
INDRA VS MILLER VS MISHA
Di Angel Eyes Saloon, mereka sedang bermain poker saat Indra tiba tidak terkecuali Cheryl. Miller sebagai sang bandar, dia sudah pasti jera setelah kekalahannya kemarin.
Saat Indra beranjak masuk, Miller, Misha, dan Bella menatap Indra seolah melihat orang yang berbeda.
"Ada apa?" Tanya Indra.
"Ada sesuatu yang terasa berbeda darimu" ujar Miller yang melihat Indra dengan seksama.
"Kau terasa seperti orang yang berbeda" ujar Misha juga.
Bella tetap diam dan kembali melihat kartunya.
"Mungkin itu tanda kalau aku sudah lebih kuat dari kalian berdua" balas Indra.
"Oh tidak, Bella mereka akan mulai lagi" ujar Reisth.
"Mereka akan mulai apa?" Tanya Cheryl.
"Kau akan melihatnya sendiri" jawab Bella.
"Pas sekali, tubuhku cukup kaku" ujar Miller.
"Aku tidak akan membiarkan kalian bersenang-senang sendiri" balas Misha.
"Jika kalian membangunkan Rana dan Rani akan kuhajar kalian satu persatu" ujar Bella.
Indra, Miller, dan Misha pergi keluar.
"Ayolah, aku baru saja memiliki kartu yang bagus" ujar Reisth.
Mereka bertiga berdiri dengan jarak yang jauh satu sama lain membentuk segitiga. Indra terlihat tidak membawa pedangnya.
Indra dan Miller menyiapkan sihir mereka, Misha tidak bisa berbuat banyak pada malam hari karena itu ia bergantung pada cahaya dari petir Indra.
"Jangan memaksakan diri, Misha" ujar Miller.
"Jangan meremehkanku, Miller" balas Misha.
Saat mereka berdua sedang berdebat, awan-awan hitam telah memenuhi langit dan melempar sebuah petir kearah mereka berdua. Miller dengan cepat menghindarinya, Misha hanya menghindarinya sedikit dan memanfaatkan cahaya dari petir itu dan menyerang Miller. Serangan itu berhasil mengenai Miller dan hampir menjatuhkannya, saat itu juga entah sejak kapan Indra sudah berdiri dibelakangnya dan memberi tendangan tepat di lehernya membuat Miller terlempar.
Indra juga segera menerjang ke arah Misha bersiap untuk memberikan sebuah pukulan. Misha berhasil menghindar kebelakang Indra dan berniat mendaratkan pukulannya. Namun, petir menyambar kearahnya sebelum berhasil mendaratkan pukulannya, untungnya ia berhasil menghindari petir itu. Tidak ingin melewatkan kesempatan, Misha sekali lagi menggunakan cahaya dari petir Indra untuk menyerang Indra. Tidak seperti Miller, Indra berhasil menghindar ke atas sebuah tebing tak jauh dari tempat mereka bertarung.
Di atas tebing itu, Indra merasakan sesuatu memengang kakinya, sebuah tangan dari bayangan menggenggam kakinya. Itu adalah sihir Miller, tangan itu kemudian melempar Indra kebawah. Indra tidak terjatuh dan tetap berdiri setelah dilempar. Namun, Miller dengan cepat mendaratkan pukulan ke arah Indra membuat Indra terlempar. Miller kemudian membuat serangan berbentuk panah dan menembakkan semuanya ke arah Indra dan Misha. Misha berhasil menghindari beberapa dan Indra tidak menghindar membuatnya terkena semua serangan Miller.
"Sial, ini bukan gayaku" ujar Indra.
Indra kemudian menyambar petir berkali-kali ke arah Miller untuk mencegahnya menggunakan sihir. Namun, disisi lain itu membuka peluang untuk Misha. Untungnya Misha sibuk menyerang Miller yang sedang sibuk menghindari petir Indra.
Indra kemudian melompat keatas tebing dan berdiri tepat di tengah awan-awan hitamnya, Indra lalu mengarahkan telapak tangannya keatas. Saat itu semua awan-awan hitam dilangit itu menurunkan petirnya di setiap sisinya seolah membuat sebuah sangkar dari petir. Petir yang diturunkan awan itu tetap bertahan setelah menyentuh tanah, petir itu tetap bertahan untuk mengurung apapun yang ada di dalam jangkauan awan itu.
"Sejak kapan kau memiliki sihir segila ini?" Tanya Miller.
"Kau tau jika mengurungku dengan sumber cahaya hanya akan menyudutkan dirimu sendiri bukan?" Tanya Misha.
Indra tidak menjawab pertanyaan mereka berdua.
"Kunamai yang satu ini… Thunder Cage" ujar Indra.
Indra menutup jari tangannya dan menarik kepalan tangannya tadi kebawah. Saat itu juga petir disana bergerak menyempit hingga ke tengah.
"Dengan ini kalian tidak akan bisa lari" ujar Indra.
Mereka bertiga sama sekali tidak memikirkan betapa berisiknya mereka bertiga. Saat kurungan petir itu hampir mengenai Angel Eyes yang juga berada dalam jangkauan awan itu, beberapa petir yang akan menabrak tempat itu hilang untuk sejenak dan kembali muncul setelah melewati bangunan itu.
Miller dan Misha kemudian menerjang kearah Indra. Namun, petir Indra menghalangi jalan mereka. Petir Indra menjadi semakin merepotkan ketika tidak ada banyak tempat untuk lari. Thunder Cage pun akhirnya menutup dan akhirnya mengenai Misha dan Miller.
Nampaknya A Sign of a Sin membuat Indra sanggup mempertahankan sihirnya dengan lebih baik. Meskipun A Sign of a Sin juga meningkatkan kemampuan fisiknya. Namun, Indra masih bisa diimbangi oleh Misha dan Miller. Itu membuktikan jika dalam dua tahun ini, Indra sudah kalah jauh dari dua sahabatnya itu. Jika saja Indra tidak memiliki A Sign of a Sin maka Indra sudah pasti bukan tandingan Misha dan Miller.
Itu adalah pertama kalinya Indra menggunakan Thunder Cage, dan setelah menggunakannya Indra melihat hal yang bisa ia lakukan setelah Thunder Cage. Saat Thunder Cage menutup, semua petir itu akan berkumpul di tengah sebelum akhirnya menghilang. Indra berandai, bagaimana jika ia menyerap petir-petir itu ke pedangnya sebelum petir-petir itu menghilang.
"Aku menang" ujar Indra.
"Itu sihir yang gila. Kau bisa dengan mudah menghancurkan sebuah kota, Indra" balas Misha yang terengah-engah.
"Sejak kapan kau mempelajari cara untuk menahan petirmu lebih lama?" Tanya Miller.
"Entahlah. Namun, aku menemukan ide dari sihir itu ketika aku berjalan di pasar dan melihat sebuah sangkar burung" jawab Indra.
Indra mulai sadar jika Miller dan Misha sudah jauh bertambah kuat dalam 2 tahun terakhir. Jika ia menghadapi mereka sebelum ia mendapatkan A Sign of a Sin dia hanya akan menjadi bahan tertawaan. Disisi lain Indra kecewa dengan perkembangannya dalam dua tahun terakhir, ia hanya bisa menang tipis bahkan setelah memiliki A Sign of a Sin. Indra beruntung karena ia bertarung dengan mereka berdua pada malam hari. Jika saja Indra menghadapi Misha pada siang hari dia akan habis bahkan dengan A Sign of a Sin karena Misha jauh lebih pintar dibandingkan Miller. Misha bisa memanfaatkan sihirnya dalam situasi apapun.
"Kalian berdua juga sudah bertambah kuat setelah 2 tahun, aku tidak bisa menang tanpa sihir tadi" ujar Indra.
"Sial, kurasa aku harus membuat teknik baru juga" balas Miller.
"Aku harus berlatih bertarung di kegelapan lebih banyak" ujar Misha.
"Aku bisa membantumu, Misha" balas Miller.
"Terima kasih, Miller" ujar Misha.
Di tengah obrolan mereka, Bella datang ketempat itu..
"Aku punya firasat buruk" ujar Miller.
"Nampaknya kalian sedang bersenang-senang" ujar Bella.
Bella kemudian tersenyum, senyuman itu terlihat menakutkan.
"Sudah kubilang bukan? JANGAN SAMPAI MEMBANGUNKAN RANA DAN RANI!!" Ujar Bella yang kemudian memukul kepala mereka satu persatu.