Misha bertanya dengan kesalnya.
"Itu benar! Aku sudah mati-matian menahan panas ini dan ternyata kau bisa melakukan hal seperti itu tanpa memberitahu kami?" Lanjut Miller tidak kalah kesalnya.
"Eh? Maaf. Kukira kalian tidak membutuhkannya" jawab Indra.
Mereka bertiga akhirnya sampai ke sebuah kota yang disebut Houstin. Kota yang tidak begitu besar. Namun, cukup ramai. Banyak orang berlalu-lalang, pedagang di mana-mana, tak jarang juga beberapa kereta kuda lewat. Itu adalah pemandangan baru bagi Indra, tidak pernah ia melihat orang sebanyak itu dalam hidupnya.
Indra, Miller, dan Misha memutuskan untuk berpencar untuk mencari barang-barang yang dipesan oleh Reisth dan Bella. Indra mencari tambahan stok minuman, Miller mencari daging, dan Misha mencari sayuran untuk menambah stok sayuran. Awalnya Miller dan Misha kurang yakin karena Indra baru pertama kali berada di kota. Namun, Indra berhasil meyakinkan mereka.
Di hari itu jugalah tiga anak itu bertemu masa depan mereka kelak.
Indra pergi ke daerah pinggiran kota itu karena sedikit tersesat. Disana ia menemukan sebuah banguan yang didepannya terpasang papan besar tergantung yang bertuliskan "Bounty Store" dia mengira itu sebagai toko yang menjual minuman. Namun, setelah ia masuk kesana tidak ada apapun selain seorang pria paruh baya dan tumpukan kertas.
"Kau tersesat?" Pria itu bertanya.
"Sepertinya… iya" jawab Indra.
"Tempat apa ini? Semuanya penuh dengan kertas" lanjut Indra.
"Ini adalah Bounty Store, disini adalah tempat untuk mengambil tugas untuk menangkap ataupun membunuh seorang buronan atau memberikan jasa. Kau juga akan mendapat upah setiap kali berhasil melakukannya" balas Pria itu.
"Itu terdengar menarik! Bagaimana caraku bergabung?" Indra bertanya.
"Pertama-tama kau harus berumur lebih dari 15 tahun dan sayangnya kau terlihat terlalu muda, kembalilah nanti. Mungkin… 3 tahun dari sekarang" jawab Pria itu.
Indra sangat tertarik menjadi seorang Bounty Hunter karena dia ingin memburu para penjahat tanpa menjadi Sherif. Ayahnya pernah berkata bahwa para Sherif dan Tentara hanyalah budak pemerintah. Oleh karena perkataan ayahnya itu Indra tidak pernah tertarik untuk menjadi Sherif.
Di sisi lain kota itu. Misha sedang berjalan di pasar untuk mencari sayur-sayuran. Namun, ia tidak langsung membelinya. Misha membandingkan semua jenis sayuran dari toko ke toko mencari yang terbaik. Tiba-tiba banyak orang yang berteriak dan membuka jalan.
"Para Pahlawan telah sampai ke kota kita!!!" Begitulah suara teriakan mereka.
Di sana terdapat lima orang yang berpenampilan seperti penyihir, mereka adalah sekelompok penyihir dari Guild penyihir yang diberi gelar sebagai pahlawan. Kata orang-orang disana, mereka adalah para Pahlawan yang berhasil mengalahkan seekor naga yang meneror sebuah kota di wilayah selatan dan saat ini para pahlawan itu singgah di Houstin.
Misha melihat orang-orang itu benar-benar menghormati para Pahlawan. Akhirnya dia mengerti, jika dia ingin sosoknya dihormati dan dikagumi banyak orang dia harus menjadi seseorang yang hebat. Sejak saat itu, Misha memutuskan akan menjadi anggota Guild penyihir.
Di tempat lain, Miller sedang berdiri di depan kantor Sherif.
"Suatu hari nanti tempat ini pasti akan menjadi tempat kerjaku!" Ujar Miller menatap bangunan itu.
Berbeda dengan Indra dan Misha, Miller telah memutuskan menjadi seorang Sherif sejak ia masih kecil. Miller kemudian lanjut pergi menuju toko daging.
Setelah beberapa jam berbelanja, akhirnya mereka bertiga berkumpul kembali dan bersiap pulang membawa belanjaan mereka.
"Aku terkesan kau tidak tersesat, Indra" ujar Miller sambil menyusun barang-barang kedalam gerobak.
"Sejujurnya … aku sedikit tersesat, untungnya aku berhasil mengingat jalan kembali" balas Indra sambil membantu Miller.
Sejak saat itu, selama tiga tahun Indra tinggal di Angel Eyes Saloon. Hingga akhirnya setelah tiga tahun, tiga orang itu memutuskan untuk berpisah dengan cara yang konyol.
Saat itu adalah awal tahun, dimana mereka bertiga akan berumur 16 nantinya dan akhirnya bisa mencari pekerjaan. Mereka tidak berniat pergi ke kota bersama-sama. Dan karena itulah Miller punya ide yang cukup konyol.
"Itu cara yang sangat bodoh, Miller" ujar Misha kesal.
"Tidak-tidak, ini adalah cara yang sangat menarik. Aku yakin Indra setuju" balas Miller.
"Ayolah … kenapa tidak Misha? Itu terdengar menarik!" Ujar Indra setuju.
"Indra? Kau benar-benar setuju? Baiklah aku akan mengalah" balas Misha.
Mereka bertiga memutuskan untuk meninggalkan Angel Eyes dengan cara konyol Miller. Ide dari Miller adalah dengan mengundi angka. Ada tiga angka yang masing-masing dari mereka harus mengambil satu, yaitu 3, 6, dan 9. Yang mendapat angka 3 akan pergi pada bulan tiga tahun itu, angka 6 akan pergi pada bulan enam, dan angka 9 pergi bulan 9. Itu adalah ide paling konyol yang pernah dipikirkan oleh Miller.
"Aku akan mulai duluan" ujar Indra.
Indra mengambil kertas yang dilipat itu. Ia membukanya dan mendapatkan angka 9.
"Sial" ujar Indra.
"Hahaha, tidak apa Indra. Setelah kau pergi ke kota sembilan bulan lagi kau akan mendengar namaku dimana-mana" balas Miller tertawa.
"Sepertinya kau kurang beruntung hari ini, Indra" ujar Misha tersenyum mengejek.
Miller mengambil giliran kedua dan mendapatkan angka 3.
"Wah! Aku benar-benar beruntung hari ini!" Ujar Miller.
"Kalau begitu aku mendapat angka enam kan? Itu tidak terlalu buruk" ujar Misha.
Sembilan bulan kemudian akhirnya giliran Indra tiba. Indra menyiapkan semua barangnya dan bersiap untuk pergi. Indra mengenakan jaket kulit berwarna coklat, celana biru panjang, dan syal merah tua di lehernya.
"Sepertinya tempat ini akan terasa sepi" ujar Bella.
"Mau bagaimana lagi? Anak-anak itu juga harus memiliki tujuan hidup mereka, Bella" balas Reisth.
"Reisth, Bella. Terimakasih sudah merawatku selama tiga tahun" ujar Indra tersenyum di depan pintu bersiap untuk pergi.
"Sangat jarang melihatmu tersenyum seperti itu, Indra. Kau sepertinya memang sedikit berubah dari tiga tahun lalu" ujar Bella.
"Indra, aku punya hadiah untukmu. Aku sedikit kasian melihatmu menjadi yang terakhir jadi akan kuberikan topi ini kepadamu, dulu ada seorang pedagang yang mengembara memberiku topi ini. Kupikir ini akan cocok denganmu" ujar Reisth sambil melempar topi koboi itu kearah Indra.
"Topi koboi? Terimakasih" ujar Indra.
Indra mengenakannya dan penampilan Indra benar-benar mirip dengan seorang koboi. Topi bundar berwarna coklat itu benar-benar cocok dengan pakaiannya.
Sejak saat itulah Sang "Lightning From The Wild West" memulai perjalanannya.