
"Kubiarkan saja dia dulu, lebih baik aku segera menyelesaikan tujuanku ke sini. Mulai sekarang aku akan mengawasinya, bagaimanapun juga dia adalah putra sulungku" ujar Ignis berjalan pergi.
Hampir 40 menit Indra dan Miller disana tak sadarkan diri sampai akhirnya Misha tiba di sana. Misha tidak dapat menyangka bahwa dua orang itu bisa berakhir semenyedihkan itu.
Belum pernah ia melihat Indra ataupun Miller berakhir seperti itu setelah pertarungan.
Indra terbangun dan terbaring di sebuah kasur yang rasanya tidak asing.
"Kau sudah bangun ya…? Seperti biasanya kau selalu merepotkanku" Ujar seorang dokter yang sedang duduk di sana menjaga Indra.
"Anna? Sudah lama ya sejak kita terakhir bertemu. Oh… jadi aku sedang di klinikmu? Baguslah, aku bisa pulang lebih cepat" balas Indra.
"Tidak, kau harus beristirahat cukup!! Kau tidak tau bahwa kau sudah pingsan selama 5 hari! Kalau kau tambah sakit kan aku yang repot" ujar Anna lagi.
"Omong-omong, Indra. Sejak kapan mereka berdua sedekat itu?" Lanjut Anna sambil menunjuk kasur yang berada disamping kasur Indra.
Indra menoleh ke arah itu dan melihat Miller yang belum sadar dan Misha yang juga tertidur di atas kasur itu.
"Entahlah" balas Indra.
"Tapi sihir penyembuh milikmu cukup hebat. Tidak salah aku berlangganan di sini" lanjut Indra.
"Ti-tidak juga! Kau terlalu melebih-lebihkan!" Ujar Anna yang wajahnya sedikit memerah.
Indra menghabiskan malamnya di klinik Anna sebelum akhirnya dia diijinkan pulang oleh Anna.
Di pagi harinya Anna membawakan Indra segelas obat untuk diminum.
"Terimakasih, Dr. Ox. Ah… sudah kuduga terdengar aneh" ujar Indra.
"Kenapa tiba-tiba memanggil ku begitu?" Tanya Anna.
"Bukankah kau yang tidak suka dipanggil 'Anna'? Oh iya… nama panjangmu kan kalau tidak salah… Oxianna, agak aneh menyebutnya Ox ataupun Ian lebih baik Anna kan? Makanya aku selalu memanggil mu Anna" jawab Indra.
"Kau sudah boleh keluar pagi ini, apa kau akan keluar? Heh, kurasa aku tau pasti jawabannya" ujar Anna.
"Itu benar, aku akan segera pergi. Terimakasih, Anna. Oh iya, bilang ke mereka berdua aku sudah duluan ya!" Ujar Indra sambil berjalan keluar.
Anna melambaikan tangannya kepada Indra.
Indra akhirnya kembali melihat suasana kota Houstin, sudah berbulan-bulan ia tidak kesana lagi. Meski hanya beberapa bulan ia sangat merindukan suasananya.
"Necromancer ya? Hm… mungkin saja Opstann mengetahuinya, dia kan seorang tengkorak hidup mungkin saja dia mengetahui sesuatu" ujar Indra berbicara sendiri.
Indra berniat kembali ke Wilayah Timur untuk menemui Opstann. Namun, dia juga tidak mau merepotkan dua sahabatnya itu lagi. Ia singgah ke Angel Eyes Saloon untuk berpamitan dengan Bella, Reisth, dan Rana Rani.
Ia menyewa kereta kuda biasa untuk menuju ke Timur. Malam sudah tiba dan Indra baru saja sampai ke Lunar. Ia terlalu lelah. Namun, ia ingin segera mencari informasi karena itu a segera pergi ke Bounty Store untuk menemui Opstann.
"Guru!! Akhirnya kau kembali!" Ujar Seorang gadis menyambut Indra di dalam Bounty Store.
"Linda… kupikir kau bahkan tidak datang" ujar Indra.
"Aku bahkan sudah menunggu berhari-hari. Saking bosannya aku sudah menjadi salah satu Bounty Hunter" balas Linda.
"Oh… menarik. Apa kau sudah menguasai hal yang kusuruh kemarin?" Tanya Indra.
"Tidak, besok saja. Aku ada urusan mendadak dengan seorang tengkorak disana" ujar Indra.
Indra meninggalkan Linda dan segera mendatangi Opstann yang sedang duduk bersantai sendiri.
"Opstann… apa yang kau ketahui tentang Necromancy?" Tanya Indra.
"Kenapa tiba-tiba? Aku tidak mengerti dengan maskud pertanyaan mu ini" Opstann menjawab dengan suara rendah dan serak miliknya.
"Aku punya urusan yang belum terselesaikan dengan seorang Necromancer yang baru-baru ini kutemui" ujar Indra.
"Aku paham… kau mencari informasi ini karena kau kesulitan menghadapi pasukan zombie yang tidak bisa mati bukan?" Balas Opstann.
"Kau benar" ujar Indra.
"Baiklah. Kebetulan aku adalah seorang Necrosummoner, jadi aku bisa membantumu sedikit" balas Opstann.
"Necrosummoner? Apa bedanya dengan Necromancer atau Summoner pada umumnya?" Tanya Indra lagi.
"Necromancer harus menggunakan mayat untuk menggunakan sihirnya, bagi yang mungkin sudah hebat bahkan tulangnya juga bisa digunakan. Namun, Necrosummoner tidak perlu menggunakan mayat untuk membangkitkan sebuah jiwa. Namun, hanya jiwa yang hilang atau bisa juga jiwa yang memilik kontrak dengan sang Necrosummoner" jawab Opstann.
"Tenang saja, aku hanya memanggil jiwa-jiwa yang hilang. Mereka adalah jiwa terkutuk yang tidak memiliki jati diri, jiwa-jiwa yang tidak dapat mencapai akhirat" lanjut Opstann.
"Lalu bagaimana maksudmu dengan jiwa yang memiliki kontrak?" Indra lagi-lagi bertanya.
"Kau banyak tanya juga… jiwa dengan kontrak adalah jiwa yang membuat kontrak Necrosummoner untuk memanggil mereka setelah mati, kontrak ini harus dibuat sebelum kematian. Jiwa dengan kontrak ini hanya bisa dipanggil sekali" jawab Opstann.
"Sekarang untuk menjawab informasi yang kau perlukan… zombie yang dihidupkan boleh necromancer mungkin memang tidak bisa dibunuh. Namun, ada beberapa cara untuk melawannya, yaitu dengan cara menghabisi penggunanya, jika itu terlalu sulit cobalah untuk setidaknya melukai sang pengguna, itu akan melemahkan zombienya. Sayangnya hanya itu yang bisa dilakukan untuk melawan necromancer karena memang tidak ada cara lain untuk menghadapi zombie abadi itu" lanjut Opstann.
Indra menghela nafas. Menyentuh orang itu saja dia tidak bisa, apalagi mengalahkannya.
Indra mencoba untuk berpikir sambil mencoba untuk melihat-lihat poster buronan rank S.
"Indra … Ini jaketmu, um… terimakasih" ujar Aurora menghampiri Indra sambil tersenyum.
"Eh? Kau sampai mencucinya juga? Harusnya biarkan saja" balas Indra.
"Tidak apa-apa, omong-omong bagaimana pekerjaan dari orang aneh kemarin?" Tanya Aurora.
"Setidaknya berjalan lancar. Namun, aku sendiri baru tau bahwa dia adalah pamanku" jawab Indra sambil kembali memasang jaket kulit coklat kesayangannya itu.
Aurora terlihat terkejut mendengarnya.
Indra tidak menemukan poster yang menarik disana, dia kemudian pamit kepada Aurora dan pergi dia juga berpesan kepada Linda untuk menemuinya besok di tempat latihannya kemarin.
Indra menghela nafas kecewa.
"Kalau hanya memburu orang-orang jahat tidak bisa membantuku untuk lebih kuat. Melawan manusia tidak akan mengajarkan hal baru untuk ku. Mungkin memang bisa membuatku menjadi lebih paham dengan sifat manusia. Namun, akan sulit untuk berkembang. Seandainya aku melawan monster-monster yang cara hidupnya sudah pasti berbeda dengan manusia, mungkin aku akan mempelajari hal yang baru" ujar Indra berbicara sendiri saat berjalan pulang.
"Oh! Itu dia! Aku hanya perlu melawan monster-monster! Berarti aku akan coba untuk menjadi seorang petualang seperti Misha. Setidaknya untuk sementara waktu sampai aku bisa sedikit lebih kuat. Monter… orang itu sudah diluar nalar, dia mengalahkanku seperti itu makanannya setiap hari" lanjut Indra.
Indra akhirnya sampai ke penginapannya dan tanpa menunggu lagi, ia segera masuk untuk beristirahat.