
POTENSI
Sesampainya di sana Indra terkejut melihat seluruh lapangan itu lagi-lagi terbakar. Namun, lilin-lilin itu tetap menyala dan bahkan tidak melelehkan batangnya. Seluruh api dari Linda mengalir keluar. Namun, api di lilin tersebut tetap bisa terkontrol.
Indra takjub dengan potensi anak itu.
"Hebat… Kau sudah berhasil!" Ujar Indra.
Linda membuka matanya dan terkejut dengan hasil sihirnya sendiri, seolah dia sendiri tidak percaya. Dia juga tidak bisa memadamkannya lagi, membuatnya terkepung oleh apinya sendiri.
"AH…! GURU! TOLONG AKU!" Ujar Linda yang panik didalam lingkaran itu.
"Aku tidak punya sesuatu untuk memadamkan api, jadi kau pikir sendiri saja. Aku akan menunggu pohon sana" balas Indra yang segera menjauh.
Beberapa saat kemudian, entah bagaimana Linda berhasil keluar dari lingkaran api itu. Indra sudah lama menunggunya sambil duduk menyender di pohon.
"GURU! KENAPA KAU SAMA SEKALI TIDAK MAU MEMBANTU?!" Tanya Linda yang masih kesal.
"Kalau hanya segitu saja bisa membuatmu ketakutan, itu artinya perjalananmu masih panjang. Oh iya, aku tidak menyangka kau juga bisa marah, wajah lesu itu sangat tidak cocok untuk marah. Bagaimana dengan tersenyum? Kurasa itu akan lebih cocok dengan wajahmu" jawab Indra sambil masih menyenderkan dirinya di bawah pohon itu.
Mendengar itu Linda merasa sedikit malu dan akhirnya tidak menyahut lagi.
"Tetapi, tidak kusangka kau bisa menyelesaikannya dengan semudah itu. Sekarang waktu kita masih banyak, bagaimana? Apakah kau mau melanjutkan latihanmu?" Tanya Indra yang akhirnya berdiri.
"Kita lanjutkan!" Jawab Linda.
Indra menghela nafasnya.
"Baiklah kalau begitu" ujar Indra.
"Kita pindah ke kota saja, latihan ini tidak memerlukan tanah lapang" lanjut Indra.
Mereka berdua akhirnya kembali ke Lunar, mereka singgah di depan halaman dari penginapan Indra.
"Tunggu sebentar" ujar Indra yang masuk kedalam penginapan itu.
Tak lama kemudian Indra keluar membawa sebuah panci rebus, seember air, dudukan panci rebus, dan selembar kain.
"Apa yang akan kita lakukan dengan itu?" Tanya Linda.
"Latihanmu" jawab Indra singkat.
Indra lalu menyusun panci rebus itu sehingga siap untuk digunakan.
"Dimana kayu bakarnya?" Tanya Linda lagi.
"Kita tidak akan memasak" jawab Indra.
Indra mengisi panci itu dengan air dan menutupnya dengan kain yang tadinya juga ia bawa.
"Sekarang latihanmu adalah latihan untuk memfokuskan sihir. Seperti yang kau lihat sendiri tadi, kau belum bisa memfokuskan sihirmu. Ini adalah latihanmu, gunakan apimu dari bawah panci itu dan buat kain itu terbakar. Jangan lupa, jika airnya mendidih maka kau akan gagal, kau boleh juga melakukan apapun dengan pancinya. Namun, jangan sampai membocorkan airnya. Semangat!" ujar Indra yang segera membalikkan badannya dan segera berjalan pergi.
"Tepat sekali, kau hanya perlu memfokuskan sihirmu ke satu titik. Itu tidak lebih sulit dari memasukkan petir ke lubang jarum" ujar Indra menghentikan langkahnya sejenak.
"Aku akan menunggu sampai besok. Aku sudah bisa melihat potensimu sekarang. Mulai besok kau tidak perlu datang sambil membawa 2000 keping emas lagi. Bisa dibilang, aku sudah benar-benar mengakuimu sebagai murid sekarang" ujar Indra yang lalu masuk ke penginapan tua itu.
Linda sepertinya mulai mengerti maksud Indra. Namun, ia merasa ada sesuatu yang janggal.
"TUNGGU! KAU JUGA PERNAH MEMASUKKAN PETIR KE LUBANG JARUM?!?" Tanya Linda dengan terkejut.
Indra tidak menjawab.
Di dalam penginapan itu, Sang Nenek pemiliknya melihat Linda yang sibuk diluar.
"Indra, siapa itu?" Tanya Nenek itu.
"Bisa dibilang, dia adalah muridku. Tenang saja, nek. Dia tidak akan menginap tanpa membayar" jawab Indra.
Indra tau, meskipun wajah Linda lesu seperti itu, ia tetaplah seorang bangsawan yang tentunya punya cukup banyak uang.
Hingga keesokan harinya Linda masih belum sanggup membakar kain itu. Indra bahkan tidak menegurnya ketika bolak balik dari penginapan ke Bounty Store, tidak sampai Linda berhasil melakukannya.
Disamping itu, Indra juga harus mencari jejak Monter. Namun, Monter sepertinya memang seseorang yang pandai dalam menghilangkan jejaknya. Ia mencari hampir seluruh poster buronan di Bounty Store dan tidak menemukan satupun orang yang berhubungan dengan Necromancer. Di Barat sudah pasti tidak ada satupun informasi. Namun, ia berharap ada informasi di Wilayah Utara. Sayangnya, Indra belum memiliki waktu untuk pergi ke sana.
Linda masih kesusahan, berkali-kali ia hampir membuat air itu mendidih. Awalnya dia memang sedikit kurang yakin dengan metode pelatihan Indra, metode yang diberikan bisa dibilang aneh. Namun, semakin Linda menjalaninya, semakin masuk akal juga baginya.
Tak lama kemudian datang dua orang yang ke penginapan itu. Mereka adalah Miller dan Misha.
"Hei! Miller! Jangan paksakan dirimu dulu!" Ujar Misha.
"Aku menghargai kekhawatiranmu, Misha. Namun, percayalah aku sudah membaik. Tapi baiklah, daripada aku menambah beban pikiranmu aku istirahat saja dulu" balas Miller.
Linda yang masih kesusahan menarik perhatian Misha. Misha kemudian mengantarkan Miller masuk dan kembali untuk melihat Linda.
"Sedang berlatih untuk memokuskan sihir ya? Itu cara yang bagus!" Ujar Misha yang duduk disamping Linda.
"Kau mengetahuinya? Tapi aku belum bisa melakukannya" balas Linda.
"Hanya mengeluarkan sihir dari tanganmu saja tidak akan memberi kemajuan" ujar Misha tersenyum.
"Lalu aku harus bagaimana?" Tanya Linda.
"Itu mudah, pernahkah kau melihat paku yang di tancapkan ke sebuah balon? Balon itu tidak akan pecah sampai paku itu keluar. Kira-kira begitu perumpamaannya. Apa gurumu tidak menjelaskannya?" Tanya Misha.
"Tidak. Jujur saja latihannya cukup aneh. Namun, aku sekarang mulai paham. Intinya aku hanya perlu melubangi panci itu dan menutup lubangnya dengan sihirku bukan? Jangan lepaskan sihirnya hingga kainnya terbakar. Aku paham sekarang!" Jawab Linda.
"Meski begitu, prakteknya akan lebih sulit daripada teorinya. Kalau begitu aku duluan, semangat!" ujar Linda pamit.
Sementara itu, Indra masih berada di Bounty Store karena ia juga masih belum siap untuk mengambil misi pertamanya di Guild. Beberapa kali ia mendengar bahwa rekannya yang sesama Bounty Hunter kebanyakan merasa bahwa mereka kurang cocok sebagai Petualang. Terutama yang setingkat dengan Indra. Hal itu membuatnya sedikit gugup. Apa yang membuat mereka merasa begitu? Itu yang ia pertanyakan hingga membuatnya masih enggan untuk mengambil misi pertamanya.
Ia juga tidak berani menanyakannya kepada Aurora dan Noah yang memang sudah pernah mengklaim bahwa mereka tidak cocok berada di Guild Petualang. Satu-satunya orang yang bisa dia tanyakan hanyalah Misha. Karena hanya Misha temannya yang menjadi Petualang, ditambah lagi teman Indra yang bisa dihitung dengan jari. Sedikit menyedihkan memang.