
PRIA TUA YANG MEREPOTKAN
"Jadi sampai saat ini, kau belum mengetahui kutukan milik ayahku?" Indra bertanya.
"Benar…" jawab Avalance.
"Memangnya mahkluk apa Naga Kehancuran itu sebenarnya?" Indra bertanya lagi.
"Naga itu adalah salah satu dari '7 utusan dewa' Chaos namanya" jawab Avalance.
Indra menatap Avalance tidak mengerti.
"Chaos, Pax, Brine, Flamma, Gleam, Ventus, dan Fulgur. Mereka memiliki salah satu dari 7 elemen dasar" ujar Avalance lagi.
7 Utusan adalah makhluk yang keberadaannya sudah dianggap seperti dewa bagi sebagian orang. Ketujuh makhluk itu masing-masing melambangkan satu elemen dasar. Masing-masing dari mereka memiliki tugasnya. Tujuan mereka adalah menyeimbangkan dunia
Chaos, Naga Kehancuran. Ia melambangkan Kegelapan, ia bertugas membawa kehancuran dan kutukan kemanapun ia pergi.
Pax, Pegasus yang membawa kedamaian. Ia melambangkan Cahaya, ia bertugas untuk membawa kedamaian dan membantu mereka yang tertindas.
Brine, Kraken terbesar yang menguasai seluruh lautan. Ia melambangkan Air, ia bertugas mengawasi seluruh penjuru bumi.
Flamma, Phoenix abadi. Ia melambangkan Api, ia tidak memiliki banyak peran. Namun, ia sering memberikan "Anugrah" kepada manusia.
Gleam, Golem yang tangguh. Ia melambangkan tanah atau bumi, ia bertugas untuk merawat hutan dan alam.
Ventus, Sentadu angin. Ia melambangkan angin, tugasnya hanyalah mengatur arah angin. Terkadang ia juga memberikan "Anugrah" kepada para manusia.
Fulgur, Elang yang menguasai langit. Ia melambangkan petir, tugasnya kurang lebih sama dengan Brine. Namun, Fulgur mengawasi dunia dari langit.
"Jadi Naga yang telah memporak-porandakan kota kalian adalah…?" Belum selesai kalimat Indra, Avalance menyeletuknya.
"Ya … Chaoslah yang telah datang memporak-porandakan kota itu, dia juga yang memberi kutukanku ini" ujar Avalance.
Mereka berdua berbincang di tengah Padang salju dimana gunung tinggi berada tepat di depan mereka. Di kanan dan kiri mereka terdapat Pohon Cemara dan Pohon Pinus yang dedaunannya diselimuti oleh putihnya butiran salju. Tepat dibawah gunung itu, kota tujuan mereka berdua berdiri disana.
"Pasti berat bagimu untuk melawan kakakmu sendiri. Orang yang sangat kau hormati dan kagumi dulunya…" ujar Indra.
"Kita sampai" ujar Avalance mengabaikan perkataan Indra.
Setelah memasuki kota itu, rombongan bawahan Avalance menghampiri dan menyambut mereka.
"Apa kau butuh bantuan yang sama seperti teman-temanmu tadi, Indra?" Tanya Avalance.
"Um … mungkin, aku hanya membutuhkan bangunan tertinggi di kota ini, sihirku akan lebih mudah dibidik dari tempat yang tinggi" jawab Indra.
"Baik, segera antarkan dia ke menara paling tinggi kota!" ujar Avalance memerintahkan anak buahnya.
Indra, Miller, dan Misha akhirnya berada di posisi masing-masing tinggal menunggu waktu hingga musuh dari wilayah selatan datang untuk menyerang.
Sementara itu, Avalance sudah lebih dulu pergi ke medan pertempuran utama dimana sebagian besar Pasukan Utara tengah bersiap untuk berperang. Kini Avalance tidak cemas dengan rencana licik pihak selatan
Setelah beberapa lama kemudian, para pasukan selatan mulai berdatangan. Para pasukan pengintai mulai mundur untuk memberitau Avalance dan pasukan yang lainnya.
"Yang Mulia … Yang Mulia! Mereka telah tiba, diluar dugaan mereka membawa jauh lebih banyak pasukan!" Ujar salah satu dari mereka yang segera sujud dihadapan Avalance, walaupun masih terengah-engah.
"Siapa yang memimpin mereka?" Avalance bertanya.
"Hamba tidak begitu tau. Namun, setidaknya itu bukan Penyihir Agung mereka" jawabnya.
"Kalau begitu tidak ada yang perlu dikhawatirkan, kalian boleh pergi" ujar Avalance lagi.
Merekapun pamit dan pergi.
Sementara itu Indra yang sudah siap di posisi masih menunggu mangsanya. Sambil menunggu, ia duduk diatas menara itu sambil menikmati sepotong buah apel yang ia minta dari perbekalan para tentara di kota itu.
"Hm… dimana orang-orang itu? Ini membosankan" ujar Indra dengan dirinya sendiri.
Setelah menghabiskan apelnya, Indra membuangnya kebawah. Namun, seseorang menangkapnya. Orang itu adalah seorang pria tua dengan setelan hitam, top hat dikepalanya, dan sebuah tongkat kayu untuk menopang tubuhnya yang sedikit membungkuk.
"Membuang sampah sembarangan itu tidak baik" ujar Orang itu.
Indra terkejut melihat orang itu, ia sama sekali tidak merasakan kehadiran orang lain dibawah sana.
"Bagaimana mungkin? Aku tidak merasakan siapapun di bawah situ" ujar Indra.
Orang itu tertawa.
"Hahaha, sepertinya kau terlalu meremehkan tugasmu" ujar Pria Tua dengan senyumnya.
Indra segera berdiri lalu melompat kebawah, ia mengira akan ada banyak orang yang datang mengincar kota itu karena itulah dia berencana untuk membidik mereka dari atas. Namun, dia cukup yakin bahwa Orang tua di depannya ini bahkan jauh lebih berbahaya dibandingkan ribuan orang biasa.
"Siapa kau sebenarnya?" Indra bertanya sambil mengambil posisi untuk bersiap bertarung kapan saja.
"Bukankah seharusnya kau juga sudah tau? Namun, untuk menjaga sopan santun, aku akan memberitahumu namaku. Aku adalah Ken, seperti yang kau tau aku adalah utusan dari Wilayah Selatan" jawab Pria tua itu.
Langit mulai gelap ditutupi awan-awan hitam. Indra menggunakan petirnya dan petir itu tepat mengenai Pria tua itu hingga terhempas dan menghancurkan sebuah bangunan disana.
"Tidak buruk, tapi belum cukup untuk menghadapiku" ujar Ken sambil menepuk-nepuk pakaiannya yang kotor.
Awalnya Indra berniat menyangkal perkataan Ken karena petir itu hanya petir kecil untuk mengetes kemampuan Ken. Namun, Indra mengira itu kesempatan yang bagus untuknya karena lawannya sudah meremehkannya dan dia akan lebih mudah memberikan serangan kejutan.
Namun, itu tidak semudah perkiraan Indra. Pria tua itu bergerak jauh lebih lincah dari yang seharusnya. Kelincahan dan kecepatannya tidak terlihat cocok dengan umurnya yang sepertinya sudah hampir satu abad.
Indra kesusahan menangkis serangan cepat dari Ken, untungnya ia masih bisa mengimbanginya walaupun ia tidak mendapatkan kesempatan untuk menyerang balik.
Ken sepertinya menggunakan sebuah sihir untuk mempercepat gerakannya. Indra mulai kelelahan setelah lama menangkis serangan Ken, karena itu ia mulai melamban dan akhirnya Ken berhasil mendaratkan satu pukulan tepat di dada Indra.
Topinya melayang lalu jatuh ketanah.
Pukulan itu menghempaskannya cukup jauh hingga berhenti setelah menabrak dan menghancurkan sebuah tembok.
"Sialan, pria tua itu jauh lebih merepotkan dari yang kukira" ujar Indra sambil kesusahan berdiri.
Di depannya, Ken sudah berdiri disana.
"Ada apa Pak tua? Sudah mulai encok?" Indra mengejeknya.
Ken kemudian kembali melesat maju ke arah Indra, kali ini Indra tidak sempat menangkisnya. Membuat pukulan kedua Ken mendarat tepat di perut Indra. Membuat Indra kembali terhempas.
Pukulan demi pukulan diterima Indra. Namun, ia masih kuat berdiri. Orang-orang di sekitar kini berlarian pergi menjauhi pertempuran Indra dan Ken.
Sebagian kota itu hancur karena pertempuran mereka, puing-puingnya segera tertutup oleh butiran salju. Indra masih belum mendapat kesempatan menyerang balik.
Sangat sulit untuk mengincar Ken yang bergerak lincah dengan petir. Karena itu Indra masih berpikir untuk cara lain. Namun, sulit baginya untuk berpikir jernih sambil menangkis dan menerima serangan Ken.
"Kau lebih tangguh dari yang kukira, baiklah kalau begitu akan ku tunjukkan kekuatanku yang sebenarnya" ujar Ken.
Menggunakan sihirnya, ia mengangkat seluruh puing-puing bangunan kota itu dan melemparkannya satu persatu ke arah Indra.
Akhirnya terungkap bahwa sihir Ken adalah telekinesis. Ia menggerakkan tubuhnya dan telekinesisnya untuk menambah kecepatan gerakannya, agar ia mampu bergerak lebih cepat dan lincah.
Puing-puing itu melesat cepat kearah Indra dan segera menghantamnya. Indra kembali terhempas. Namun, kali ini puing-puing itu menghantamnya bertubi-tubi bahkan sebelum ia sempat berdiri. Indra belum kunjung berdiri, membuat Ken penasaran dan perlahan menghampirinya.
Karena penasarannya itu Ken menjadi sedikit lengah. Itu memberikan kesempatan besar untuk Indra. Indra menggunakan petirnya yang ratusan kali lebih kuat dari sebelumnya.
Kali ini petir itu mengenai Ken dengan telak karena kelengahannya itu. Ken terjongkok setelah terkena serangan itu. Namun, ia masih sadar. Menyadari itu, Indra segera menerjangnya dan memukulnya tepat di wajah. Membuatnya terjatuh ke tanah dan akhirnya tumbang.
"Akhirnya" ujar Indra yang masih terengah-engah.
Indra kemudian berjalan menghampiri topinya yang terjatuh tadi dan segera memakainya lagi.
Dengan seutas tali yang ia temukan di puing-puing bangunan yang hancur, ia mengikat Ken.
Indra juga mengetahui bahwa semua pasukan yang bertugas membantunya ternyata sudah lebih dulu ditumbangkan oleh Ken.
"Entah mengapa, setelah merasakan sihirmu tadi… aku merasa kau mirip dengan seseorang" ujar Ken yang masih setengah sadar.
"Seseorang yang kau maksud adalah Ignis bukan? Tentu saja kami sedikit mirip" balas Indra.
"Bagaimana kau tau?" Tanya Ken.
"Ignis adalah ayahku, meskipun sepertinya dia belum tau bahwa aku masih hidup" jawab Indra.
Ken terlihat terkejut dan kehabisan kata-kata.
Indra kemudian mencoba untuk menyadarkan para pasukan utara yang sedang pingsan. Setelah beberapa dari mereka sadar, ia segera menyerahkan Ken kepada mereka.
Lalu Indra pergi kembali ke menara tempat ia berjaga tadinya untuk menunggu kabar dari Avalance. Indra bertanya-tanya apakah Miller dan Misha baik-baik saja? Ia tidak tau. Namun, ia percaya dengan kedua temannya itu.
Tak lama kemudian rombongan Misha dan Miller tiba di kota itu bersama beberapa pasukan wilayah utara.
Indra turun dari menara itu dan menghampiri mereka. Melihat kondisi Indra yang babak belur, Miller tertawa terbahak bahak.
"Hahaha!! Orang seperti apa yang sudah menghajarmu Indra?" Tanya Miller sambil tertawa.
"Hanya seorang kakek tua yang aneh" jawab Indra.
"Kau dihajar oleh seorang pria tua? Menyedihkan, Hahaha" balas Miller yang malah tertawa lebih nyaring.
"Kau tidak apa-apa, Indra? Lukamu terlihat cukup parah" ujar Misha.
"Ah … tidak-tidak, kalau hanya seperti ini aku tidak apa-apa" balas Indra.
"Omong-omong, orang seperti apa yang kalian hadapi?" Indra bertanya.
"Itu sangat membosankan! Aku menghadapi 5 orang ini sekaligus dan mereka tidak memenuhi ekspektasiku" jawab Miller.
"Itu cukup merepotkan bagiku. Aku melawan 15 orang dan hal yang membuatnya sedikit merepotkan adalah mereka yang selalu memisah dan sulit untuk ditangkap" jawab Misha.
"Dan aku hanya menghadapi seorang pria tua yang sangat merepotkan" ujar Indra mengeluh.
Tak lama kemudian, Avalance datang sendirian ke kota itu. Sepertinya ia membawa sebuah kabar baik.