
MEDAN PERANG
"Zast, aku serahkan kepadamu kesembilan orang itu" ujar Avalance.
"Serahkan padaku, Tuan" balas Zast.
"Ingat, sisakanlah dua" ujar Avalance lagi.
Tanpa menunggu lama, Zast segera mengejar kesembilan orang yang terhempas jauh oleh petir Indra.
"Kau yakin membiarkan dia sendiri?" Tanya Indra.
"Sebelum kau menjadi Iblis, dia seharusnya lebih kuat darimu" jawab Avalance.
"Bagaimana kau bisa tau? Oh… kau kan seorang Penyihir Agung, tidak sulit untuk kalian mengetahuinya ya? Kalau begitu… jadi ayah juga sepertinya sudah tau" balas Indra.
"Indra, bagaimana kau bisa berakhir di situasi ini tanpa mendapatkan informasi apapun?" Tanya Avalance.
"Akan kuberitahukan tujuanku setelah ini berakhir" jawab Indra.
"AKU JUGA PUNYA BEBERAPA PERTANYAAN UNTUKMU, AYAH!!" Teriak Indra kepada ayahnya.
"Bagaimana kau bisa membuat kontrak dengan Iblis saat para Iblis telah tersegel di neraka?" Tanya Ignis.
"Entahlah" jawab Indra.
Ignis lalu melemparkan sebuah bola api yang meledak dan menghancurkan ruangan itu dan membuat Ignis dan Avalance dapat melihat Thunder Cage dengan lebih jelas.
Avalance membuat sebuah tembok es yang melindungi dia dan Indra. Tembok es itu berhasil bertahan dari ledakan dari Ignis.
"Jangan lengah" ujar Avalance.
Avalance kemudian membentuk sebuah duri yang terbentuk dari es yang muncul dibawah kaki Ignis untuk menyerangnya. Namun, Ignis seperti sudah mengetahui semuanya dan menghindari semua serangan itu.
Ignis lalu menggunakan sihirnya untuk membakar seluruh penjuru Kastil itu dan meruntuhkan sebagian besar bagian Kastil itu. Meskipun ditengah badai salju yang disebabkan oleh kutukan Avalance, api dari sihir itu tidak padam seolah meledek serangan Avalance tadi.
"Jadi kau memang berniat membunuhku. Kalau begitu aku juga tidak akan segan" ujar Avalance.
Avalance kemudian menyentuh tanah dan dengan cepat membekukan seluruh dataran di dalam jangkauan Thunder Cage. Bahkan Ignis terkejut melihatnya. Seluruh Kastil itu runtuh dibuat Avalance, syukurnya tidak ada orang yang tidak bersalah yang masih tersisa di dalam sana.
"Ternyata dia memang menghancurkannya…" bisik Indra kepada dirinya sendiri.
Ignis tertawa.
"LUAR BIASA!! TERUSKAN AVALANCE!!" Teriak Ignis.
Thunder Cage pun semakin menyempit, sementara itu Kota Licht sepertinya sudah bebas dari pertempuran dan menjadi lokasi utama untuk mengevakuasi para penduduk. Pasukan dari Wilayah Utara juga sedang mendominasi peperangan dan berhasil membuat Pasukan Wilayah Selatan terpojok, ditambah lagi semua atasan mereka terkurung di dalam Thunder Cage.
Di sisi lain, Zast juga berhasil menumbangkan 7 orang kepercayaan Ignis tanpa ampun. Kini tersisa Ignael dan Iglea yang masih bertahan. Hal terakhir yang baru saja mereka lihat adalah tubuh rekan mereka yang telah dirobek dan dicabik-cabik oleh Zast.
Zast adalah seorang pria yang menggunakan zirah besi lengkap dan membawa sebuah pedang, dia juga mengenakan ikat kepala dengan warna yang mirip seperti darah yang sudah kering.
"Ternyata kalian hanyalah sekumpulan badut yang sok kuat, nyatanya kalian hanya bersembunyi dibalik nama Ignis" ujar Zast.
"Tenangkan dirimu, Iglea. Bukan kita yang lemah. Namun, monster ini yang terlalu kuat" balas Ignael yang juga sudah kelelahan.
Mereka berdua kemudian mencoba berlari keluar dari sela-sela petir dari Thunder Cage. Namun, keluar dari Thunder Cage tidaklah semudah itu. Bahkan ketika mencoba melewati sela-selanya, Thunder Cage akan tetap menyambar apapun yang mencoba melewatinya. Hal itu membuat Ignael dan Iglea terlempar kebelakang tepat di hadapan Zast.
"Kalian beruntung, aku diperintahkan untuk membawa dua orang hidup-hidup. Bersyukurlah karena dua orang itu adalah kalian berdua" ujar Zast.
Zast kemudian melihat Kastil yang tiba-tiba runtuh diiringi oleh lapisan es yang juga segera menyelimuti reruntuhan kastil itu.
Sementara itu, Avalance dan Indra sudah bersiap untuk melawan Ignis.
"Indra, sepertinya aku membutuhkan bantuanmu lagi" ujar Avalance.
"Jangan lupa dengan imbalanku" balas Indra.
Avalance kemudian membuat dua bilah pedang yang terbuat dari esnya dan melemparkannya ke arah Ignis. Dengan mudahnya Ignis mampu menghindarinya. Namun, sebelum dua bilah pedang itu melewati tubuhnya, dengan cepat kedua bilah pedang es itu meledak dan menjadi serpihan es yang menghalangi pandangan Ignis.
Avalance tidak melewatkan kesempatan itu dan membuat sebilah pedang lagi dan menebas dada Ignis sebelum Ignis sempat melihat dengan jelas.
Ignis yang merasakan tebasan itu kemudian menyelimuti tangannya dengan api lalu memukul kedepan untuk menebak posisi Avalance, pukulan itu hampir mengenai Avalance. Namun, ia berhasil menahan pukulan itu dengan pedang esnya.
Indra kemudian menyusul langkah Avalance dan mencoba untuk menebas bagian perut Ignis. Namun, Ignis berhasil menghindarinya dan mendaratkan pukulan yang sama kepada Indra. Indra yang meleset sudah tidak sempat untuk menghindari pukulan itu, alhasil pukulan Ignis meledak dan menghempaskan Indra.
"Tidak buruk, Avalance. Kurasa bahkan kau juga telah berkembang. Namun, itu belum cukup untuk menghentikanku. Bahkan sihir anak ini juga bukan apa-apa bagiku" ujar Ignis.
Ignis kemudian membuat sebuah bola api yang menyala terang dan panas. Ia kemudian melemparkan bola api itu ke atas dengan niat untuk mengusir awan yang membuat Thunder Cage. Namun, ditengah jalannya, ratusan Sambaran petir menyambar bola api itu dan menghancurkannya sebelum bola api itu menyentuh awan hitam dilangit.
Bahkan Avalance terkejut melihatnya. Indra telah membuat jurus yang bisa mengurung lawannya tanpa jalan keluar, sebuah kurungan yang sempurna.
"Jangan terlalu meremehkan anakmu sendiri, Ayah" ujar Indra yang sudah berdiri kembali.
Thunder Cage kini sudah berhasil mengembat habis Pasukan Wilayah Selatan yang mengepung Kastil tanpa bersisa. Kini Thunder Cage menjadi semakin sempit.
"Indra, bukalah jalan untuk Zast keluar dari kurungan ini" ujar Avalance.
Indra lalu memberikan jalan kepada Zast yang sedang membawa Ignael dan Iglea yang sudah tidak sadarkan diri. Ketika jalan itu terbuka dengan cepat Avalance melempar sebilah pedang ke arah Zast mengisyaratkannya untuk keluar. Zast memahami isyarat Avalance dan segera keluar dari Thunder Cage.
"Jika memang tidak ada jalan keluar dari kurungan ini, maka lebih baik aku memanggang kalian didalamnya" ujar Ignis.
Ignis kemudian mengeluarkan hawa yang sangat panas dari dalam tubuhnya yang bahkan membuat lapisan es disekitar mulai meleleh.
"Sudahlah, Ignis. Kau tau jika wilayah ini adalah zona yang mendukungku" ujar Avalance.
Avalance kemudian mengeluarkan hawa dingin yang bahkan membuat lapisan es disekitar menebal dan menutup hawa panas Ignis.
Pertarungan mereka pun kembali berlanjut hingga Thunder Cage mulai menjadi sangat sempit.
"Avalance, apakah kau sanggup menahan dampak dari Thunder Cage? Aku sudah tidak bisa membukanya lagi ketika sudah menjadi terlalu sempit seperti sekarang" ujar Indra.
"Itu bukanlah hal yang bisa kau katakan di akhir, Indra. Namun, baiklah sudah terlambat untuk mundur" balas Avalance.