Atlas: Lightning From The Wild West

Atlas: Lightning From The Wild West
28: SEBUAH HADIAH



SEBUAH HADIAH


"Surat ini terlihat sangat tua" ujar Indra.


"Aku yakin jika kau menyentuhnya sedikit saja kertas ini akan rusak saking tuanya" balas Cheryl.


"Setelah kau bilang begitu, aku jadi ingin menyentuhnya" ujar Indra.


"Bodoh! Benda ini mungkin saja bisa semahal yang lainnya, rusak sedikit saja mungkin bisa membuatmu menggantinya dengan ratusan ribu keping emas" balas Cheryl.


Indra tertawa.


"Tenang saja, aku hanya bercanda" ujar Indra.


Tak lama setelah Indra melihat surat tua dan koleksi lainnya disana, Sang Pelayan akhirnya kembali dengan membawa sebuah kotak yang memanjang.


"Ini adalah barang yang ingin Tuan Avalance berikan kepada anda" ujar Sang Pelayan sambil menyuguhkan kotak itu kepada Indra.


"Hadiah ya? Terimakasih" balas Indra.


"Berterimakasihlah kepada Tuan Avalance, saya hanyalah perantara. Jika ada hal lain yang anda butuhkan, datangi saja saya lagi" ujar Sang Pelayan membungkukan diri dan berjalan keluar.


Setelah keluar dari ruangan itu, Indra melihat-lihat kotak itu terlebih dahulu sebelum membukanya, ia mencoba untuk menebak isinya.


"Cheryl, menurutmu apa isinya?" Tanya Indra.


"Bukankah itu sudah pasti pedang? Jelas terlihat dari bentuknya" jawab Cheryl.


Indra membukanya dan benar saja, isinya adalah sebilah pedang yang tersarung di sarungnya. Indra lalu menarik pedang itu keluar dari sarungnya, pedang itu terlihat berkilau dengan besinya yang berwarna kemerahan membuat pedang itu elok dipandang.


"Wah, tebakanmu benar. Pedang ini juga terlihat keren dengan warnanya" ujar Indra.


Melihat warna pedang itu Cheryl terlihat kehabisan kata-kata seolah melihat sesuatu yang bahkan lebih berharga dari emas.


"Ada apa Cheryl?" Tanya Indra.


"Bloodsteel" jawab Cheryl.


"Apa kau pernah mendengar tentang Bloodsteel? Besi merah yang konon katanya terbentuk karena darah manusia yang telah meresap kedalamnya" lanjut Cheryl.


"Ugh! Itu terdengar mengerikan" balas Indra.


"Aku tau tentang Bloodsteel. Namun, seingatku Bloodsteel adalah seseorang yang melayani seorang Raja Tirani terkejam dalam sejarah" lanjut Indra.


"Sebutan itu muncul setelah ia menciptakan Bloodsteel. Benar atau tidaknya aku tidak tau. Namun, itu yang pernah kubaca di buku sejarah" ujar Cheryl.


"Lalu?" Tanya Indra.


"Besi jenis ini tidak bisa didapatkan hanya dengan uang. Namun, mengingat status Raja Avalance maka aku tidak terkejut. Namun, ia memberikannya kepadamu begitu saja membuatku semakin yakin bahwa kau mungkin memang kerabatnya" jawab Cheryl.


"Sebenarnya… aku baru bertemu Avalance sekali. Namun, entah kenapa ia terlihat sangat baik denganku" ujar Indra.


"Itu tidak mungkinlah. Mustahil" balas Cheryl.


"Apa ini juga bagian dari rencananya?" Gumam Indra.


"Kau bilang sesuatu?" Tanya Cheryl.


"Tidak, tenggorokanku hanya sedikit gatal" jawab Indra.


Indra mencoba mengayunkan pedang itu beberapa kali, sampai ia akhirnya ingat bahwa ia belum pernah menggunakan senjata apapun. Itu karena budaya orang barat yang masih terbawa olehnya, bukan berarti orang barat tidak menggunakan senjata. Hanya saja seseorang benar-benar akan dianggap kuat jika ia berhasil menang bertarung tanpa menggunakan sebuah senjata, Indra selalu begitu sampai ia perlahan sadar setelah melawan Ken dan Monter. Ia sadar bahwa dunia itu luas, masih banyak orang-orang atau bahkan makhluk-makhluk lainnya yang jauh lebih kuat darinya.


"Tunggu, bukankah kau memang tipe penyihir?" Tanya Cheryl.


"Aku memang kebanyakan menggunakan sihir. Namun, aku juga cukup sering menggunakan kepalan tanganku" jawab Indra.


"Ah! Aku lupa… kau kan sejatinya Bounty Hunter. Para petualang itu memiliki beberapa tipe" ujar Cheryl.


"Aku tau, Warrior adalah mereka yang lebih sering bertarung di garis depan bukan? Lalu Mage atau penyihir, mereka biasanya kurang telaten dalam pertarungan jarak dekat. Namun, sangat merepotkan ketika mereka menjaga jarak saat bertarung. Enchanter dan Healer sangat bergantung pada rekannya" celetuk Indra.


"Kau ternyata tau sebanyak itu. Namun, kenapa kau menjelaskannya seperti kau pernah melawan mereka…?" Tanya Cheryl.


"Selama menjadi Bounty Hunter, aku tidak memburu monster. Aku memburu manusia, berbagai macam manusia. Tidak terkecuali para petualang yang menjadi kriminal" jawab Indra.


"Sepertinya menjadi seorang Bounty Hunter itu menarik…" ujar Cheryl.


Indra tertawa sejenak.


"Kau mengingatkan ku dengan diriku beberapa hari yang lalu" balas Indra.


Indra kemudian memikirkan cara untuk segera memanfaatkan pedang itu, Cheryl adalah penyihir sudah pasti dia kurang cocok diajak berlatih. Indra kemudian teringat dengan para prajurit kastil ini.


Ia lagi-lagi kembali mencari Pelayan Avalance dan bertanya tentang siapa prajurit terkuat di Wilayah Utara. Sang Pelayan segera paham maksud Indra, yaitu latih tanding. Sudah jelas kenapa Indra berniat untuk latih tanding dengan prajurit terkuat di sana, sudah cukup jelas Indra ingin berlatih untuk menggunakan pedang yang dihadiahkan oleh Avalance.


"Saya mengerti, segera saya akan mengatur latih tanding anda dengan beliau" ujar Sang Pelayan.


"Terimakasih, omong-omong siapa namamu? Kau sudah sering membantuku bahkan sejak pertama kali aku menginjakkan kaki disini, setidaknya aku harus tau namamu, jadi siapa namamu?" Tanya Indra.


"Tiana" jawabnya.


Saat matahari terbenam, Tiana kembali mengabari Indra untuk latih tanding melawan prajurit terkuat di Wilayah Selatan.


Kala itu, para prajurit dan pelayan di Kastil Avalance berkumpul untuk menyaksikan latih tanding Indra. Ruang latihan para prajurit dipenuhi oleh banyak orang yang penasaran.


Di tengah ruangan itu sudah berdiri Indra dan musuhnya yang saling berhadapan. Orang itu bertubuh besar dan tinggi. Namun, ia hanya memakai pedang biasa seperti Indra dan menggunakan Armor(zirah besi) di tubuhnya.


"Anda yakin tidak ingin mengenakan armor?" Tanya orang itu.


"Aku tidak butuh jadi, aku tidak memakainya" jawab Indra.


"Anda terlalu meremehkan saya, saya mungkin hanyalah seorang prajurit. Namun, saya adalah yang terkuat" balas orang itu.


"Menarik… siapa namamu?" Tanya Indra.


"Titaz" jawabnya.


Beberapa saat kemudian, hitungan mundur untuk latih tanding itu dimulai. Semua penonton bersorak seperti tidak sabar, itu seolah seperti hiburan penutup hari bagi mereka yang sudah lelah bekerja seharian.


"3… 2… 1… MULAI!!" Ujar Tiana dengan lantang.


Duel itu akhirnya dimulai. Indra sudah pasti menang dalam segala aspek. Namun, ini adalah adu pedang. Indra tidak boleh menggunakan sihir ataupun kepalan tangannya.


Ia maju menerjang Titaz. Namun, Titaz mampu menghindar dengan mudah dan juga memberikan serangan balik, untungnya Indra masih bisa menangkisnya. Itu memberikan celah untuk Titaz menyerang, ia mengayunkan pedangnya terus menerus tanpa henti membuat Indra menjadi sangat kesulitan. Namun, Indra perlahan mulai terbiasa mengayunkan pedangnya untuk menangkis.


Saat Titaz mulai kelelahan dan melamban, Indra segera memanfaatkan kesempatan itu untuk memberikan satu tebasan menggunakan pedang merah itu. Satu tebasan itu cukup kuat untuk menumbangkan Titaz.


Para penonton sangat bersemangat ketika Indra berhasil menumbangkan Titaz dalam satu serangan. Itu seperti membuktikan kelayakan Indra untuk melindungi wilayah itu menggantikan Avalance untuk sementara.


"Sekarang aku paham kenapa Avalance bersikeras untuk memintaku menjaga Wilayah ini" ujar Indra.