Atlas: Lightning From The Wild West

Atlas: Lightning From The Wild West
26: REUNI



REUNI


"Tunggu, darimana kau tau bahwa Avalance adalah saudara Ignis?" Tanya Indra.


"Itu kan sudah menjadi rahasia umum" jawab Cheryl.


"Oh… kau mungkin benar juga. Wilayah Barat memang tertinggal pengetahuannya, wajar saja kalau bahkan hal sekecil itu tidak mereka ketahui" ujar Indra lagi.


"Tapi, kepribadian orang-orang dari sana tidak seperti yang kubayangkan. Aku sudah menemui dua orang dari sana termasuk kau" balas Cheryl.


Indra tertawa. Indra tau satu orang lagi yang dimaksud Cheryl kemungkinan besar adalah Misha. Namun, Indra memilih diam saja karena ia juga takut salah orang.


"Kau hanya belum pernah melihatnya, melihat orang-orang baku hantam dijalanan sudah seperti melihat bocah-bocah bermain di pinggir jalan saat kau di Barat" ujar Indra.


"Memangnya mereka sebarbar itu?" Tanya Cheryl.


"Iya" jawab Indra.


"Aku tidak percaya kecuali aku melihatnya dengan kepalaku sendiri" ujar Cheryl.


"Suatu saat nanti mungkin aku bisa saja mengajakmu kesana dan menunjukkannya kepadamu" balas Indra.


Tak lama kemudian beberapa orang pelayan masuk dan mengundang mereka berdua untuk makan siang. Mereka bilang makan siang sudah siap, Indra tidak menyangka mereka akan menyambutnya sebaik ini. Padahal ia berharap langsung saja ke masalah utamanya. Namun, karena ini pasti rencana Avalance Indra tidak mau menolak.


Sementara itu, di Nosferat Avalance sudah sampai dan disambut hangat disana walaupun keberadaannya membuat sebagian wilayah dari Nosferat menjadi bersalju. Nosferat tidak hanya berisi mahkluk tak berakal. Namun, juga berisi makhluk setengah manusia seperti Werewolf ataupun juga makhluk seperti Vampir dan Elf. Raja para Werewolf "Lycaon" sendirilah yang menyambut Avalance. Lycaon dan para werewolfnya berpenampilan seperti manusia pada umumnya, mungkin hanya untuk saat ini. Lycaon dan kaumnya juga memiliki bau seperti binatang buas yang menyengat.


"Selamat datang di Nosferat, Avalance" ujar Lycaon.


"Terimakasih atas sambutanmu, Lycaon" balas Avalance.


Seseorang datang dari belakang para manusia serigala itu. Orang itu adalah Ignis yang sudah sampai lebih dulu dari Avalance


"Lihat siapa yang datang. Jika saja kau memperlihatkan wajahmu di Wilayah Selatan aku tidak akan segan menghajarmu" ujar Ignis.


"Kau tidak akan sanggup menghajarku, entah itu di Compax ataupun disini" balas Avalance.


Ignis terlihat kesal, ia mengepalkan tangannya dengan keras. Bersamaan dengan itu hawa panas keluar dari tubuhnya, melelehkan beberapa es dari kutukan Avalance.


"Nyalimu besar juga. Kalau begitu langsung saja kita buktikan!" Ujar Ignis.


"Aku tidak akan takut dengan sampah sepertimu" balas Avalance.


Beberapa saat saja sebelum mereka akan mulai untuk saling bertarung, aura yang mengerikan seperti binatang buas terasa seperti sedang mengancam mereka. Mereka menoleh ke samping dan ternyata para Werewolf itu sudah berubah ke wujud mereka yang sebenarnya, tidak terkecuali Lycaon. Bentuk serigala Lycaon terlihat lebih besar dan mengerikan dibandingkan yang lainnya. Aura kuat yang dirasakan oleh Ignis dan Avalance juga berasal dari Lycaon.


"Ignis, Avalance. Aku tidak peduli dengan konflik antara kalian berdua. Namun, ini adalah wilayahku dan aku tidak bisa membiarkan sebuah kekacauan di wilayah kekuasaanku" ujar Lycaon dengan wujud serigalanya yang menyeramkan.


Ignis dan Avalance mulai mengerti keadaannya dan meminta maaf kepada Lycaon, akhirnya mereka bisa menenangkan diri mereka. Bertempur dengan Lycaon mungkin memang akan sulit karena Lycaon sudah setara dengan para penyihir agung. Namun, bukan berarti Ignis ataupun Avalance tidak bisa menang darinya. Setelah kedua orang itu kembali tenang, Lycaon dan para bawahannya perlahan kembali ke wujud manusianya.


Pertempuran dengan Lycaon hanya akan memulai peperangan antara Compax dan Nosferat, Ignis dan Avalance tidak bisa mengambil resiko itu hanya karena ego masing-masing.


"Aku paham dengan konflik kalian masing-masing. Namun, bukankah musuh kalian kali ini sama? Chaos Dragon, naga itulah yang harus kita hadapi saat ini" ujar Lycaon.


"Maafkan aku, Lycaon. Aku terbawa suasana, aku berjanji bahwa aku akan mengesampingkan masalahku dengan Ignis di tempat ini. Itu janjiku" balas Avalance.


"Aku juga meminta maaf kepadamu, Lycaon. Aku merasa seperti bukan diriku sendiri, sekali lagi aku minta maaf, Lycaon, Avalance" balas Ignis juga.


Lycaon lalu membawa Ignis dan Avalance ke kastil miliknya. Ia membawa Ignis dan Avalance ke ruang pertemuan kastilnya.


Tidak ada banyak hal di ruangan itu, selain meja bundar dan kursi yang mengelilinginya. Kastil itu juga terlihat biasa saja bagi Avalance ataupun Ignis, sepertinya para monster memang kurang peduli dengan yang namanya estetika. Mereka semua akhirnya duduk di kursi yang tersedia di sana.


"Ignis, Avalance. Bolehkah aku tau alasan kalian mencari Chaos Dragon?" Tanya Lycaon.


Dua saudara itu menjawab dengan bersamaan.


"HANYA SATU, BALAS DENDAM!!" Jawab mereka berdua.


"Sepertinya itu sudah pasti. Baiklah, keberadaan naga itu juga menjadi ancaman bagi kami para Werewolf. Bahkan juga Nosferat itu sendiri. Karena ini aku Lycaon, Raja dari para Werewolf akan bersumpah akan membantu kalian untuk mengatasi makhluk itu" ujar Lycaon.


"Aku menghargainya, Lycaon" balas Ignis.


"Terimakasih, Lycaon" balas Avalance juga.


Setelah sekian lama duduk tanpa bersuara, Lycaon memutuskan untuk meninggalkan kedua saudara itu terlebih dahulu. Lycaon sangat paham bahwa dua saudara itu selalu bertengkar selama ratusan tahun. Lycaon meninggalkan mereka berdua untuk sementara waktu dengan alasan ingin mencari anggur untuk Ignis dan Avalance.


Keadaan menjadi semakin hening setelah perginya Lycaon. Namun, beberapa saat kemudian para pelayan Lycaon memasuki ruangan itu dengan membawa dua gelas anggur.


"Aku hanya meminum satu jenis anggur, jadi anggur apa ini?" Tanya Ignis.


"Kami menyuguhkan anda anggur yang terbuat dari anggur arunika yang matang tepat saat matahari terbit. Namun, kami juga bisa menyediakan anggur yang lain" jawab Sang Pelayan.


Ignis tersenyum.


"Bagus! Anggur arunika memanglah anggur yang selalu kuminum" ujar Ignis.


"Bagaimana dengan anda, Tuan?" Tanya Sang Pelayan menoleh ke arah Avalance.


"Aku tidak punya masalah dengan Anggur arunika" jawab Avalance.


Mendengar itu Pelayan itu menyuguhkan mereka anggur itu, dan segera meninggalkan mereka.


"Ternyata kau juga masih meminum anggur yang sama, bagaimana rasanya?" Tanya Ignis.


"Sama" jawab Avalance.


"Meskipun aku tau bahwa rasanya tetap sama. Namun, setiap aku meminumnya. Selalu ada rasa yang terasa kurang, dan untuk pertama kalinya aku sedikit merasakannya kembali" lanjut Avalance


Ignis lagi-lagi tersenyum. Namun, di senyumannya kali ini tergambar rasa sedih yang ia alami.


"Minum dan duduk bersama, ini terasa seperti hari-hari yang kita lalui dulunya" ujar Avalance lagi.


"Apa kau ingat hari itu? Hari dimana kau memutuskan untuk melamar Tessa, apa kau masih mengingatnya?" Tanya Ignis.


"Kau adalah orang yang pertama kutemui, dan kau juga orang pertama yang membantuku mengurus segalanya hari itu juga" jawab Avalance.


"Itu adalah kenangan yang indah" ujar Ignis sambil tersenyum kecil.


"Aku rindu dengan diri kita yang dulu" lanjut Ignis.


"Aku juga, kak" balas Avalance.