
MEMBUAT ANAK ORANG MABUK
Indra dan Cheryl kembali menyewa Kereta Kuda Sihir untuk mencapai Wilayah Barat.
"Lagi? Apa kau yakin ingin seboros ini? Kau sudah menghabiskan lebih dari 20.000 keping emas hanya untuk kesana kemari" ujar Cheryl khawatir.
"Apa boleh buat, ini cara paling cepat" balas Indra.
Setelah mereka memasuki Wilayah Barat, Cheryl mulai merasa kepanasan dan penuh keringat, padahal mereka berdua masih berada di dalam kereta kuda.
"Apa-apaan tempat ini? Terlalu panas" ujar Cheryl mengipas diri dengan tangannya.
"Coba bayangkan kau tidak menggunakan pakaian itu sekarang" ujar Indra yang bahkan tidak berkeringat sedikitpun.
"Aku tidak mau membayangkannya, itu akan membuatku merasa lebih kepanasan" balas Cheryl.
Indra tertawa.
"Tunggulah sampai kau merasakan malam di Wilayah Barat" ujar Indra.
Mereka kemudian sampai di Kota Houstin, Cheryl takjub dengan Kota kumuh itu. Bangunan-bangunan kayu yang rapuh itu memiliki kesan sendiri di matanya. Ia semakin takjub ketika melihat bagian dalam tiap bangunan disana, dari luar mungkin terlihat rapuh. Namun, ketika melihat di dalamnya bantuan itu seperti tempat yang berbeda. Bagian dalam bangunan-bangunan rapuh itu justru terlihat sangat Indah dari dalam.
Seperti yang Indra katakan, banyak orang yang sering berkelahi di jalanan. Cheryl mengira Indra hanya bergurau ketika mengatakan itu. Namun, setelah melihatnya secara langsung, ia kehabisan kata-kata. Tidak sedikit juga yang menghampiri Cheryl untuk menggodanya. Namun, mereka mundur setelah melihat Indra. Mereka menyapa Indra dan berjalan pergi, orang-orang itu sepertinya memang kenal dengan Indra.
"Kau mengenal mereka?" Tanya Cheryl.
"Tidak, mungkin mereka adalah bandit yang dulu pernah kuburu dan kebetulan sudah berubah menjadi lebih baik. Namun, bisa saja mereka adalah juniorku dari Bounty Store. Entahlah" jawab Indra.
Mereka berdua kemudian kembali menelusuri kota itu dan berhenti di sebuah tempat, sebuah kedai lebih tepatnya. Bagian luarnya terlihat rapuh. Namun, tempat itu sepertinya memiliki banyak pengunjung jika dilihat dari luar.
"Tempat ini?" Tanya Cheryl lagi.
"Kau pasti lelah bukan? Ini adalah kedai minuman langgananku. Ayo! Aku traktir" jawab Indra.
Cheryl menyusul Indra yang sudah berjalan masuk, Indra duduk di meja yang berada di depan Sang Bartender. Sang Bartender sepertinya mengenal Indra.
"Indra, sudah lama aku tidak melihatmu. Kau ingin yang biasanya?" Tanya Sang Bartender.
"Kuserahkan kepadamu" jawab Indra.
"Bagaimana denganmu, orang asing?" Tanya Sang Bartender melihat ke arah Cheryl.
"Um… samakan saja dengan Indra" jawab Cheryl.
Sang Bartender mengangguk dan mulai membuatkan minuman mereka.
"Kalian cukup tenang ya? Padahal baru beberapa saat saja setelah serangan para Wyvern" ujar Indra.
"Beliau sudah menanganinya, kudengar Misha dan Miller juga membantunya" balas Sang Bartender sambil mengocok minuman yang sudah ia racik.
Mendengar nama Misha, Cheryl mulai menyimak pembicaraan mereka.
"Jadi 'dia' sudah turun tangan juga? Seharusnya aku tidak perlu khawatir sejak awal" ujar Indra.
"Indra, Misha yang dia maksud itu jangan-jangan…" balas Misha.
"Kau mengenalnya, orang asing? Dia adalah seorang petualang. Kudengar dia berada di peringkat emas, dia juga sahabat Indra sejak kecil. Bahkan sudah bisa dibilang saudara" ujar Sang Bartender menuangkan minuman itu ke sepasang gelas dan menyajikannya kepada mereka.
"Aku merasa tidak kaget lagi" balas Cheryl yang mengangkat gelas itu dan mencoba minuman itu seteguk.
Setelah ia mencicipi minuman itu, mulutnya terasa panas seolah ia hanya meminum alkohol tanpa campuran.
"AH! PANAS!! MINUMAN APA INI?! INI BAGAIKAN MEMINUM ALKOHOL LANGSUNG" ujar Cheryl kesal.
"Hei, berikan dia jus dingin saja. Sepertinya dia tidak kuat minum" ujar Indra kepada Sang Bartender.
Indra mengelus punggung Cheryl yang sedang kepanasan setelah mencicipi minuman itu, wajah Cheryl bahkan memerah saking gerahnya.
"Seharusnya kau tidak perlu mengikutiku" ujar Indra.
"Diam! Seharusnya kau peringatkan aku!!" Balas Cheryl yang wajahnya masih memerah.
Tak lama kemudian, jus itu berhasil dihidangkan. Cheryl segera menghabiskan semuanya. Namun, sepertinya tidak mempan.
"Sial! Masih terasa panas. Minuman macam apa itu tadi!?" Tanya Cheryl.
"Sudah-sudah, sekarang lebih baik kita pulang. Kau sepertinya perlu beristirahat" jawab Indra.
Indra kemudian membawa Cheryl keluar dari kedai itu dan membawanya ke Angel Eyes Saloon. Tempat itu sepertinya sedang tutup dan hanya ada Bella dan yang lainnya di dalam. Indra segera masuk bersama Cheryl.
Sudah ada Bella, Reisth, Misha, dan Miller yang sedang bersantai di sana.
"Hei semua, maaf aku terlambat" ujar Indra memasuki tempat itu.
"Darimana saja kau? Kami juga kesulitan disini, aku harap kau tidak pergi liburan dan bersantai" balas Miller.
"Memangnya ada tempat wisata yang buka di saat seperti ini? Aku meragukannya, lagipula aku juga sibuk membantu Wilayah Utara yang kondisi militernya sedang lemah" ujar Indra.
"Sedang lemah? Bukankah semua pasukan militer Wilayah Utara bergantung pada Avalance?" Tanya Miller.
"Misha, jawab pertanyaannya. Aku lelah berbicara dengannya" ujar Indra mengabaikan pertanyaan Miller.
"Aku tidak bisa menyalahkanmu, dia memang sedikit bodoh" balas Misha.
"Itu sakit… tapi aku masih penasaran soal militer Wilayah Utara yang katanya 'sedang' lemah" ujar Miller.
"Tanpa kemampuan militer yang memadai, Avalance tidak mungkin dapat menyaingi Wilayah Selatan. Walaupun dia adalah seorang Penyihir Agung tetap akan sulit baginya, ditambah lagi musuhnya adalah sesama Penyihir Agung" balas Misha.
"Omong-omong, Indra. Siapa ini?" Tanya Bella menatap Cheryl. Misha yang penasaran ikut menoleh dan melihat Cheryl.
"CHERYL?!" Dengan spontan Misha berdiri dari tempat duduknya dan menghampiri Cheryl.
"Hai Misha. Aku datang untuk mengantarkan Indra. Ini pertama kalinya aku ke Wilayah ini, tempat ini tidak seperti bayanganku. Ini tempat yang buruk" balas Cheryl yang juga spontan memeluk Misha dengan sempoyongan.
Nampaknya efek minuman itu tadi masih belum menghilang.
"INDRA?! Bagaimana bisa kau tiba-tiba mengenalnya. Lalu kenapa kau sempoyongan begini?" Tanya Misha.
"Aku tidak apa-apa, aku hanya perlu sedikit beristirahat" jawab Cheryl.
Tak lama kemudian Cheryl merasa mual dan hampir muntah. Untungnya Misha membawanya keluar tepat waktu. Setelah membawa Cheryl kembali masuk, Misha membaringkan Cheryl di atas sebuah kursi panjang dan menghampiri Indra.
"Indra, apa yang sudah kau lakukan kepada anak orang?" Tanya Misha mengangkat kerah baju Indra.
"Tidak, kau salah paham. Dia hanya salah pesan minuman dan sekarang dia masih mabuk" jawab Indra dengan wajah yang seolah sudah tau apa yang akan terjadi.
"Awas saja kalau kudengar kau melakukan hal-hal yang aneh" ujar Misha.
"Tidak, sungguh" balas Indra.
"Aku sudah panik, kau tau? Indra jangan suka membuat orang lain terkejut" ujar Bella.
"Maaf-maaf, omong-omong dimana si kembar?" Tanya Indra.
"Oh… mereka sedang tidur di atas. Tenang saja, bahkan jika sebuah meteor jatuh tepat di depan kedai ini. Mereka tidak akan bangun" jawab Bella.
Indra akhirnya ikut duduk bersama mereka. Sedangkan Cheryl sudah terlelap di atas kursi panjang di sana.