
PERANG TERSINGKAT DALAM SEJARAH
Thunder Cage milik Indra tanpa disangka mampu membuat dua orang Penyihir Agung menjadi kesulitan untuk menggunakan sihir mereka dengan bebas.
Setelah Thunder Cage tertutup maka pergerakan Ignis akan menjadi lebih leluasa. Ditambah lagi, cepat atau lambat bala bantuan untuk Ignis akan tiba. Namun, Indra memiliki satu jurus yang ia simpan untuk itu.
Indra berdiri di titik tengah Thunder Cage untuk menyerap petir-petir itu dengan Storm Catcher. Sedangkan Ignis dan Avalance sedang beradu sihir satu sama lain.
Sihir Ignis tidak optimal dikarenakan suhu Wilayah Utara yang dingin membuat apinya hampir tidak berdaya, ditambah lagi dengan adanya Thunder Cage maka tidak akan ada bala bantuan yang bisa membantunya. Sebaliknya, Avalance sangat diuntungkan dengan kondisi alam Wilayah Utara dan juga Kutukannya sendiri. Meski begitu, Ignis masih mampu mengimbangi Avalance yang memiliki keunggulan, bahkan Avalance juga terluka parah karena Ignis, walaupun luka Ignis tidak kalah parah.
Ketika Thunder Cage semakin menyempit dan hendak menabrak mereka berdua, mereka dengan sekuat tenaga mencoba menerobos keluar dari Thunder Cage. Meskipun dengan rasa sakit yang luar biasa, mereka berhasil keluar. Namun, Ignis belum bisa tenang karena Petir-petir dari Thunder Cage itu telah terserap kedalam Storm Catcher.
Avalance paham dengan apa yang akan segera dilakukan Indra. Karena itu dia kembali melemparkan dua bilah pedang es ke arah Ignis dan kembali meledakkannya menjadi serpihan es untuk menghalangi pandangan Ignis. Ignis yang kesal dengan itu kemudian membakar serpihan es itu dengan apinya hingga tak bersisa. Namun, apinya justru membuat titik butanya menjadi semakin lebar.
Setelah apinya menghilang, Ignis melihat sosok Indra yang sudah berdiri di depannya dengan memegang pedang yang sudah terisi dengan petir dan ujung pedangnya yang menghadap kebawah.
Indra lalu menebas Ignis dari bawah keatas. Menghempaskan petirnya dan akhirnya petir itu meledak disana dan juga membuat Ignis hampir tumbang. Namun, meski sudah sekuat itu Ignis masih berdiri.
Ignis tertawa sambil menahan rasa sakitnya.
"ITU TIDAK BURUK, INDRA. NAMUN, BELUM CUKUP!!" Teriak Ignis.
"Ya, aku tau itu" ujar Indra yang masih memegang pedangnya.
Petir yang sama besarnya dengan Thunder Cage menyambar Storm Catcher, berbeda dengan Thunder Cage yang dibuat untuk mengurung musuh. Petir kali ini adalah petir besar yang Indra serap kedalam Storm Catcher.
Indra lalu kembali menebas Ignis dari atas kebawah. Serangan itu kembali meledak hingga memecahkan hampir seluruh lapisan es yang puing-puing kastil itu.
Serangan kali ini benar-benar menumbangkan Ignis. Ignis pun akhirnya terjatuh, meskipun masih sadar. Ignis tidak bisa bergerak lagi.
Avalance yang juga sudah terlalu lelah terduduk sambil menahan rasa sakitnya. Sedangkan Indra tidak banyak mendapat luka karena sejak awal ia hanya membantu Avalance yang memang berusaha sekuat tenaga melawan Ignis.
Bahkan Avalance sendiri pun masih kesusahan menahan api Ignis. Tidak hanya melawan Ignis, Avalance juga sekuat tenaga menjaga suhu di sekitar Kastilnya menjadi sedingin mungkin. Agar api Ignis tidak sepanas yang seharusnya, tanpa bantuan Thunder Cage mungkin Avalance tidak mampu menahan Ignis apalagi menumbangkannya.
"Ini belum berakhir, masih ada sebelas ribu pasukan bantuan yang akan datang kemari. Dan mereka tidak akan mundur hanya karena melihat Tuan mereka telah dikalahkan. Dengan sisa pasukanmu kau tidak akan bisa menghindari ini, Avalance" ujar Ignis.
Avalance terdiam sejenak.
"Avalance, berapa keping emas yang akan kau bayar untukku setelah ini?" Tanya Indra memotong.
Avalance dengan cepat memahami maksud Indra.
"Seratus lima puluh ribu. Namun, karena kau berniat menghancurkan kastilku maka akan kuberikan seratus ribu" jawab Avalance.
"Beri aku tiga ratus maka akan kubereskan bala bantuan itu" balas Indra.
"Anak brengsek, dua ratus. Ambil atau tidak sama sekali" ujar Avalance.
Indra berpikir sejenak. Dengan 300.000, dia bisa saja membeli rumah baru. Namun, dia mengingat bahwa dia juga baru saja mendapatkan sebuah Villa yang bahkan belum ia sentuh beberapa saat yang lalu. Jadi, 200.000 sepertinya tidak terlalu buruk.
"Baiklah, deal" balas Indra dengan semangat.
"Aku tidak ingin ada korban lagi dari para pasukan yang datang sebagai bala bantuan. Jika ada satu saja dari mereka yang tewas, maka aku tidak akan membayar sepeserpun" ujar Avalance lagi.
"Tunggu, itu tidak adil!" Balas Indra mengeluh.
Avalance tidak menghiraukan Indra lagi, lalu beberapa saat kemudian Indra menghela nafas.
"Baiklah, akan kuusahakan" ujar Indra.
"Kuserahkan padamu" balas Avalance.
Ignis tertawa meski masih menahan sakit.
"Kau tidak akan bisa melawan mereka tanpa sihirmu tadi. Namun, jika kau menggunakan sihir yang tadi maka mereka akan mati. Bisakah kau melakukannya tanpa sihir pengurung itu tadi?" Tanya Ignis.
"Entahlah, ayah. Ini situasi yang cukup sulit, tapi disisi lain aku menginginkan imbalannya. Jadi… tidak ada salahnya mencoba" jawab Indra.
Matahari perlahan mulai terbit, bersamaan dengan itu dari arah Selatan sekitar 11.000 pasukan bantuan datang untuk membantu Ignis dan para pasukannya yang masih berperang.
Indra dengan cepat mendatangi mereka sebelum para pasukan itu berpencar. Akan sulit bagi Indra untuk menumpas mereka jika mereka sudah terlanjur berpencar. Jika Indra diperbolehkan untuk membunuh mereka maka tidak ada masalah. Namun, Indra tidak diperbolehkan untuk membunuh mereka dan hal itu membuatnya semakin sulit.
Sementara itu, Ignis dan Avalance yang sudah tidak punya tenaga lagi mengobrol ditengah puing-puing Kastil itu.
"Kau terlalu naif, Avalance. Kau memaksa anak itu untuk tidak membunuh lawannya walaupun ia mampu melakukannya dengan mudah" ujar Ignis.
"Aku melakukannya bukan karena belas kasihan, Ignis. Namun, karena mungkin saja pasukanmu akan membantu jika suatu saat Chaos Dragon akan kembali menampakkan dirinya" balas Avalance.
"Tetap saja, hal ini mungkin saja bisa merugikanmu di lain hari. Jika saja anak itu berada di pihak ku maka kau tidak akan menjadi masalah yang besar" ujar Ignis.
"Lalu, apa yang membuat Indra tidak berpihak kepadamu sekarang?" Tanya Avalance.
Ignis terdiam, karena tentu saja alasan yang membuat Indra sekarang ada di pihak Avalance adalah perbuatan Ignis sendiri pada masa lalu.
Indra sedang mengawasi para pasukan bantuan itu dari kejauhan. Setelah menemukan momen yang tepat, Indra segera memanggil awan-awan hitam dilangit dan Indra menggunakan Thunder Extinction. Namun, dengan petir yang lebih lemah.
Ribuan sambaran petir pun satu persatu menyambar tanah dengan cepat. Dalam hitungan detik, seluruh pasukan bantuan itu telah tergeletak tak berdaya di tanah. Sepertinya tidak ada korban dari Thunder Extinction yang diperkecil itu, mereka hanya mengalami luka yang berat dan beberapa sudah pingsan. Indra lega karena tidak ada yang mati. Saat itu jugalah perang tersingkat dalam sejarah Compax selesai begitu saja.