Atlas: Lightning From The Wild West

Atlas: Lightning From The Wild West
32: KEMBALINYA AVALANCE



KEMBALINYA AVALANCE


Sementara itu, di Wilayah Timur. Para Wyvern itu telah habis dibasmi, tentu saja karena ada para Petualang dan Bounty Hunter disana. Pihak kepolisian dan militer juga ikut membantu. Tidak sulit bagi Wilayah Timur dan Wilayah Selatan. Wilayah Timur memiliki para Petualang dan Para Bounty Hunter, sedangkan Wilayah Selatan memiliki kekuatan militer yang sangat kuat.


Wilayah Barat dan Wilayah Utara berada di kondisi yang berbeda. Wilayah Barat tidak memiliki kekuatan militer yang mumpuni dan para Petualang dan Bounty Hunter disana tidak banyak yang kuat. Lalu Wilayah Utara "sedang" dalam kondisi dimana kemiliteran mereka sedang melemah, ditambah lagi Wilayah Utara tidak memiliki Guild ataupun Bounty Store sama seperti Wilayah Selatan.


Misha dan Miller kembali ke Wilayah Barat untuk membantu disana dengan menaiki kereta kuda, mereka tau tidak banyak orang kuat disana. Wilayah Barat memang terkenal karena sifat warganya yang liar karena itu juga jarang ada turis pergi kesana, para turis lebih memilih untuk pergi ke Wilayah Utara ataupun Wilayah Timur.


Mereka berdua berasumsi bahwa Indra sudah pergi lebih dulu ke Wilayah Barat.


Tempat yang mereka kunjungi pertama kali adalah Angel Eyes Saloon. Para Wyvern itu ternyata sudah memenuhi Wilayah Barat dan siap untuk menggalangi kedua orang itu.


Sayangnya, para Wyvern itu bukan tandingan bagi mereka berdua. Namun, para Wyvern itu unggul dalam jumlah ditambah lagi saat itu adalah pagi menjelang siang. Mungkin cukup menguntungkan bagi Misha yang menggunakan sihir cahaya. Namun, beda cerita untuk Miller yang memiliki sihir kegelapan.


Para Wyvern itu mungkin memang bukan tandingan mereka. Namun, Misha dan Miller kalah jumlah. Hal itu membuat mereka kewalahan ditambah lagi Miller tidak bisa berbuat banyak dengan sihirnya. Mereka sudah tidak jauh lagi dari Angel Eyes Saloon. Namun, para Wyvern itu benar-benar mengganggu.


Tiba-tiba ombak air yang besar muncul dan mengarah kepada mereka. Ombak itu membuat mereka tersapu bersamanya. Ombak itu berhasil membuat para Wyvern yang tersisa mundur. Lalu Bella terlihat sedang berdiri dari arah ombak itu muncul tadi.


"Misha, kau sudah menumpul ya? Padahal baru dua tahun setelah aku terakhir melatih kalian, dan lihatlah sekarang" ujar Bella dari kejauhan.


Bella lalu menghampiri Misha dan Miller yang sedang terbatuk karena tersapu ombak.


"Kami hanya kalah jumlah" ujar Misha.


"Kurasa aku tidak bisa menyalahkan kalian soal itu. Namun, jika itu Indra ia akan dengan mudah menghabisi ratusan Wyvern hanya dengan petirnya" balas Bella.


"Kalian mungkin memang setara dengan Indra. Namun, penguasaan sihir anak itu jauh diatas kalian. Aku selalu penasaran dengan sosok 'guru' yang selalu ia ceritakan" lanjut Bella.


"Apa tidak masalah meninggalkan anak-anakmu disana?" Tanya Miller.


Bella tertawa.


"Jangan terlalu meremehkan Reisth, Miller" jawab Bella.


"Jadi, Reisth adalah orang yang cukup kuat?" Tanya Miller lagi.


"Tidak, dia hanya pintar bersembunyi" jawab Bella yang masih tergelak.


"Sudah kuduga" ujar Misha.


"Omong-omong, dimana Indra? Bukankah biasanya dia selalu bersama kalian?" Tanya Bella.


Misha dan Miller menatap satu sama lain seolah bingung.


"Tunggu, jadi dia belum kesini? Kami kira dia sudah pergi duluan" jawab Miller.


"Itu aneh…" ujar Bella.


"Untuk sekarang, lebih baik kita pergi ke kota. Reisth dan anak-anak sudah ada disana untuk berlindung" ajak Bella.


Disaat yang sama di Wilayah Utara, Indra masih belum sadarkan diri. Cheryl duduk disampingnya sambil khawatir karena Indra belum kunjung bangun.


Cheryl sendiri juga masih kelelahan, itu membuatnya mengantuk dan tertidur disamping Indra. Tak lama kemudian, Indra akhirnya sadar dan hal pertama yang ia lihat adalah Cheryl yang tertidur di atas sebuah kursi. Indra kemudian melihat seluruh ruangan itu sudah dipenuhi oleh ratusan orang yang terluka parah, Indra lalu mencoba untuk membangunkan Cheryl.


"Cheryl! … Cheryl! Ayo bangun!" Ujar Indra berbisik.


"Ayo! Masih ada orang yang membutuhkan kasur ini" Indra mengabaikan pertanyaan Cheryl dan menarik tangannya, Indra membawa Cheryl keluar dari ruangan itu.


"Kalau kau ingin tidur, kembali ke kamarmu" ujar Indra.


"Maaf, aku hanya mengantuk karena menjagamu berjam-jam" balas Cheryl.


"Kau menunggu selama itu?" Tanya Indra.


Cheryl mengangguk. Indra merasa tersentuh, baru kali ini ada orang yang menunggunya saat sakit selama dua tahun terakhir, selain Anna tentunya.


Sebelumnya, hanya Bella, Reisth, Miller, dan Misha yang menunggunya ketika ia sakit. Namun, setelah ia menjadi Bounty Hunter hanya Anna yang menunggunya ketika ia sakit.


"Terimakasih" ujar Indra tersenyum.


Akhirnya Cheryl bisa melihat Indra tersenyum. Menurutnya Indra memang orang yang hangat. Namun, jarang ia melihat Indra tersenyum jelas.


"Kenapa?" Tanya Indra melihat Cheryl yang seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Tidak apa-apa, sepertinya aku hanya masih mengantuk" jawab Cheryl mencari alasan.


"Kalau begitu, tidur saja dulu. Aku ingin jalan-jalan" ujar Indra.


Cheryl mengangguk. Indra tidak mau menanyakan soal para Wyvern kepada Cheryl karena ia sudah sangat yakin bahwa Cheryl dan para prajurit sanggup menanganinya.


Lalu Indra pergi keluar Kastil. Beberapa langkah sebelum ia mencapai gerbang keluar, sebuah benda aneh melesat ke arah gerbang itu dari langit. Benda itu lalu menghantam tanah yang tertutup salju di depan gerbang Kastil.


Indra berlari menghampirinya. Alangkah terkejutnya ia melihat Avalance yang sudah terluka parah, seluruh tubuhnya sudah berlumuran darah. Avalance juga membawa seseorang.


"Avalance? Dan… ayah? Ada apa ini?" Tanya Indra bingung.


"Tidak ada waktu untuk menjelaskannya sekarang, Indra" ujar Avalance yang berjalan pincang sambil membawa Ignis.


Indra lalu membantu mereka untuk berjalan. Ignis tidak mengatakan apapun. Mereka kemudian sampai ke ruang perawatan, Tiana dan beberapa Pelayan lain kebetulan sedang berada di sana.


"PA-PADUKA!! ANDA TIDAK APA-APA?! LALU KENAPA RAJA WILAYAH SELATAN JUGA BERADA DISINI?!" Tanya Tiana panik.


"Tiana, tidak ada waktu sekarang. Kita harus segera merawat luka mereka" jawab Indra.


Tiana dan para pelayan itu segera membawa Avalance dan Ignis ke dalam ruang perawatan.


Mereka merawat luka Avalance dan Ignis yang terluka parah. Setelah mereka selesai menutup luka-luka itu dengan perban, mereka membiarkan Avalance dan Ignis untuk beristirahat.


Tiana dan beberapa Pelayan lain duduk menjaga Avalance, dan beberapa lagi berniat untuk menjaga Ignis. Namun, Indra melarangnya dan mengatakan bahwa ia sendiri yang akan menjaga Ignis.


"Kau tidak mau mengatakan apapun, ayah?" Tanya Indra kepada Ignis.


"Tidak ada yang ingin kukatakan" jawab Ignis.


"Namun, jika kau memiliki pertanyaan. Tanyakanlah! Kau mungkin tidak akan bertemu lagi denganku. Jadi, ini adalah kesempatanmu" lanjut Ignis.


"Kebetulan sekali, aku memiliki segunung pertanyaan" balas Indra.